Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dibalik Kecanggihan AI ada Ancaman Mengintai


Topswara.com -- Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin pesat dan mengubah berbagai aspek kehidupan. AI dimanfaatkan dalam pendidikan, kesehatan, penelitian, bisnis, hingga pekerjaan. Teknologi ini menawarkan efisiensi dan kemudahan, tetapi juga menghadirkan risiko yang perlu diwaspadai.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam publikasi AI in Health: Huge Potential, Huge Risks (2024) menjelaskan bahwa AI berpotensi meningkatkan pelayanan kesehatan, tetapi juga menghadapi risiko kesalahan, bias, dan kebocoran data pribadi. 

Di bidang pekerjaan, AI mengubah pelaksanaan tugas dan kebutuhan keterampilan tenaga kerja (OECD, 2024, How is AI Changing the Way Workers Perform Their Jobs and the Skills They Require?). Sementara itu, OECD juga mengidentifikasi risiko AI berupa diskriminasi, pelanggaran privasi, serta ancaman terhadap keamanan informasi.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa AI bukan sekadar alat yang memudahkan kehidupan. Penggunaannya dapat membawa manfaat, tetapi juga menimbulkan persoalan apabila tidak disertai tanggung jawab dan pengawasan.

AI dalam Sistem Sekuler Kapitalis

Teknologi pada dasarnya merupakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan manusia. Namun, tujuan pengembangan dan penggunaannya dipengaruhi kepentingan serta aturan yang berlaku. 

Dalam sistem sekuler kapitalis, dominasi orientasi keuntungan dan efisiensi berisiko membuat kepentingan ekonomi lebih diutamakan daripada kemaslahatan masyarakat.

AI dapat meningkatkan produktivitas, tetapi penggunaannya tanpa memperhatikan nasib pekerja berpotensi memperbesar ketidakpastian pekerjaan. Teknologi ini juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi palsu, melakukan penipuan, dan memanipulasi opini. 

Selain itu, hasil AI tidak selalu benar karena dipengaruhi kualitas data dan rancangan sistem. Karena itu, kecanggihan teknologi perlu disertai landasan moral dan aturan yang jelas.

Teknologi dalam Koridor Akidah dan Syariat

Islam memandang manusia sebagai khalifah di bumi sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 30. Amanah tersebut menuntut manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

Dalam perspektif Islam, perlu dibedakan antara hadharah, yaitu pemahaman tentang kehidupan yang bersumber dari pandangan hidup tertentu, dan madaniyah, yaitu bentuk material hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. AI sebagai produk teknologi dapat dimanfaatkan, sedangkan tujuan, nilai, dan penggunaannya harus dinilai berdasarkan akidah dan syariat Islam.

Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Isra ayat 36 agar manusia tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahuinya. Ayat ini mengingatkan umat Islam untuk memverifikasi informasi dari AI dan tidak menerima hasilnya secara mentah-mentah.

Pengembang harus memperhatikan keamanan dan dampak teknologi, masyarakat wajib menggunakannya secara bertanggung jawab, sedangkan negara perlu melindungi masyarakat melalui regulasi dan pengawasan yang efektif. Pendidikan juga harus membangun kemampuan berpikir kritis dan akhlak agar AI menjadi sarana belajar, bukan pengganti proses berpikir manusia.

Dengan demikian, kemajuan AI harus diarahkan agar memberikan manfaat, menjaga martabat manusia, dan tidak bertentangan dengan syariat. Islam tidak menolak teknologi, tetapi memberikan pedoman agar penggunaannya membawa kemaslahatan, bukan kerusakan.

Wallahu a'lam bish-shawab.


Oleh: Yani Surya 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar