Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kekayaan Negeri Muslim Terkikis oleh Krisis


Topswara.com -- Lagi, negeri umat Muslim mengalami krisis. Sang Virgin lands (sebutan kazakhstan) menjadi membara karena kerusuhan yang terjadi akibat demo penurunan harga LPG yang merembet ke tuntutan lain. Banyak rakyat yang harus meregang nyawa sebagai buntut demo mereka pada pemerintah.

Dilansir dari CNN Indonesia +09/01/2022), sebanyak 164 orang tewas dalam kerusuhan yang terjadi dalam sepekan terakhir. Selain itu, sekitar 5.800 orang ditahan kepolisian selama protes yang berujung bentrok tersebut.

Sebagai negeri yang kaya minyak, hal ini seolah menjadi ladang empuk oleh negeri kafir untuk berburu sumber daya alam (SDA). Dilansir dari Republika (06/01/2022) Pemerintah Rusia menyerukan dialog guna penanganan krisis di Kazakhstan. Selain itu, Cina juga menawarkan diri untuk mengirim pasukan keamanan ke Kazkhstan (CNBC Indonesia, 10/01/2022). 

Hal ini kemudian membuat kita bertanya-tanya, mengapa kedua negara ini seolah menjadi juru selamat bagi konflik di Kazakhstan? Padahal, mereka diam dan tak acuh ketika konflik terjadi di negeri lain, seperti Myanmar dalam kasus Rohingya, atau Uyghur dalam negeri hina. Mengapa sikap kedua negara ini begitu berbeda pada konflik yang hampir serupa?
Hal ini tentu saja karena potensi yang ada di negeri Muslim. 

Allah SWT melebihkan negeri Muslim dengan berbagai potensi alam yang melimpah, salah satunya adalah melimpahnya minyak di negeri Muslim. Irak dan Afghanistan adalah contoh lain bagaimana negeri yang kaya harus miskin rakyatnya karena konflik buatan negara Barat yang tiada hentinya.

Irak memiliki cadangan minyak sebesar 143,1 miliar barel atau delapan kali lipat dari jumlah cadangan Amerika Serikat. Sedangkan Afghanistan memiliki caddangan deposit mineral sebesar $ 1 triliun dan minyak 1,8 miliar barel (dailymail, 15/06/2010).

Maka, wajar bila negeri-negeri Muslim jadi bahan rebutan oleh negara Barat yang minim akan SDA. Sayangnya, potensi yang luar biasa ini selalu menjadi alasan umat Islam terjajah oleh negara kafir orang kafir yang tamak senantiasa menciptakan konflik-konflik di negeri Muslim agar mereka dengan leluasa mampu mengeruk segala potensi kekayaan yang ada. 

Umat menjadi miskin karena sibuk bertengkar karena konflik, penjajah kafir tertawa riang diantara tumpukan uang karena rampasan kekayaan alam mereka. Sungguh, fenomena yang miris dan menyayat hati. 

Yang lebih menyedihkannya lagi, hampir seluruh umat Islam belum paham akar permasalahan yang mereka hadapi. Mereka hanya sibuk berkonflik dan memandang negara Barat sebagai penyelamat. Mereka seolah lupa bahwa Islam yang mereka peluk adalah mabda yang melahirkan peraturan. Di mana peraturan yang ada sejatinya adalah pengaturan yang paling baik karena berasal dari Allah Sang Pencipta. 

Negeri Muslim saat ini seolah kehilangan taring mereka tanpa keberadaan khilafah sebagai perisai umat. Perisai yang memiliki kekokohan dalam pengaturan negaranya sehingga khilafah tidak menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan negara-negara kafir yang berpotensi menanam konflik dalam negeri.

Dalam Islam, penguasaan SDA sepenuhnya berada di tangan negara. Rasulullah bersabda, “Kaum muslim bersekutu dalam tiga hal; air, padang dan api” (HR Abu Dawud). Pengelolaan minyak juga sudah dicontohkan sejak masa kejayaan khilafah jauh sebelum masa modern sekarang. Sebagai komoditas yang sangat penting untuk keperluan militer dan ekonomi umat, khilafah melakukan pengelolaan mandiri guna kemakmuran rakyat.

Pada masa Khalifah al-Mu’tamid ‘Alailah (870-892), telah dibuka  ladang minyak bumi yang beroperasi sejak 885M di Baku. Bahkan, pda abad ke-13 Marco Polo ratusan kapal mengambil minyak di Baku pada waktu itu. 

Bukan hanya itu, produksi minyak mentah juga terdapat di tepi tepi timur sungai Tigris hingga sepanjang jalan menuju Mosul, di Sinai Mesir dan Khuzistan di Iran. Minyak mentah tersebut tidak hanya disuling untuk keperluan sumber energi tetapi juga diolah menjadi aspal dan berbagai produk turunan lainnya (dikutip dari Muslim Heritage).

Itu hanya secuil kisah bagaimana digdayanya khilafah di masa lampau. Sungguh, apabila seluruh negeri Islam mau untuk benar-benar menengok dan memperlajari agamanya sendiri, mereka akan mampu berjaya dan menghalau pengaruh permainan negara kafir dengan mudah

Wallahu a'lam bishawwab


Oleh: Riska Amilia
(Sahabat Topswara)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar