Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Menyambut Hari Kemerdekaan, Apakah Sekadar Euforia?


Topswara.com -- Perayaan hari kemerdekaan RI tinggal menghitung hari. Walaupun, masih di tengah kondisi pandemi, tetapi tidak sedikit masyarakat yang sudah bersiap diri. Deretan bendera merah putih berkibar di rumah warga hingga gedung-gedung perkantoran, lagu kebangsaan mulai terdengar kembali. Apalagi sebelum perayaan hari kemerdekaan yang ke 76 tahun ini, ada “kado istimewa” berupa medali emas yang diperoleh di Olimpiade Tokyo.

Rakyat menyambut kemenangan ini dengan penuh suka cita. Rasa nasionalisme tumbuh dan dirasakan oleh berbagai kalangan. Bukan hanya bagi pemain dan pecinta olahraga, pemuda, influencer hingga artis ternama ikut larut dalam euforia. Ada yang menyumbang tanah, rumah, uang, hingga deretan hadiah lain sebagai bentuk apresiasi dan rasa syukur atas kemenangan yang diraih oleh atlet kebanggaan negeri ini. 

Namun, sepertinya kebahagian itu hanya sedikit meredam duka yang terjadi di tengah masyarakat. Pandemi Covid-19 yang belum berakhir dengan “drama” kebijakan PPKM yang tidak kunjung usai membuat banyak rakyat yang hampir putus asa. Berbagai problem sistemik semakin terasa, banyak masyarakat yang di PHK. Dilansir dari situs mediaindonesia.com (12/8/21), pengangguran bertambah sebanyak 7,07 persen atau 2,67 juta orang. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran terbuka Indonesia sudah mencapai 9,77 juta orang pada kuartal III 2020.

Adapun penduduk miskin di Indonesia berdasarkan BPS per Maret 2021 berkisar 27,54 juta orang, naik dari periode Maret 2020 yang sebesar 26,42 juta orang. Peningkatan ini terjadi akibat pandemi Covid-19 yang berdampak pada perubahan perilaku serta aktivitas ekonomi penduduk sehingga memengaruhi angka kemiskinan (Tempo.co, 16/07/21).

Ironisnya lagi, berdasarkan data APBN kita, jumlah utang pemerintah per April 2021 naik Rp 82,22 triliun dibandingkan dengan akhir bulan sebelumnya yang sebesar Rp 6.445,07 triliun. (detik.com, 2/6/21)

Nah, melihat fakta tersebut, apakah kita benar-benar sudah merdeka? Lalu, bagaimana sikap kita seharusnya dalam melihat fenomena ini?

Euforia Kemerdekaan dalam Cengkeraman Sistem Kapitalis

Kemerdekaan sejatinya adalah impian setiap orang. Menurut KBBI merdeka adalah bebas dari penghambaan, penjajahan, dan sebagainya. Selain itu, merdeka artinya tidak terikat dan tidak tergantung kepada orang atau pihak tertentu. Namun, fakta saat ini menunjukkan bahwa independensi belum dirasakan oleh semua kalangan. Meskipun penjajahan secara fisik (perang dengan senjata) sudah tidak lagi kita rasakan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kita masih terjajah secara nonfisik atau kita kenal dengan neoimprealisme. 

Saat ini, tanpa sadar kita sudah terjebak dalam penjajahan gaya baru yang dilakukan oleh Barat. Di antaranya dengan menggunakan sistem dan hukum penjajah, bukan hukum yang berasal dari Sang Pencipta kita, yaitu Allah SWT. Pada akhirnya, kita belum berdaulat sepenuhnya karena peraturan kita masih didikte oleh kepentingan para penjajah asing.

Salah satu bentuk nyata dari adanya penjajahan masa kini, yaitu adanya ghazwul fiqr (perang pemikiran). Bukan lagi penjajahan secara fisik, justru penjajahan gaya baru ini lebih berbahaya karena masyarakat sering tidak menyadari sedang dijajah. Alatnya bukan lagi dengan menggunakan senjata militer, tetapi melalui perang pemikiran, baik dalam sistem politik, ekonomi, budaya, maupun pendidikan.

Sebut saja utang luar negeri dan investasi asing. Banyak negeri kaum muslimin yang belum bisa terlepas dari jeratan utang ribawi kepada IMF (International Moneter Fund) dan World Bank. Hal ini memaksa kita untuk mengabdi kepada kepentingan mereka. Cengkeraman sistem kapitalisme secara nyata terlihat saat pengelolaan sumber daya alam yang diserahkan kepada para kapital. Padahal, notabene semua itu adalah milik rakyat, tetapi pada akhirnya hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang.

Penyebaran ideologi kapitalis tentu tidak bisa terpisah dari ruh sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Kita tidak bisa menutup mata bagaimana kerusakan generasi muda di negeri ini tak terpisah dari invasi budaya asing yang masuk ke negeri-negeri muslim. Nilai-nilai liberalisme, hak asasi manusia, kesetaraan gender, lgbt, dan sebagainya terus “membombardir” generasi penerus peradaban.

Dalam sistem politik, demokrasi yang diklaim “Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” nyatanya hanya menjadi slogan saja.  Kepentingan rakyat bukan lagi yang dikedepankan, tetapi justru kepentingan para korporat. Berbagai produk UU yang dihasilkan pun justru lebih berpihak kepada kepentingan asing dan para pemilik modal. Sebut saja UU Cipta Kerja yang secara nyata tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.

Euforia kemenangan olimpiade menjadi satu gambaran bahwasannya nasionalisme yang sering digaungkan saat pertandingan pada akhirnya hanya bersifat temporer saja. Jika ada kompetisi (melihat lawan di lapangan) maka keinginan untuk membela negara semakin berkobar. Namun, saat pertandingan usai, sirnalah kekuatan ini. 

Begitupun ketika menyambut hari kemerdekaan. Esensi kemerdekaan terasa hanya sekadar romantisme sejarah saja. Jika ada serangan dari pihak asing maka muncul keinginan untuk mempertahankan negeri. Oleh karena itu, ikatan ini menjadi ikatan yang lemah dan bersifat emosial serta tidak akan mampu membawa kepada kebangkitan yang sesungguhnya. Lalu, ikatan seperti apa yang sejatinya mampu memberikan kebangkitan dan kemerdekaan yang hakiki?

Sistem Islam yang Mampu Mewujudkan Kemerdekaan yang Hakiki

Kemerdekaan yang hakiki sejatinya tidak bisa dipisahkan dari penerapan hukum Allah SWT di muka bumi ini. Misi pembebasan dan kemerdekaan yang diberikan Islam salah satunya tercermin dari pernyataan utusan pasukan Islam, yaitu Rib’i bin Amir at-Tamimi ra. kepada Rustum, yaitu panglima perang Persia.

Di hadapan Rustum ia berkata, “Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama hamba menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju keluasannya; dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.”

Rasulullah SAW juga pernah menulis surat kepada penduduk Najran:
“…Amma badu. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia)…” (Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, v/553).

Lalu, bagaimana peran pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan yang hakiki? Semua itu harus dilakukan dengan mencontoh setiap langkah yang ditempuh oleh teladan kita, yaitu Rasulullah saw. Beliau memerdekaan bangsa Arab jahiliyah dengan melakukan aktivitas dakwah fikriyah, yaitu menyampaikan kebenaran Islam dengan membangkitkan pemikirannya. 

Itulah hakikat kebangkitan yang sesungguhnya. Bukan hanya terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga terbebas dari berbagai pemahaman dan peraturan di luar Islam. Pada akhirnya, terbentuklah kesadaran umum di tengah masyarakat, baik pemikiran, perasaan, maupun aturannya yang hanya berasal dari syariat Islam.

Sejarah membuktikan bahwa pemuda selalu menjadi barisan terdepan dalam membangun sebuah peradaban. Sosok Mus’ab bin Umair hingga Muhammad Al Fatih hanyalah dua orang pemuda yang namanya cukup familier di tengah kaum muslimin. Apa yang sesungguhnya patut kita contoh dari keduanya? Tidak lain, karena mereka mempersembahkan potensi terbaiknya untuk menegakkan kalimat Allah. 

Mus’ab bin Umair adalah sosok duta Islam yang berhasil membuka pintu dakwah di Madinah sebelum akhirnya Rasulullah saw. dan para sahabat hijrah ke Madinah. Momentum hijrah secara total itu memberikan pembebasan dan kemerdekaan hakiki bagi umat serta menjadi titik tolak agama Islam bisa tersebar luas ke seluruh dunia. 

Jauh sebelum Islam datang, umat manusia berada dalam cengkeraman perbudakan sesama manusia. Melalui cahaya Islam, bangsa Arab yang semula merupakan penyembah berhala dengan masyarakat yang terbagi menjadi beberapa kelas sosial (bangsawan, rakyat jelata, dan budak) kini telah berubah. Adapun Muhammad Al Fatih terkenal menjadi pemimpin pasukan terbaik yang menaklukan Konstantinopel. Oleh karena itu, maukah kita menjadi bagian dari pemuda yang membangkitkan kembali peradaban mulia ini?

Penerapan syariat Islam secara kafah oleh negara memberikan gambaran bagaimana kemerdekaan yang hakiki itu bisa diwujudkan. Peradaban yang mulia pun bisa kita saksikan meliputi dua pertiga bagian dunia. Penaklukan yang dilakukan pada masa kekhilafahan Islam berhasil membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam. Berbagai perbedaan adat, budaya, dan bahasa berhasil disatukan dengan ikatan ukhuwah Islamiyah, yaitu saat akidah Islam menjadi landasan kehidupan. Peradaban mulia tersebut telah membawa manusia pada kesejahteraan dan kedamaian.

Namun, ketika junnah (perisai) kaum muslimin itu tiada, tepatnya saat runtuhnya Kekhilafahan Turki Utsmani pada tahun 1924 maka negeri-negeri kaum muslimin berada dalam cengkeraman imprealisme Barat. Kaum muslimin kini bercerai berai atas dasar negara bangsa (nation state). Penjajahan di Palestina, Suriah, dan negeri-negeri kaum muslimin lainnya seolah bukan lagi menjadi urusan kita. Oleh karena itu, seharusnya hal ini semakin menyadarkan kita untuk menegakkan kembali perisai yang hilang itu agar kelak Islam mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Saat ini tentu kita merindukan kembali terwujudnya kemerdekaan yang hakiki di negeri ini. Tentu bukan sebuah kemerdekaan semu yang dibalut keterjajahan. Namun, kemerdekaan yang hakiki yang Allah Swt. janjikan, yaitu saat syariat Islam bisa ditegakkan. “Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS al-A’raf [7]: 96).

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memperhatikan peran dan kontribusi untuk menyongsong kemerdekaan yang hakiki. Bukan sekadar menjadi penonton dan terhanyut oleh euforia selebrasi. Akan tetapi, perlu ada upaya yang kita ikhtiarkan agar pertolongan Allah SWT itu layak diberikan kepada orang-orang yang berjuang di dalamnya. Maka, mari kita bersegera dan totalitas untuk ikut dalam gerbong perjuangan ini.

Wallahu a'lam bishawwab.

Oleh: Annisa Fauziah, S.Si.
(Aktivis Muslimah)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar