Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Sambut Ramadhan, Raih Ketakwaan dengan Perjuangan Tegaknya Islam


Topswara.com -- Kebahagiaan sedang terpancar di hati-hati orang yang beriman. Rasa bahagia dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, tamu agung bagi kaum Muslimin. Bulan yang bertabur rahmat serta penuh ampunan, berlimpah pahala dan banyak keberkahan. 

Bagi seorang mukmin, bergembira dan bersiap menyambut datangnya ramadhan juga akan mendatangkan pahala, karena hal tersebut merupakan perintah syara’. Tidak hanya itu, Rasulullah SAW juga mengatakan, hal tersebut akan menghapus dosa dan kesalahan, serta menyelamatkan kita dari azab api neraka.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang bergembira akan hadirnya bulan Ramadhan, maka jasadnya tidak akan tersentuh sedikit pun oleh api neraka.” (HR. an-Nasa’i)

Begitulah keistimewaan yang dimiliki bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Bahkan, berbagai redaksi hadis lainnya tentang keutamaan dan kemuliaan bulan Ramadhan ini menyebutkan bahwa Allah SWT memerintahkan para malaikat serta bidadari-Nya untuk menghiasi surga-surga dengan cahaya gemerlapan, demi memuliakan bulan suci Ramadhan.

Namun tampaknya, seperti tahun sebelumnya, Ramadhan kali ini akan terasa lebih istimewa, karena masih berlangsung di tengah masa pandemi yang belum juga kunjung reda. Di samping juga penderitaan umat yang makin berkepanjangan, setelah seratus tahun ketiadaan kepemimpinan sistem Islam yang menaunginya.

Walhasil, hidup di dalam naungan sistem sekularisme seperti saat ini, menjadi kendala tersendiri bagi seorang Muslim untuk totalitas dalam memuliakan dan mengagungkan bulan suci ini. Karena sebaik-baik kemuliaan bulan suci Ramadhan, apabila kita dapat meraih takwa. Sebab takwa merupakan hikmah utama yang Allah kehendaki agar terwujud pada orang-orang yang berpuasa. Takwa tidak lain adalah ketundukan secara totalitas seorang hamba kepada Allah SWT dalam segala aspek kehidupannya. 

Wujud dari ketakwaan itu di antaranya, pertama terwujud dalam individu, yaitu ketika seorang individu Muslim selalu terikat dengan syariat-Nya dalam setiap suasana, artinya bukan hanya saat bulan Ramadhan. Hingga yang selalu tertanam setiap hari adalah kepribadian Islam di dalam dirinya. Yaitu pola pikir dan pola sikapnya sejalan dengan prinsip-prinsip dan aturan syara'. 

Kedua, ketakwaan pada masyarakat. Ketakwaan pada masyarakat terwujud dalam kondisi masyarakat yang islami, tidak didominasi oleh sekularisme, aktivitas amar makruf nahi mungkar berjalan dengan baik di tengah-tengah kehidupan mereka. Perekonomian, pendidikan, pelayanan kesehatan, sistem interaksinya semua didasari oleh peraturan Islam.

Selanjutnya yang tak kalah penting adalah ketakwaan dalam bernegara. Ketakwaan yang dimulai oleh kepemimpinan yang bertakwa, yaitu pemimpin yang menerapkan syariat dan hukum-hukum Allah dalam institusi pemerintahan yang ia jalankan. Negara yang menerapkan sistem sanksi atau uqubat yang meliputi hudud, jinayat, ta'zir dan mukhalafat, dalam menyelesaikan persoalan tindak pidana yang dilakukan masyarakatnya. Demikian juga dalam persoalan prekonomian, pendidikan, kesehatan, pergaulan negara akan mengadopsi aturan-aturan yang telah ditetapkan Islam.

Dengan demikian, penting untuk dipahami bahwa ketakwaan kolektif semacam ini, hanya akan bisa terwujud di tengah-tengah umat ketika diterapkan dan ditegakkan syariat Islam secara kafah/keseluruhan melalui institusi negara. Penerapan dan penegakkan syariat Islam kafah tidak lain merupakan wujud nyata dari ketakwaan hakiki, yang berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah.

Berkaca pada bulan-bulan Ramadhan yang dijalankan oleh Rasulullah SAW sebagai teladan kita, tidak hanya diisi oleh lapar haus dan dahaga, namun bulan puasanya Rasulullah SAW dipenuhi oleh jihad dan perjuangan. Maka tak heran, Ramadhan al-mubarak diperkenalkan para ulama rabbani sebagai syahr al-jihad, karena besarnya pengorbanan Rasulullah SAW, para sahabat dan seluruh kaum Muslimin di masa lalu ketika berjuang di bulan suci Ramadhan, demi tegaknya Islam dalam kehidupan. Sehingga Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali sampai di bumi Nusantara kita.

Begitu banyak kemenangan demi kemenangan monumental nan bersejarah bagi kehidupan umat manusia atas berkah dan pertolongan Allah SWT. Dari Perang Badar al-Kubra, sekaligus sebagai momentum penanda eksisnya kekuatan politik daulah islamiyyah yang dikepalai langsung oleh Rasulullah SAW, berpusat di Yastrib (Madinah al-Munawwarah). Pasca hijrahnya Rasulullah SAW dan para sahabat dari Mekkah, setelah meraih dukungan riil dari ahl al-quwwah (suku Aus dan Khazraj) yang diproklamirkan dalam Bai’at Aqabah II.

Selanjutnya, Fathu Makkah, sebuah peristiwa yang menandai peristiwa politik dan meluasnya kekuasaan politik daulah islamiyyah, dari Madinah berekspansi hingga ke Makkah. Dengan tunduknya kaum Musyrik Quraisy kepada kekuasaan Islam yang berpusat di Madinah, hingga mereka pun berbondong-bondong masuk Islam. 

Ya, istimewanya kedua peristiwa kemenangan besar tersebut terjadi ketika Rasulullah SAW dan seluruh umat Islam sedang menjalankan ibadah shaum Ramadhan. Maka, sudah menjadi hal yang semestinya relevan dan bisa kita teladani, ketika menjalani bulan Ramadhan sekarang pun, juga kita jadikan sebagai momentum pengokoh perjuangan Islam dan kebangkitan kaum Muslimin. Hingga tegaknya kembali kehidupan Islam dalam naungan sistem khilafah ’ala minhajin nubuwwah, yaitu sistem politik/pemerintahan umum umat Islam sedunia, yang diwariskan oleh salafuna al-shalih, sebagaimana bisyarah Rasulullah SAW.

Sekarang ini sudah bukan waktunya bagi kita berpangku tangan dan bermalas-malasan, membiarkan sistem sekularisme liberalisme terus menerus menguasai dan merusak Islam dan kaum Muslimin. Jika dahulu jihadnya Rasulullah SAW adalah qital al-’aduww fi sabilillah (berperang melawan musuh Islam di jalan Allah), maka saat ini perjuangan yang bisa lakukan dan teladani adalah dalam bentuk dakwah. Menyebarkan pemikiran Islam ke tengah masyarakat, dan menjelaskan akan pentingnya menegakkan kembali kehidupan Islam, hingga mengetuk pintu-pintu hati para penguasa dengan hujah-hujah syar'i yang berasal dari Islam 

Selain itu, aktivitas menuntut ilmu juga adalah bagian yang harus juga kita tingkatkan. Dengan ilmu, akan tegak pondasi Islam dan keimanan yang kuat. Sebagaimana Islam pun tegak dengan jihad, maka agama ini tegak dengan ilmu dan jihadnya kaum Muslimin.

Tidak sepantasnya bagi kaum Muslimin, sebagai umatnya Rasulullah SAW hanya duduk-duduk santai dan berdiam diri, berpangku tangan sembari menunggu pertolongan turun dari langit. Padahal Rasulullah telah mencontohkan bagaimana beramal, dan menggariskan jalan dakwah bagi umatnya. Sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibn Katsir dalam Al-Bidâyah wa al-Nihâyah (IV/535):

“Betapa kita duduk menganggur, sedangkan Rasul Saw asyik bekerja.
Sungguh ia perbuatan sesat menyesatkan.”

Benar, bahwa jalan dakwah memang tak mudah, penuh rintangan dan onak duri penghalang, namun berdiam diri dan menyerah bukanlah karakter umat Islam, yang layak menyandang predikat sebagai khayr ummat (umat terbaik) yang di banggakan oleh Rasulullah SAW.

Mari, jadikan Ramadhan ini sebagai momentum memantaskan diri sebagai orang Muslim sejati yang mendakwahkan Islam dan menjadi penolong agama-Nya. In syaa Allah hal tersebut akan menjadi salah satu amal shalih yang menjadi sebab turunnya pertolongan Allah atas diri kita kaum Muslimin.

 الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُم

“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menolong (Din) Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Q.S. Muhammad: 7)

Mari persiapkan diri dan mengerahkan energi kita selama Ramadhan ini, untuk lebih utuh dalam memahami dan mengamalkan Islam secara kafah, serta menebar kesadaran ke tengah umat untuk memperjuangkan tegaknya Islam ke dalam institusi sebuah negara. Agar ketakwaan dapat benar-benar terwujud menyeluruh dan secara nyata.[]

Oleh: Liza Burhan
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar