Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Susu Formula dan SKM Tidak Dianjurkan Jadi Pengganti ASI




Topswara.com - Di Indonesia, edukasi tentang pentingnya ASI belumlah usai. Kita masih berkutat pada soal ASI tak bisa disandingkan dengan susu formula. Kini, justru muncul persoalan baru dari fenomena mensubstitusi ASI dengan susu kental manis (SKM).

Hal ini terlihat dari hasil survei Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Majelis Kesehatan PP Aisyiyah yang dirilis CNN Indonesia (20/11/2020). Survei itu sendiri dilakukan pada rentang September-Oktober lalu dengan melibatkan sebanyak 1.268 ibu dengan balita. Para responden berasal dari Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Kabupaten dan Kota Bekasi, serta Kabupaten bogor.

"Dari temuan kami, di DKI Jakarta dan Jawa Barat masih ada 341 atau 26,9 persen yang mengatakan kental manis adalah susu. Dan ibu-ibu inilah yang secara rutin memberikan SKM untuk balitanya," kata Chairunnisa, Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah.

Temuan yang membikin miris adalah anak-anak yang diberikan SKM masih berada di usia yang  dianjurkan ASI, yakni 0-2 tahun. Ada 60 persen anak usia 0-2 tahun sudah mengonsumsi SKM. Di rentang usia kurang dari setahun, persentasenya mencapai 9,7 persen di Jakarta dan 23,8 persen di Jawa Barat. 

Jumlah kelompok yang memberikan kental manis sebagai subtitusi susu anak bisa dikatakan cukup besar. Proporsi di Jakarta lebih dari seperempat responden (25,7 persen) alias 162 ibu. Sementara di Jawa Barat mencapai 28 persen atau 179 ibu. 

Boleh jadi, citra SKM adalah susu sudah melekat sejak lama. Ingatkah, di era 1990-an dulu, iklan-iklan SKM selalu menampilkan adegan seorang ibu menyeduh SKM. Seduhan “susu” itu disajikan untuk si anak yang kemudian meminumnya dengan nikmat. 

Produsen-produsen SKM mengklaim produknya mengandung macam-macam zat gizi yang dibutuhkan anak. Mereka bahkan membikin jargon kesehatan di setiap iklannya, seperti, "Lengkapi Hari dengan Gizi yang Baik dan Gaya Hidup Sehat Aktif", atau, "Awali dengan Segelas Nutrisi." 

Klaim dan jargon inilah yang kemudian membentuk persepsi bahwa SKM adalah susu bernutrisi tinggi. Padahal, SKM yang tinggi gula punya risiko bagi bayi. Meski survei menyebut  mayoritas ibu (78 persen) telah memahami bahaya atau efek samping konsumsi SKM untuk bayi dan balita, masih ada 22 persen ibu yang tidak tahu efek sampingnya.

Temuan lain yang lebih mengagetkan, 65 persen responden memberikan SKM kepada anak lebih dari sekali dalam sehari. Hanya sekitar 35 persen ibu yang memberikan SKM kurang dari atau sama dengan sekali sehari.

Jika dilihat dari takaran penyajian, sebanyak 242 ibu (59 persen) membuat seduhan SKM dengan takaran lebih dari tiga sendok makan sekali seduh. Sisanya sebanyak 99 ibu (41 persen) menggunakan takaran kurang dari tiga sendok makan. 

Memahami Konteks Susu untuk Anak
Seturut rekomendasi World Health Organization (WHO), ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi hingga usia 6 bulan dan berlanjut hingga satu tahun dibarengi dengan makanan pendamping ASI (MPASI). Meski begitu, ada kondisi tertentu yang membuat bayi tidak bisa mendapatkan ASI. Sebagian karena ibunya meninggal, terlantar, atau ASI si ibu kurang. 

Untuk mengatasi hambatan itu, ada beberapa upaya untuk menciptakan susu buatan sejak 1800. Produk susu buatan yang kini kita kenal sebagai susu formula berhasil dibuat pada awal abad ke-20. 

Seiring waktu, produksi susu formula mulai melenceng dari tujuan awal. Konsumen perlahan menganggap susu formula sebagai pengganti ASI sehingga terjadilah surplus produksi. Susu formula produksi Eropa dan Amerika diekspor pula ke negara jajahan. Konsumsi susu formula yang berlebihan lalu memicu terjadinya penurunan jumlah ibu menyusui serta peningkatan angka kematian dan kesakitan bayi di negara jajahan.

Dampak buruk semacam itu juga bisa terjadi jika ASI digantikan dengan SKM. Seturut Peraturan Kepala Badan POM No. 21/2016, SKM setidaknya mengandung 8 persen lemak susu dan 6,5 persen protein. Laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membeberkan bahwa SKM dibuat melalui penguapan dengan kandungan protein rendah dan kadar gula tinggi. 

Mari kita bedah jumlah kandungan nutrisi pada salah satu produk SKM di pasaran. Dalam satu takar porsi (empat sendok makan), ia memasok 130 kkal untuk tubuh. Komposisi nutrisi pada satu takar porsi SKM itu mengandung gula tambahan 19 gram dan protein 1 gram. Jika dikonversi dalam kalori, 19 gram gula itu setara dengan 76 kkal. 

Jadi, kandungan gula dalam satu porsi SKM itu lebih dari 50 persen total kalorinya. Padahal, sesuai rekomendari WHO, kandungan gula tambahan semestinya tidak boleh melebihi 10 persen dari total kalori. 

“Susu kental manis tidak disarankan untuk anak karena kandungan protein yang lebih rendah sementara gula lebih tinggi,” tutur Cut Nurul Hafifah, Dokter Spesialis Anak dari RS Pondok Indah, kepada Tirto.

Menurut IDAI, susu—baik ASI ataupun susu lain—bukan konsumsi utama bagi anak usia di atas satu tahun karena anak sudah bisa mengonsumsi jenis makanan seperti orang dewasa. Dan lagi, susu hanya boleh diberikan maksimal 30 persen dari total kebutuhan kalori, sementara 70 persen sisanya berasal dari  makanan padat. 

Perlu digarisbawahi bahwa susu dalam konteks ini adalah sumber kalsium dan protein dengan asam amino esensial lengkap. Jadi, SKM jelas tidak memenuhi persyaratan tersebut.

“Susu kental manis hanya dikonsumsi sebagai pelengkap makanan. Misal, ditambahkan pada es campur atau martabak manis. Bukan dilarutkan dengan air dan menjadi pengganti susu formula,” tegas Nurul.


Indikasi Khusus Pemberian Susu Formula
Jika SKM jelas tidak dianjurkan bagi anak usia di bawah satu tahun, lalu bagaimana dengan susu formula?

Bisnis susu formula jadi saingan kuat para edukator ASI hingga kini. Banyak produsen gencar melakukan kerja sama dengan fasilitas kesehatan agar bayi yang baru lahir mendapat  paket susu mereka. Ada juga produsen yang sengaja membubuhkan iklan-iklan tersirat tentang keutamaan susu formula, meski aturan sudah melarang. 

Padahal, harus ada indikasi khusus sebelum memberikan susu formula kepada bayi. IDAI  menjelaskan, faktor pemberian formula pada anak di bawah satu tahun secara umum dilihat dari kondisi bayi dan ibu. Penggunaan susu formula diperbolehkan apabila terdapat kontra indikasi ASI.

“Pada beberapa kelainan metabolik, tubuh tidak punya enzim tertentu untuk mencerna komponen susu, jadi butuh formula yang disesuaikan,” demikian tertuang dalam situs resmi IDAI.

Kemudian, bayi kurang bulan (BKB) butuh kalori, lemak, dan protein lebih banyak. Sementara itu,  ASI bayi prematur hanya menyediakan kandungan tersebut selama 3-4 minggu. Setelahnya, komposisi ASI akan berubah matur sehingga tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan nutrisi bayi prematur kurang dari 34 minggu.

Karena itu, penambahan penguat ASI atau human milk fortifier untuk mengatasi masalah nutrisi selanjutnya sangat dianjurkan. Komposisi produk ini meliputi karbohidrat, protein, dan mineral tambahan yang dicampurkan ke ASI. Jika penguat ASI tidak tersedia, pemberian susu prematur diperbolehkan dengan catatan prematur kurang dari 32 minggu atau berat lahir kurang dari 1500 gram. 

Sementara itu, pemberian susu formula bagi bayi cukup bulan (BCB) bisa dipertimbangkan untuk kasus-kasus tertentu. Kondisi itu meliputi bayi berisiko hipoglikemia, hiperbilirubinemia pada hari-hari pertama, bayi terpisah dari ibu, kelainan kongenital sukar menyusu langsung seperti sumbing atau kelainan genetik lain. Meski begitu, suplemen susu formula hanya diberikan sampai masalah teratasi, sambil bayi terus disusui.

Faktor lain yang dapat dijadikan alasan khusus pemberian susu formula adalah ibu memiliki indikasi tidak bisa menyusui, seperti ibu dengan HIV positif, ibu dengan infeksi Human T-lymphotropic Virus (HTLV) tipe 1 dan 2, gangguan neurologis, atau citomegalovirus (CMV). Namun, para ibu dengan kondisi tersebut tetap bisa menyusui bayinya pada tahap terapi tertentu.

Terdapat pula indikasi sementara tidak menyusui yang berkaitan dengan pengobatan ibu seperti psikoterapi jenis penenang, antiepilepsi, terinfeksi virus herpes simplex tipe 1 (HSV-1), atau ibu sakit berat. 

Nurul menyebut, susu formula tidaklah wajib bagi anak di atas usia dua tahun selama dia telah mendapatkan sumber protein dan kalsium lain yang cukup. Sumber protein hewani berkualitas ini bisa didapat dari telur, ikan, daging, dan lain-lain. 

“Susu formula dapat menjadi alternatif sumber protein berkualitas ketika anak tidak bisa mendapat asupan protein hewani cukup,” katanya.

Singkatnya, bayi dan balita tidak memerlukan tambahan susu formula kecuali pada keadaan khusus. Begitu pun SKM yang justru berpotensi membikin obesitas pada anak.

Sumber: https://tirto.id/susu-formula-dan-skm-tidak-dianjurkan-jadi-pengganti-asi-f7Me
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar