Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Meneladani Rasulullah SAW, Uniol 4.0 Diponorogo Beberkan Sepuluh Strategi Pemimpin Sense of Crisis


Topswara.com-- Dosen online Universitas Online (Uniol) 4.0 Diponorogo, Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum. dan Puspita Satyawati, S.Sos. membeberkan, dari meneladani Rasulullah SAW dan Khalifah Umar bin Khaththab  memerangi wabah, ada sepuluh strategi pemimpin yang memiliki sense of crisis di masa pandemi Covid-19. 

"Meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW dan Khalifah Umar bin Khaththab memerangi wabah, setidaknya ada sepuluh strategi pemimpin yang memiliki sense of crisis di masa pandemi Covid-19," tutur mereka dalam Kuliah Online Uniol 4.0 Diponorogo, "Cat Ulang Pesawat dan Gebyar Baliho di Masa Pandemi: Inikah Bukti Minimnya Sense of Crisis  Pemimpin Negeri?" di WhatsApp Group Uniol 4.0 Diponorogo, Sabtu (7/8/2021). 

Mereka menyampaikan, strategi pertama, adalah pemimpin memiliki paradigma bahwa menjaga keselamatan nyawa merupakan hal terpenting dan prioritas. Maka, program yang tidak terkait kepentingan rakyat, hendaknya ditunda atau dibatalkan. 

Adapun yang kedua, menurut mereka, pemimpin semestinya mengedepankan perlindungan hak dasar dan martabat manusia dalam setiap kebijakan, tindakan dan pelayanan kesehatan untuk semua orang terutama kelompok rentan. 

"Strategi ketiga, yaitu mengalokasikan anggaran yang bersifat perlindungan dan jaring pengaman sosial, demi memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Juga menanggung kehidupan anak-anak yatim piatu yang orang tuanya meninggal akibat Covid-19," jelas mereka. 

Untuk langkah keempat, keduanya memaparkan adanya penerapan kebijakan yang transparan demi memulihkan dan menjaga kepercayaan masyarakat, serta memastikan bahwa informasi yang relevan menjangkau setiap orang tanpa terkecuali. 

Sementara kelima, strategi yang mereka tawarkan adalah melibatkan masyarakat dalam membangun sense of urgency dengan memberikan gambaran tentang dimensi krisis dan proyeksi kebijakan pemerintah ke depan. 

"Langkah keenam, pemerintah menghentikan dan melarang pernyataan para pejabat pemerintah dan tokoh-tokoh yang simpang siur, meremehkan keadaan dan melemahkan kewaspadaan masyarakat serta tidak sejalan dengan agenda percepatan penanganan Covid-19," beber duet dosol ini.  

Terkait strategi ketujuh, keduanya meminta pemimpin agar memastikan perlindungan optimal bagi tenaga medis serta menghilangkan hambatan birokratis dan sentralistik dalam menangani wabah korona sehingga tes laboratorium, penanganan terhadap pasien korona dan screening masif dapat dijalankan secara cepat dan tepat. 

Kedelapan, menurut mereka, pemerintah hendaknya memberlakukan cara terbaik dan optimal dalam membasmi pandemi Covid-19, yaitu lockdown yang telah terbukti berhasil mengatasi pandemi di masa Rasulullah SAW dan sahabat, yang disertai penjaminan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat.

"Kesembilan, menggunakan penanganan Covid-19 sebagai momentum untuk memperbaiki sistem ekonomi dan mengatasi ketimpangan. Juga memberikan keringanan ekonomis bagi masyarakat seperti: membebaskan biaya sekolah, tidak menaikkan pajak listrik. Pun menghentikan sementara proyek infrastruktur dan lainnya, serta memfokuskan anggaran demi menuntaskan pandemi," papar keduanya. 

Selanjutnya, mereka mengungkapkan strategi kesepuluh, yaitu negara membiayai penanganan Covid-19 dari pos pemasukan yang berasal dari pengelolaan sumber daya alam, pengumpulan donasi para kapitalis yang telah mengeruk kekayaan dan menguasai sektor strategis, pemotongan gaji pejabat, dan seterusnya.

"Alangkah indahnya jika langkah strategis tersebut bisa ditunaikan oleh penguasa negeri ini. Rakyat kembali pada posisinya sebagai tuan yang dilayani. Hubungan rakyat-penguasa tak lagi bak penjual dan pembeli. Hanya saja, dalam sistem kapitalisme saat ini, mampukah idealitas kepemimpinan yang berpihak pada rakyat terjadi?" ujar mereka. 

Keduanya pun mengajak untuk melihat semua fenomena yang terjadi dan mengusulkan agar  sistem kapitalisme saat ini segera dicampakkan. Karena telah melahirkan para pemimpin cacat pola pikir, serakah serta minim sense of crisis. 

"Hanya sistem Islam yang melahirkan pemimpin amanah, memiliki sense of crisis dan menjadikan rakyat sebagai prioritas demi meraih ridha Allah, baik di dunia dan di akhirat," pungkas mereka. [] Faizah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar