Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Didoktrin dan Dilarang Keras, Putri Pendeta Tetap Mantap Jadi Mualaf

Topswara.com -- Hidayah Allah berikan kapan saja, kepada siapa saja yang Allah kehendaki, tanpa ada seorang pun bisa menghalaunya. Seperti yang terjadi pada Claudia Theresia. Terlahir di lingkungan keluarga non-Muslim yang taat, tidak menghalangi hidayah Allah untuk Claudia. Sekalipun didoktrin agar tidak memeluk Islam, Claudia tetap mempelajari Islam. Sekalipun dilarang keras, Claudia tetap mantap bersyahadat.

"Saya terlahir dari keluarga non-Muslim. Dan keluarga saya, tuh, agamanya kuat banget,” tuturnya, dikutip dari kanal Youtube Ngaji Cerdas, Rabu (23/3/2022).

Tertarik Islam sejak TK

Meski ayahnya seorang pendeta, siapa sangka, ibu muda ini sebenarnya telah tertarik dengan Islam sejak masih di usia Taman Kanak-Kanak (TK). 

Itu semua bermula dari neneknya, satu-satunya keluarga Claudia yang memeluk Islam. Tak seorang pun dari keluarga, kecuali Claudia mengetahui jika Nenek seorang Muslimah.

Sejak kecil hingga remaja Claudia tinggal bersama Nenek di Kota Surabaya. Dari neneklah Claudia mengenal Islam hingga tertarik ingin memeluk Islam. Sejak Claudia kecil, Nenek mengenalkan tentang Islam, mengajarinya mengaji dan cara berwudhu hingga tumbuh ketertarikannya pada Islam. Semua itu terjadi tanpa sepengetahuan keluarga.

Lambat laun, Claudia merasa kurang sreg dengan agama yang sedang dianutnya. Namun, ia tidak bisa mengutarakannya, terlebih ayahnya seorang tokoh agama. “Bapak saya seorang gembala. Tapi saya di Kristen itu kayak kurang sreg," gumam Claudia. "Cuman sebagai anak pendeta, ya, mau nggak mau saya ngikuti itu (Kristen),” lanjutnya.

Keingingan Claudia untuk memeluk Islam pun makin kuat. Hanya saja, ia masih harus memendam keinginan itu karena orang tuanya terus menanamkan agar tidak pindah agama. "Jangan! Jangan!” kata orang tuanya mewanti-wanti sejak dini.

Atas keinginan itu, batin Claudia berkecamuk. Banyak pertanyaan menggelayuti pikirannya kala itu. “Ya Tuhan, apa saya harus meninggalkan ini semua atau bagaimana? Kalau saya masuk Islam, gimana keluarga saya? Kalau saya berpindah keyakinan, bukan karena pasangan, lingkungan atau keadaan, tapi karena saya sendiri, karena kemauan saya sendiri, bagaimana keluarga saya?” batin Claudia.

Gejolak di benak Claudia itu seolah mendapatkan jawaban ketika sang nenek mengucapkan harapan terakhirnya. Sebelum neneknya meninggal, ia pernah mengatakan kepada Claudia, “Saya pengen lihat kamu pakai hijab. Saya pengen lihat kamu hijrah.” 

Mendengar ucapan nenek saat itu, hati kecil Claudia langsung mengatakan, “Ya Allah, kalau ini memang jalannya, saya siap. Apa pun konsekuensinya, saya siap.”  

Didoktrin dan Diancam

Setelah lulus SMA, Claudia pindah dari Surabaya ke Jakarta untuk tinggal bersama ayah dan ibu tirinya. Sampai saat itu pun, orang tua Claudia tidak mengetahui jika neneknya itu seorang Muslimah. 

Tinggal bersama orang tuanya, Claudia merasa didoktrin agar tidak masuk Islam. “Kamu nggak boleh masuk Islam! Kamu nggak boleh masuk Islam,” ujar orang tua Claudia. 

Namun, dontrin itu tetap tidak mampu membendung keingintahuan dan kecintaan Claudia pada Islam. Secara diam-diam, Claudia tetap mempelajari Islam. “Semakin saya didoktrin, semakin hati saya itu nggak bisa nerima,” ujarnya.

Caludia ingin berontak, tetapi tidak bisa. Mau tidak mau, dia mengikuti perkataan orang tuanya. Akan tetapi, Claudia tetap memperlajari Islam. Seolah tak kehabisan akal, dia mencari tahu tentang Islam melalui internet. Tanpa sepengetahuan orang tua, di saat-saat semua penghuni rumah sudah terlelap, diam-diam dengan menggunakan head set, Claudia menyimak penyampaian dakwah Islam yang tersiar di YouTube. 

Sampai suatu waktu, saat di lokasi syuting, Claudia bertemu dengan Albert, pria yang kini menjadi suaminya. 

Claudia dikenal Albert ramah sehingga mereka kerap diskusi. Suatu ketika mereka berdiskusi tentang Islam. Claudia mencari tahu pendapat Albert tentang Islam dan ketertarikannya terhadap Islam. Tak disangka, ternyata keduanya punya keinginan yang sama.

“Jujur aku sebenarnya mau masuk Islam,” kata Albert. 

“Nah, jujur aku juga sebenarnya mau masuk Islam,” sambut Claudia. 

Kemudian, Albert mengutarakan keinginan dirinya dan Claudia untuk memeluk Islam itu kepada ibu dan nenek Albert. Saat itu ibu dan nenek Albert juga belum memeluk Islam. Namun, sikap keduanya membuat Albert terkejut. Bukan hanya menyetujui, mereka berdua bahkan mencari mualaf center, hingga akhirnya menemukan MCI (Mualaf Center Indonesia). 

Ibu dan nenek Albert pun mengantarkan mereka berdua ke MCI. Bertepatan dengan hari pertama puasa Ramadhan, April 2019, keduanya mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, keduanya masih menyembunyikan peristiwa ini dari orang tua Claudia. 

Orang tua Claudia telah mengenal Albert. Mengetahui niat baik Albert hendak mempersunting Claudia, mulanya orang tua Claudia sangat setuju, terlebih mereka satu keyakinan. Albert pun seolah menjadi calon menantu idaman. Namun, pandangan orang tua Claudia itu berubah 180 derajat setelah mengetahui Albert dan putrinya sudah bersyahadat. Diakui Claudia, keluarganya memang strenght dan seolah alergi mendengar kata Islam.

Claudia sedih. Orang tuanya kecewa mengetahui Claudia telah memeluk agama yang selama ini mereka larang. Pendeta itu bahkan mengira Albert telah sengaja berpura-pura mendekati Claudia semata untuk mengislamkan putrinya. 

Albert berusaha bersabar menghadapi sangkaan itu. Dia dan Claudia tetap teguh memeluk Islam. Sebab, bagi keduanya, saat ini mereka telah mengetahui dan mengikuti kebenaran. “Kami mengikuti yang paling benar, yang paling lengkap, dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, Islam-lah yang paling lengkap ajarannya, terperinci, jelas,” ungkap Albert.

Orang tua Claudia bergeming. Mereka tetap menginginkan putrinya dan Albert kembali pada agamanya semula. Mereka meminta Albert untuk baptis ulang. Jika mau, Albert akan diberi hadiah yang secara materi jumlahnya lumayan, juga pekerjaan dan jabatan.

Akan tetapi, upaya itu gagal. Albert dan Claudia tidak tergoda tawaran orang tua Claudia. Keduanya telah bertekad, apa pun risikonya, apa pun iming-imingnya, mereka tetap istiqomah dalam Islam. Tak pelak, Claudia mesti keluar dari rumahnya karena mendapat tekanan dari orang tuanya.

“Selama kamu belum lepas hijab, selama kamu belum kembali lagi ke Kristen, selamanya kamu bukan anak,” ancam orang tua Claudia.

Albert menceritakan kejadian itu kepada ibunya. Mereka kemudian mengungsikan Claudia di sebuah tempat kost syariah agar aman. Bersama ibu kost, di sana Claudia belajar mengaji. 

Dalam waktu singkat, total tiga bulan waktu perkenalan, Albert menghalalkan hubungannya dengan Claudia dalam ikatan pernikahan. Mereka menikah di Kantor Urusan Agama (KUA).

Kini, hingga Caludia telah menjadi ibu, hingga ia kisahkan perjalanannya menjemput hidayah Allah itu di kanal Ngaji Cerdas, orang tuanya masih belum mau menerimanya. “Saya enggak minta yang banyak-banyak, saya cuma minta suatu hari nanti, mereka juga memeluk agama Islam, mendapatkan hidayah dari Allah. Itu aja. Dan bisa menerima saya sebagai anak secara utuh. Itu impian saya. Pengen lihat mama masuk Islam, pengen lihat mama pakai hijab,” harapnya.[]  Saptaningtyas
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar