Topswara.com -- Kecerdasan buatan atau Artificial Intellegence (AI) kini menjadi topik utama di seluruh dunia. Banyak orang sangat bersemangat akan potensi yang dimiliki, karena dianggap dapat mempermudah kehidupan manusia. Namun, di sisi lain, terdapat kegelisahan yang juga sangat signifikan.
AI tidak hanya sebagai alat bantu saja, tetapi telah bergerak menuju sesuatu yang dapat melebihi kendali manusia itu sendiri. Di sinilah penting bagi kita untuk menganalisis secara jelas, antara harapan dan kekhawatiran yang ada.
Ketika kita memperhatikan realitas yang ada saat ini, ada beberapa aspek yang perlu kita perhatikan. Di antaranya yaitu para ahli di bidang kecerdasan buatan, termasuk sosok yang dikenal sebagai Bapak AI dunia. Mereka telah kembali menerbitkan penelitian yang mengingatkan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk bersiap menghadapi lonjakan kecerdasan AI.
Meskipun AI dapat memberikan dampak positif seperti dalam bidang kesehatan dan teknologi lainnya, lonjakan kecerdasan ini menyimpan tiga risiko besar. Sebagai contoh dampak positif, AI dapat membantu dokter dalam menganalisis hasil rontgen dengan lebih cepat dan akurat.
Namun ada risikonya yaitu pertama, ancaman biologis dan siber, seperti penggunaan AI untuk menciptakan virus baru atau meretas sistem perbankan. Kedua, hilangnya kendali atas manusia, misalnya pekerjaan sebagai kasir, desainer, dan penerjemah mulai digantikan oleh AI.
Ketiga, risiko perang antar negara, contohnya negara-negara bersaing untuk mengembangkan senjata otonom berupa drone pembunuh yang dapat menyerang tanpa intervensi manusia.
Sehingga dalam kemajuan teknologi AI membawa kemudahan namun juga potensi bahaya bagi umat manusia. Contoh sederhana adalah pisau.
Dalam genggaman seorang chef, pisau digunakan untuk memotong bahan makanan dan memberikan manfaat. Namun, dalam tangan pelaku kejahatan, pisau yang sama dapat digunakan untuk melukai orang lain.
Adapun AI merupakan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk hal-hal positif namun juga sangat berpotensi disalahgunakan untuk kejahatan. Dalam perkembangan kecerdasan buatan yang tidak terikat pada akidah dan syariat Islam dapat berisiko menghancurkan kehidupan manusia.
Misalnya, saat manusia menciptakan AI tanpa merasakan pengawasan dari Allah, mereka bisa membuat AI yang mendukung pornografi, merugikan, atau menciptakan konten yang merusak moral.
Manusia telah dianugerahi akal yang mulia untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan berperan sebagai khalifah di bumi. Sebagai contoh, ketika kita melihat kompleksitas sistem AI yang diciptakan oleh manusia, kita seharusnya menyadari bahwa otak manusia yang mampu menciptakan AI itu jauh lebih rumit, dan pencipta otak manusia, yaitu Allah, tentu lebih Maha Kuasa.
Selanjutnya, Islam menetapkan aturan yang jelas bahwa semua hasil pemikiran manusia terbagi menjadi dua kategori: hadarah dan madaniyah. Contoh dari hadarah yang dipengaruhi oleh ideologi mencakup sistem demokrasi, liberalisme, atau gagasan tentang kebebasan tanpa batas.
Ini tidak boleh diterima begitu saja. Sementara itu, contoh madaniyah yang netral meliputi perangkat seperti ponsel, laptop, internet, dan teknologi AI itu sendiri sebagai alat. Alat-alat ini boleh digunakan, tetapi ide yang mendasarinya harus disaring dengan baik.
Apabila AI berada di tangan individu yang memiliki keyakinan yang kuat dan tunduk pada syariat, maka AI tersebut akan memberikan manfaat bagi umat manusia.
Misalnya, pada seorang muslim yang taat, AI dapat dimanfaatkan untuk menciptakan sistem pengingat shalat, menerjemahkan kitab-kitab ulama, mendeteksi makanan halal dan haram, atau mengelola zakat agar lebih tepat sasaran.
Di sisi lain, jika AI berada di tangan orang-orang yang tidak beriman dan hanya mengejar keuntungan, maka alat tersebut akan digunakan untuk mengembangkan perjudian online yang lebih canggih, aplikasi kencan, atau bahkan senjata untuk penaklukan negara lain.
Dalam kehidupan manusia harus diatur dengan syariat Islam untuk mencapai keselamatan. Misalnya, jika sistem yang berlaku masih kapitalis, perusahaan AI akan dibiarkan menciptakan segala sesuatu asalkan menguntungkan, meskipun dapat merusak.
Hal ini berbeda jika syariat Islam yang berperan sebagai pengatur. Negara akan melarang penggunaan AI yang merusak moral dan hanya mengizinkan AI yang membawa manfaat.
Layaknya lalu lintas, jika tidak ada rambu-rambu dan petugas, maka mobil secanggih apapun pasti akan mengalami kecelakaan. Syariat Islam berfungsi sebagai rambu-rambu agar teknologi dapat digunakan dengan aman dan sampai pada tujuannya. []
Oleh: Dewi Nur Hasanah
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar