Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Tragedi Syeikh Jarrah Membongkar Pragmatisme Lembaga Internasional


Topswara.com -- Terulang kembali hal yang membuat geram kaum Muslimin yang bahkan terjadi di saat momentum hari kemenangan umat Islam sedunia. Kebahagiaan dan sukacita yang seharusnya dirasakan umat Muhammad ini faktanya tak sepenuhnya dirasaka. Karena di Palestina sana, mereka justru sedang mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan tanah umat dari cengkraman Zionis kafir penjajah. Hal ini dikarenakan adanya enam keluarga Muslim di perkampungan Syeikh Jarrah di Yerusalem Timur yang diusir paksa dari rumahnya oleh Zionis, dengan alasan mereka hendak menempati rumah enam keluarga tersebut (Aljazeera, 01/05/21).

Syeikh Jarrah adalah sebuah perkampungan di Yerusalem Timur dan menjadi daerah mayoritas Arab Muslim pertama yang dibangun di luar Kota Tua di Palestina. Apa yang terjadi di Syeikh Jarrah awal Mei ini hanyalah sebuah kepingan puzzle besar atas apa yang menimpa Palestina secara keseluruhan. Kejadian di Syeikh Jarrah juga terbukti menjadi "dalih" bagi Israel untuk merambatkan serangannya ke Gaza, yang notabene berada jauh di barat dayanya. Bahkan kengerian kondisi yang menimpa warga Palestina sudah dimulai sejak lebih dari seabad yang lalu, khususnya ketika perjanjian Sykes-Picot diteken antara Inggris dan Perancis di tahun 1916 dulu. 

Ada banyak hal yang dapat ditarik dari serangan atas Palestina akhir-akhir ini. Salah satunya adalah bahwa berbagai lembaga internasional yang ada pada hakikatnya pragmatis dalam urusan terkait isu Palestina ini. Dunia sekuler hari ini sulit melepaskan diri dari ikatan komunitas dalam level internasional. Hal ini disebabkan karena semuanya sudah berlandaskan nasionalisme yang memang meniscayakan berdirinya lembaga yang menghimpun negeri-negeri tersebut, tentu saja dengan alasan untuk menjaga kemaslahatan dan kepentingan negara anggotanya. 

Sebut saja PBB. Lembaga yang dikenal sebagai "penjaga perdamaian dunia" ini pun tampak tak bisa berbuat banyak, meski telah mengeluarkan berjilid-jilid resolusi yang ditujukan untuk menyelesaikan masalah antara Palestina dengan penjajah Israel. Tentu saja alasan terkuat PBB tak mampu dan tak akan mampu melakukan ini adalah karena AS sebagai satu dari lima negara anggota tetap Dewan Keamanan dan juga teman dekat Israel memegang "kartu sakti" hak veto.

Sistem veto inilah yang bisa membuat berbagai upaya perlindungan kepada warga Palestina menjadi tidak signifikan. Lalu OKI (Organisasi Kerjasama Islam) yang merupakan lembaga internasional terbesar kedua setelah PBB, juga menunjukkan gelagat yang sama akan ketidakmampuannya membela hak-hak warga Palestina. OKI yang konon ditujukan untuk menjaga dan melindungi kepentingan dunia Islam dengan mempromosikan perdamaian internasional. Bahkan didirikan karena pembakaran masjid Al Aqsa berdekade silam ini layaknya patung yang membisu ketika serangan Israel membunuhi nyawa-nyawa berharga umat Muhammad SAW.

Apakah demikian wujud pembelaannya terhadap kepentingan umat ini? 
Pragmatisme yang terlihat pada dua lembaga mayor ini menunjukkan bahwa solusi yang mereka berikan tidak memberikan pengaruh besar terhadap kemaslahatan kaum muslimin di Palestina. Satu hal yang pasti adalah karena semuanya masih berada dalam satu kerangka sekularisme yang tentu tidak akan  membiarkan Islam sebagai akidah sahih untuk menyelesaikan masalah krusial ini. 

Tentu kita tidak menutup mata dari bantuan materil pun dukungan mereka  terhadap Palestina, namun bila Israel sebagai "kunci" langgengnya diskriminasi yang dialami kaum muslimin Palestina masih eksis dan mendapat sokongan kuat, maka bantuan-bantuan tersebut hanya akam menjadi "obat penenang" belaka, bukan solusi yang akan mengangkat nestapa Palestina. 

Kebengisan Israel tidak akan bisa berhenti hanya dengan kecaman dan kutukan dari para pemimpin negeri muslim. Serangan fisik yang dilancarkan pasukan zionis akan tetap ada jika tidak ada serangan fisik untuk memberikan efek jera pada Israel dilancarkan oleh pasukan Islam. Bahkan kebijakan internasional pun tak akan mampu melakulannya.

Penyelesaian masalah Palestina membutuhkan persatuan dan pasukan yang dipimpin oleh akidah dan ditegakkan dengan metode sahih di dalam Islam. Persatuan dari negeri-negeri kaum muslimin di bawah komando satu pemimpin yang bertakwa dan pasukan militer tangguh yang siap berkorban nyawa demi menjaga kemuliaan Islam dan umatnya. Solusi apapun yang ditawarkan selain itu, ketahuilah bahwa semuanya hanya berdampak temporer, dan mirisnya dapat memperpanjang nestapa yang dirasakan saudara seakidah kita di bumi Al Quds sana. Wallahu a'lam bisshawwab.


Oleh: Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si
(Alumni Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar