Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Bebas Resesi, Benarkah? Welcome to Indonesia


Topswara.com -- Angin segar bagi pemerintah, di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan memuaskan pada kuartal II 2021. Dimana pertumbuhan tercatat 7,07 persen dibanding kuartal II 2020 yakni 5,3 persen (CNBCIndonesia, 7/8/2021). Sehingga muncul klaim bahwa perekonomian Indonesia bebas dari resesi yang menggulung ekonomi Indonesia sembilan bulan terakhir.

Hal ini sontak membuat publik bertanya-tanya, Apakah ini riil? Di tengah kasus Covid-19 yang semakin tinggi, PPKM darurat yang terlihat sangat membatasi aktivitas dan mobilitas rakyat serta melemahnya berbagai sektor ekonomi. Seharusnya ketika ekonomi dinyatakan mengalami pertumbuhan, masyarakatpun bisa merasakannya, namun faktanya kondisi perekonomian masyarakat masih saja berada pada jurang kehancuran.

Kemudian terkait Indonesia yang bebas resesi, ternyata ada beberapa fakta yang tak sejalan dengan hal ini. Pertama, daya beli masyarakat masih rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi 0,08 persen terjadi selama bulan Juli 2021, hal ini merupakan dampak dari Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga PPKM Level 4 menyebabkan daya beli masyarakat menjadi melemah. (CNBCIndonesia, 2/8/2021)

Kedua, jumlah pengangguran terus meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran pada Februari 2021 mencapai 8,75 juta. Jumlah pengangguran ini meningkat secara tahunan dari 6,93 juta pada Februari 2020. Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memprediksi pada Agustus 2021, tingkat pengangguran terbuka (TPT) akan mencapai 7,15 persen hingga 7,35 persen. Kondisi ini tidak terlepas dari pandemi Covid-19 yang belum juga mereda. Oleh Badan Pusat Statistik (BPS), TPT dihitung dua kali dalam setahun, yaitu pada Februari dan Agustus. (bersatu.com, 27/7/2021)

Dengan melihat kondisi ini, jadi sebenarnya untuk siapa angka pertumbuhan ekonomi tersebut? Kritik dari para pakar ekonomi bermunculan terkait hal ini, salah satunya adalah Faisal Basri, ia mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan ke-2 tahun 2021 tergolong lambat dibandingkan dengan negara lainnya. (Mediaindonesia, 6/8/2021)

Ekonom Dr. Rizal Ramli menilai pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 tidak mencerminkan keadaan sesungguhnya karena pembandingnya pertumbuhan ekonomi 2020. Jika pembandingnya kuartal I 2021, maka tumbuhnya hanya 3,3 persen saja. Kemudian ia juga mengatakan masyarakat jangan terkecoh dengan pertumbuhuan tersebut. Karena pemerintah sengaja menggoreng pertumbuhan ekonomi (GDP) Indonesia kuartal II 2021 seolah-olah mencapai 7,07 persen dan karena itu, menjadi tertinggi dalam 17 tahun terakhir.  (indonews.id, 5/8/2021)

Melihat fakta-fakta diatas, ketika Indonesia dikatakan keluar dari resesi namun realitasnya kondisi perekonomian masyarakat demikian pahit dan ambruk, angka pertumbuhan ekonomi yang sangat mencengangkan tersebut hanyalah pemanis dan kebahagiaan semu. Padahal, sebenarnya rakyat itu membutuhkan realita bukan hanya sekedar isu penenang dan angka-angka yang mencengangkan.

Seperti yang kita lihat di masa pandemi ini, begitu banyak rakyat yang kehilangan sumber nafkah, ribuan karyawan di PHK. Namun di sisi lain, para kapitalis makin kaya-raya, punya banyak uang, pendapatan semakin membludak. Hal ini mengacu pada PDB, yang mana penghasilan semua masyarakat akan di total dan di rata-rata, sehingga seolah-olah tampak semua rakyat mengalami kenaikan pendapatan. Padahal, nyatanya yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin sengsara. 

Pada zaman modern sekarang ini kesejahteraan hanya diukur dari perbandingan angka pertumbuhan ekonomi, angka kematian bayi, aspek seperti umur harapan hidup, angka partisipasi sekolah, ini dipandang lebih efektif karena metode ini mudah untuk dilakukan cukup dengan hitungan matematika sederhana dan langsung didapatkan angka pertumbuhan ekonomi tanpa  perlu dilakukan sensus atau survei.

Seharusnya butuh sensus dari rumah ke rumah termasuk ke para tunawisma, butuh pengadaan survei yang teliti, kejujuran laporan, analisis yang tepat, dan hal ini tentunya butuh riayah  (pengurusan) yang serius oleh pemimpin/penguasa. Sayang sekali hal ini tak dimiliki oleh penguasa hari ini, jabatan hanya dijadikan sebagai sarana memperkaya diri pribadi, oligarki, partai bukan dianggap sebagai tanggung jawab yang akan dipertanggung jwabkan juga di hadapan Allah Swt. Sehingga terjadi kebohongan melalui angka-angka atau data statistik. Angkanya memang benar, tapi penyajiannya tidak jujur akibat ada kepentingan politik didalamnya, untuk sekedar pencitraan guna meraih dukungan publik.

Namun, tanpa sadar, rakyat sudah semakin cerdas, rakyat tahu bahwa sedang dibohongi, banyak yang tidak lagi percaya pada penguasa.

Standar Islam

Islam hadir sebagai solusi dalam setiap permasalahan yang dihadapi dunia, termasuk dalam hal ini, jika saat ini kesejahteraan rakyat hanya dilihat dari hitung-hitungan angka, yang artinya jika angka naik, maka masyarakat dianggap sejahtera, padahal realitanya tidak begitu. Dalam Islam kesejahteraan itu terwujud ketika seluruh rakyat selalu terpenuhi kebutuhan pokoknya dengan layak. 

Adapun kebutuhan pokok di sini berupa kebutuhan individu seperti sandang, pangan, papan. Kemudian juga kebutuhan pokok komunal berupa pendidikan, kesehatan dan keamanan. Adapun indikator keberhasilan dari terpenuhinya kebutuhan ini dilihat dari kebutuhan individu perindividu, bukan jumlah rata-rata. Sehingga jika ada satu orang saja yang tidak terpenuhi kebutuhan pokoknya, ini akan menjadi masalah besar yang harus segera dan mendesak untuk diselesaikan. 

Islampun sudah memiliki banyak pemimpin-pemimpin yang berhasil mencatat sejarah indah dan berkesan salah satunya adalah Khalifah Umar bin Khattab ra. Pada masa kepemimpinannya, beliau tidak pernah membiarkan satu orangpun dari rakyatnya yang kelaparan. Bahkan ia selalu berkeliling menemui rakyatnya untuk memastikan apakah ada diantara mereka yang kelaparan, kesusahan atau sakit. Hingga pada suatu malam Umar mengajak Aslam berkeliling pergi ke suatu daerah, sesampainya disana Khalifah Umar menemukan seorang wanita bersama anaknya yang masih kecil dan sedang menangis karena kelaparan, dan sang Ibu ini hanya memasak air dan meminta anaknya bersabar dan berharap agar anaknya tertidur. Seketika itu juga Umar dan Aslam langsung ke gudang penyimpanan gandum dan minyak untuk mengambil makanan untuk Ibu dan anaknya tadi, bahkan Khalifah Umar yang menghidupkan apinya sendiri untuk memasak gandum tersebut, beliau tidak beranjak hingga ia dan anaknya tidur dengan perut kenyang.

Sosok pemimpin yang peduli pada rakyatnya dan takut terhadap azab Allah Swt. hanya akan ditemukan pada masa Islam. Inilah sedikit gambaran bahwa jaminan kesejahteraan dalam Islam itu nyata adanya, bukan hanya sebatas angka dan kurva yang semu. Ekonomi boleh dan bisa saja bertumbuh, resesi bisa saja dihindari, namun jika tak berpengaruh pada kehidupan masyarakat sama saja tiada arti, hanya Islam yang bisa memberikan kesejahteraan hakiki.

Wallahu a’lam bisshawab

Oleh: Ratu Amalia Sari 
(Mahasiswa FKIP Universitas Jambi)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar