Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Tawadhu Bukti Cinta Pada Allah


Topswara.com -- Allah menciptakan manusia dengan sempurna, bila dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya. Allah memberikan akal agar manusia memilki kemuliaan di mata-Nya dalam menghadapi proses kehidupan dunia yaitu dengan mengandalkan akal dan hukum syara sesuai yang diperintahkan Allah kepada hamba-Nya.

Gharizah baqa, merupakan salah satu naluri yang memang Allah sematkan kepada manusia. Untuk digunakan, semata-mata untuk beribadah pada Allah SWT di dalam kehidupan dunia. Dengan tujuan akhir akhirat yang dijanjikan, yaitu surga terbaik bagi hamba-Nya. Namun, jalan ke surga tidaklah mudah prosesnya karena hanya orang-orang yang bertakwalah yang mampu mencapai surga Allah dengan rida-Nya. 

Sebagai manusia yang bertakwa, salah satunya adalah menjadi seorang Muslim yang tawadhu. Ini merupakan perilaku manusia yang memiliki watak rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh atau dengan kata lain manusia yang merendahkan hati kepada sesama manusia dan senantiasa tunduk pada Allah SWT. 

Maka, untuk menjadi seorang Muslim yang tawadhu, perlu mengetahui ciri dari tawadhu itu sendiri. Karena seorang Muslim tidak akan mampu berada dalam ketaatan dan meraih surga-Nya jika tidak mempelajari dan mengetahui apa-apa dari sifat tawadhu tersebut. 

Sifat-sifat tawadhu yang perlu diketahui seorang Muslim, antara lain; Lebih senang tidak dikenal daridapa dikenal. Bersedia menerima kebenaran dari siapapun. Gemar menolong. Mencintai fakir miskin dan tidak segan bergaul bersama. Pandai berterima kasih, meminta maaf, dan memaafkan. Tidak berlebihan, baik dalam perhiasan, makanan, dan minuman. Merendahkan nada suaranya. Selalu memandang rendah dirinya. Merasa sama saat dihina dan dipuji, tetap pendirian. Tidak merasa sebagai orang yang punya kedudukan. Tidak memghemdaki kedudukan. Sopan santun dalam berbicara dan bersikap. Tidak merasa tawadhu 

Dapatlah kita ambil cerminan dari sekian kisah dan contoh setiap perbuatan yang berkaitan engan tawadhu pada diri manusia. Mengingatkan bahwa manusia tidak boleh sombong, angkuh apalagi merasa lebih baik dari siapapun. 

Pada dasarnya manusia itu lemah, sedangkan Allah Maha Kuat. Menahan beban ringan yang lama sekalipun maka ia akan tumbang juga, goyang dan akhirnya jatuh. Karena itulah sifat manusia yang lemah dan tidak berdaya. Sejatinya, hanya Allah yang Maha Kuat, manusia hanya diberi kekuatan atas kehendak-Nya, tanpa itu, manusia tidak ada apa-apanya. 

Lihatlah bagaimana para sahabat dahulu. Mereka adalah orang-orang yang senang dinasihati, selalu merasa menjadi orang yang munafik, selalu memandang rendah dirinya, tidak pernah menyerang balik jika disakiti, jika tidak sampai mengancam nyawanya. Karena mereka merasa, dirinya belum tentu lebih baik dari orang-orang yang menghinanya sekalipun. Itulah sifat tawadhu para sahabat mulia. Sungguh luar biasa. 

Begitupun kedudukan seseorang untuk mengenalkan manusia kepada Allah. Jika manusia memiliki kedudukan untuk merasa dihormati sesama, dan marah bila tidak dihormati, maka sesungguhnya manusia itu lemah. Bahwasanya orang yang tawadhu itu kedudukannya akan terus dinaikkan derajatnya oleh Allah SWT, dan terus akan naik jika ia senantiasa tawadhu. Sebaliknya, Allah akan menjatuhkan derajat seseorang, yaitu terus turun pada tingkatan terendah jika selalu menjadi orang-orang yang sombong untuk kepuasan dirinya sendiri. 

Bolehlah kita menjadi seorang yang baper (terbawa perasaan) namun ditempatkan pada fungsinya. Baper pada Islam dan ajaran Rasul SAW adalah baper yang seharusnya. Menangis dan memohon kepada Sang Pencipta adalah keharusan, agar Allah mendengar doa orang-orang yang tawadhu. Dengan bersujud yaitu merendahkan diri kepada Allah, serta memohon ampunan-Nya. Membersihkan diri dari segala dosa. Serta menyerahkan seluruh kesulitan dirinya hanya kepada Allah, yaitu melepaskan diri dari kesusahan akibat segala kezaliman diri. 

Inilah petunjuk Allah bagi orang-orang tawadhu. Mereka senantiasa mengawali hari dengan bermuhasabah, baik kepada diri sendiri maupun sesamanya. Saling membebaskan diri dari keburukan dan kesalahan antar sesama, dengan harapan agar dilancarkan segala urusan. Dilakukan karena Allah memerintahkan agar saling mengasihi satu sama lain. Jangan sekali kali ada sedikitpun keraguan, prasangka atau hal yang akan membuatnya justru menjadi sulit. 

Ingatlah, kesombongan itu akan sirna jika kita mengetahui asal usul kita darimana asalnya. Manusia berasal dari sesuatu yang hina, dari setetes air mani yang  kemudian menjadi seorang manusia lemah di hadapan Allah. "Kun fayakun", kuasa Allah lah manusia ada di dunia atas ijin-Nya. Sehingga tidak akan ada kata sombong, sesukses apapun manusia tetap ia berasal dari hal yang rendah. Hanya Allah lah yang Maha Tinggi di alam semesta ini. 

Sekali lagi, jika manusia bertanya, “Siapa Illah kita? Jawabannya tergantung kepada lebih mencintai siapa diri kita ini? Apa yang diperjuangkan, diperhatikan, fokus dan condong kepada apa kita di dunia? karena jika salah menjawab dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka bisa jadi salah lah jalan yang dituju. Bayangkan, jika manusia sudah cinta pada satu hal di dunia, tidak peduli siapa yang jadi illahnya. Dikejar habis-habisan, diikuti semuanya, bahkan lebih memperjuangkan apa yang dicintainya.  

Contoh nyata hari ini, media sosial yang begitu akrab dengan teknologi dan manusia masa kini elah membawa banyak kemudharatan dalam sisi pemanfaatannya. Seperti aplikasi TikTok, Reels, YouTube dan lain sebagainya. Penuh dengan aktivitas hiburan demi mencari uang di dalamnya. 

Ataupun berisi konten-konten para selebritas yang ingin ditiru para pengikutnya. Padahal, teknologi bukan sesuatu yang dilarang, namun bila pemanfaatannya digunakan untuk jalan dakwah. MasyaAllah, luar biasa pastinya. Mengalir amal-amal salih demi mencapai tujuan surga-Nya. 

Kuncinya adalah siapa yang lebih manusia cintai, Allah atau yang lain? Karena manusia akan bersama dengan yang dicintainya. Jika Allah menjadi Illah dalam setiap desah napasnya, dalam setiap nadinya, dalam setiap kehidupannya selama di dunia, niscaya kebahagiaanlah yang akan diraih oleh orang-orang yang senantiasa tawadhu. 

Maka, mulai hari ini jadilah kita menjadi orang-orang yang tawadhu. Hilangkan jubah kesombongan. Karena manusia bukanlah siapa-siapa di mata Allah. Manusia makhluk yang lemah yang senantiasa meminta pertolongan kepada Allah yang Maha kuat. Islam adalah rahmatan lil alaamiin sebagai jalan kebenaran bagi seluruh umat manusia.

Wallahu a’lam bishawab.

Oleh: Desi Wulan Sari, M.Si.
(Sahabat Topswara)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar