Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Usia 40+ Bukan Usia untuk Marah-Marah


Topswara.com -- Kalau usia masih dua puluhan, marah itu kadang masih dianggap lucu. Ngambek sebentar, upload status, besok sudah baikan. Masih kuat begadang, masih kuat drama, masih kuat makan nasi jam dua pagi lalu bangun segar seperti tidak terjadi apa-apa.

Tapi begitu angka empat mulai nongkrong di depan umur, tubuh mulai mengirim surat resmi. Isinya sederhana. "Mohon kerja samanya. Kami sudah tidak sanggup melayani emosi berlebihan."

Marah sedikit, tengkuk langsung kaku, asam urat naik. Kesal sedikit, kepala berdenyut, badan linu-linu susah tidur. Ribut lima belas menit, asam lambung ikut rapat koordinasi. Belum lagi jantung berdebar seperti habis lari maraton, padahal cuma membaca komentar WhatsApp keluarga.

Lucunya lagi, penyebab marah usia 40+ sering kali bukan persoalan besar. Suami telat balas pesan WA. Anak-anak keluar rumah tidak ada kabar. Anak menaruh gelas bekas minum persis di samping wastafel, bukan di dalamnya. Padahal kalau dipikir-pikir, hidup ini sudah cukup melelahkan. Tidak semua hal harus diberi bonus kemarahan.

Dalam dunia kedokteran, kemarahan bukan sekadar urusan perasaan. Saat seseorang marah, tubuh melepaskan hormon adrenalin dan kortisol. Denyut jantung meningkat, tekanan darah naik, pembuluh darah menegang, dan kebutuhan oksigen jantung ikut bertambah.

Jika hal itu terus berulang, risikonya tidak main-main. Hipertensi lebih mudah muncul, kualitas tidur menurun, daya tahan tubuh melemah, gangguan lambung lebih sering kambuh, bahkan pada sebagian orang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Psikologi juga menjelaskan hal yang sama. Kemarahan kronis membuat otak berada dalam kondisi waspada terus-menerus. Energi mental terkuras hanya untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak mengubah apa pun. Akibatnya seseorang lebih mudah cemas, sulit berkonsentrasi, cepat lelah, dan lebih sensitif terhadap masalah kecil.

Jadi kalau akhir-akhir ini kita merasa mudah capek, jangan-jangan bukan karena pekerjaan yang terlalu banyak. Bisa jadi karena terlalu banyak marah.

Padahal marah itu seperti minum racun sambil berharap orang lain yang keracunan. Yang naik tekanan darah kita. Yang susah tidur kita. Yang pegal pundak kita. Yang harus beli obat juga kita.
Sementara orang yang membuat kita marah malah sedang makan pecel dengan bahagia. Rugi, kan?

Maka usia 40+ sebenarnya adalah usia naik kelas. Bukan lagi berlomba siapa yang paling keras suaranya.
Tetapi siapa yang paling tenang menghadapi keadaan.

Kita mulai sadar bahwa tidak semua komentar harus dijawab. Tidak semua kesalahan harus diperdebatkan. Tidak semua orang harus diyakinkan dan tidak semua masalah pantas menghabiskan energi hidup kita.

Ada kalanya cukup tersenyum. Ada kalanya cukup menghela napas. Ada kalanya cukup berkata dalam hati, "Ya sudahlah..." Lalu lanjut makan. Karena nasi goreng yang sudah dingin lebih layak diselamatkan daripada perdebatan yang tidak ada ujungnya.

Bukan berarti kita menjadi orang yang pasif atau membiarkan kezaliman. Bukan.
Marah tetap memiliki tempat ketika syariat membolehkannya, misalnya melihat kemungkaran atau ketika kehormatan agama dilanggar. Namun kemarahan seperti itu bukan lahir dari ego, melainkan karena cinta kepada kebenaran, dan tetap dikendalikan oleh akhlak.

Justru kedewasaan terlihat ketika seseorang mampu memilih, mana persoalan yang harus diperjuangkan dan mana yang cukup dilepaskan. Bukankah tidak semua sampah harus kita pungut dengan tangan? Ada yang cukup kita lewatkan saja.

Dalam Islam, kemampuan menahan marah adalah salah satu tanda kuatnya kepribadian. Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah" (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menjelaskan bahwa hakikat kekuatan adalah kemampuan menundukkan hawa nafsu ketika emosi memuncak. Sebab kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan diri sendiri.

Jadi, kalau usia kita sudah kepala empat, mari mulai hidup lebih hemat. Hemat tenaga. Hemat emosi. Hemat drama. Simpan energi untuk ibadah, keluarga, berkarya, tertawa, dan menikmati secangkir kopi hangat bersama orang-orang yang benar-benar berarti.

Karena ternyata, semakin dewasa, kita tidak membutuhkan hidup yang lebih ramai. Kita hanya membutuhkan hati yang lebih tenang dan ketenangan itu sering kali dimulai dengan tidak marah pada hal-hal yang memang tidak layak membuat kita marah. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar