Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kita Punya Kendala, Allah Punya Kendali


Topswara.com -- Dari Keterbatasan Manusia Menuju Kemahakuasaan Allah

"Kita punya kendala, Allah punya kendali."

Kalimat yang singkat ini menyimpan lautan makna. Ia bukan sekadar untaian kata untuk menenangkan hati yang sedang gelisah, tetapi merupakan sebuah cara pandang (worldview) seorang mukmin terhadap kehidupan. Di dalamnya terkandung akidah, tauhid, tasawuf, tawakal, optimisme, sekaligus semangat perjuangan.

Banyak manusia yang hidup dalam kecemasan. Mereka takut kehilangan pekerjaan, takut miskin, takut gagal, takut sakit, takut masa depan, bahkan takut menghadapi kematian. 

Ketakutan itu lahir karena manusia lebih banyak melihat besarnya persoalan daripada kebesaran Allah. Mata hati sibuk menghitung kendala, tetapi lupa bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Mengendalikan seluruh alam semesta.

Padahal seorang mukmin sejati tidak menjadikan kenyataan sebagai penentu harapan. Ia menjadikan Allah sebagai sumber seluruh harapan.

Inilah rahasia ketenangan orang-orang saleh sepanjang sejarah. Mereka tidak pernah mengatakan bahwa hidup mereka mudah. Mereka juga mengalami ujian, kesulitan, fitnah, kemiskinan, pengkhianatan, bahkan peperangan. 

Akan tetapi mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kebanyakan manusia: keyakinan bahwa di balik setiap takdir terdapat Allah Yang Maha Bijaksana.

Hakikat Kendala dalam Kehidupan Manusia

Allah menciptakan kehidupan bukan sebagai tempat bersantai, melainkan sebagai medan ujian.

Allah berfirman: "Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2)

Artinya, kesulitan bukanlah penyimpangan dari kehidupan, tetapi bagian dari desain kehidupan itu sendiri.

Orang yang berharap hidup tanpa masalah sesungguhnya sedang berharap sesuatu yang tidak pernah Allah janjikan. Yang Allah janjikan bukan hidup tanpa ujian, melainkan pertolongan bagi orang yang beriman.

Kadang kendala hadir dalam bentuk ekonomi. Usaha sepi. Pendapatan menurun. Utang menumpuk. Kadang kendala hadir dalam keluarga. Rumah tangga diuji. Anak-anak sulit diarahkan. Orang tua jatuh sakit. Kadang kendala hadir dalam dakwah. Kebaikan ditolak. Kejujuran dibenci. Kebenaran dianggap ancaman. Semua itu adalah sunnatullah.

Allah Selalu Memegang Kendali

Tauhid mengajarkan bahwa tidak ada satu daun pun yang gugur tanpa izin Allah. Tidak ada rezeki yang datang tanpa kehendak-Nya. Tidak ada musibah tanpa ilmu-Nya. Tidak ada pertolongan selain dari-Nya.

Allah berfirman: "Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah Allah tetapkan bagi kami. Dialah Pelindung kami." (QS. At-Taubah: 51)

Ayat ini melahirkan keberanian luar biasa. Mengapa harus takut kepada manusia jika seluruh keputusan berada di tangan Allah? Mengapa harus putus asa terhadap keadaan jika Allah mampu mengubahnya dalam sekejap? 

Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api. Secara logika api pasti membakar. Namun Allah mengendalikan api. Api tetap menyala. Tetapi sifat membakarnya dicabut. Laut tidak mungkin terbelah. Namun ketika Allah menghendaki, laut tunduk kepada Nabi Musa.

Maryam melahirkan tanpa suami. Secara biologis mustahil. Namun Allah berada di atas seluruh hukum sebab-akibat. Inilah pelajaran besar. Jangan pernah membatasi kekuasaan Allah dengan logika manusia.

Penyakit Zaman: Merasa Mengendalikan Segalanya

Modernitas melahirkan ilusi bahwa manusia mampu mengendalikan seluruh kehidupannya. Teknologi berkembang. Kecerdasan buatan hadir. Ekonomi meningkat. Namun ironisnya, tingkat kecemasan justru semakin tinggi. Mengapa? Karena manusia ingin menjadi pengendali. Padahal pengendali sejati hanyalah Allah. Ketika manusia kehilangan jabatan, ia hancur. Ketika kehilangan harta, ia putus asa. Ketika kehilangan popularitas, ia depresi. Semua karena sandaran hidup berpindah dari Allah kepada dunia.

Tasawuf mengajarkan pengembalian orientasi hati. Hati tidak boleh bergantung kepada makhluk. Hati hanya bergantung kepada Al-Khaliq.  Sadar butuh kepada Allah Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa pintu pertama menuju Allah adalah merasa fakir di hadapan-Nya.

Allah berfirman: "Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji." (QS. Fathir: 15)

Merasa membutuhkan Allah bukan tanda kelemahan. Justru itulah kekuatan terbesar seorang mukmin. Semakin seseorang merasa membutuhkan Allah, semakin dekat pertolongan-Nya.

Sebaliknya, ketika manusia merasa mampu tanpa Allah, saat itulah ia sedang berjalan menuju kehancuran.

Fir'aun merasa berkuasa. Qarun merasa kaya. Namrud merasa hebat. Akhirnya semuanya binasa. Sedangkan para nabi justru selalu berkata: "Ya Allah, kami tidak memiliki daya selain dengan pertolongan-Mu."

Tawakal: Puncak Kecerdasan Spiritual

Tawakal bukan menyerah. Tawakal bukan pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah menyempurnakan ikhtiar kemudian menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah.

Burung keluar dari sarangnya setiap pagi. Ia tidak tinggal diam. Namun ia juga tidak membawa bekal. Ia yakin Allah telah menyiapkan rezekinya. Demikian pula seorang mukmin. Ia bekerja. Belajar. Berdakwah. Berjuang. Lalu menyerahkan seluruh hasil kepada Allah. Di sinilah hati memperoleh kedamaian.

Di Balik Kendala Ada Tarbiyah Ilahiyah

Allah tidak sekadar menguji. Allah sedang mendidik. Kesulitan melatih kesabaran. Kegagalan melatih kerendahan hati. Penantian melatih keikhlasan. Kehilangan melatih cinta kepada akhirat. Kemiskinan melatih qana'ah. Penyakit melatih dzikir. Musibah melatih tawakal. Tidak ada satu ujian pun yang sia-sia. Semuanya sedang membentuk pribadi mukmin yang matang.

Jalan Para Nabi

Seluruh nabi melewati jalan penuh kendala. Nabi Nuh berdakwah hampir seribu tahun. Nabi Yusuf dipenjara. Nabi Ayyub diuji sakit bertahun-tahun. Nabi Yunus berada dalam perut ikan.

Nabi Muhammad ï·º kehilangan ayah, ibu, kakek, paman, istri tercinta, mengalami boikot ekonomi, diusir dari kampung halaman, diperangi, difitnah, bahkan dilempari batu.

Namun tidak satu pun dari mereka kehilangan harapan kepada Allah. Karena mereka yakin: Allah selalu memegang kendali.

Dimensi Ideologis Tauhid

Kalimat "Allah punya kendali" memiliki implikasi ideologis yang sangat besar. Seorang muslim tidak boleh diperbudak oleh kekuasaan, uang, jabatan, ataupun tekanan manusia.

Kemerdekaan sejati hanya lahir dari penghambaan kepada Allah. Tauhid membebaskan manusia dari segala bentuk ketergantungan kepada selain-Nya.

Karena itu para ulama selalu menanamkan keberanian moral kepada umat. Orang yang yakin Allah mengendalikan rezeki tidak akan menjual agamanya demi dunia. Orang yang yakin Allah mengendalikan kehidupan tidak akan takut menyampaikan kebenaran dengan hikmah.

Mengubah Musibah Menjadi Jalan Ma'rifat

Para sufi memandang musibah sebagai surat cinta dari Allah. Bukan karena mereka menikmati penderitaan. Melainkan karena setiap musibah mengandung panggilan agar seorang hamba kembali kepada-Nya.

Saat semua pintu manusia tertutup, pintu Allah justru terbuka lebar. Air mata taubat sering lahir dari penderitaan. Munajat paling khusyuk sering lahir dari kesempitan. Kedekatan paling indah kepada Allah sering muncul ketika dunia tidak lagi mampu memberikan pertolongan.

Optimisme Seorang Mukmin

Optimisme mukmin tidak bergantung pada situasi. Optimisme lahir dari keyakinan kepada Allah. Karena itu Rasulullah ï·º mengajarkan agar umatnya tidak berputus asa. Selama Allah masih menjadi Rabb kita, tidak ada alasan untuk kehilangan harapan.

Selama Al-Qur'an masih menjadi petunjuk hidup, tidak ada alasan kehilangan arah. Selama doa masih bisa dipanjatkan, tidak ada pintu yang benar-benar tertutup.

Penutup: Jangan Takut kepada Kendala

Jika hari ini hidup terasa berat, ingatlah bahwa beban itu tidak lebih besar daripada kasih sayang Allah. Jika rezeki terasa sempit, yakinlah bahwa Allah adalah Ar-Razzaq, Maha Pemberi Rezeki.

Jika masa depan tampak gelap, ingatlah bahwa Allah adalah An-Nur, Cahaya yang menerangi setiap kegelapan. Jika langkah terasa lemah, bersandarlah kepada Al-Qawiyy, Dzat Yang Maha Kuat.

Maka jangan biarkan kendala mengalahkan iman. Jangan biarkan kesulitan memadamkan harapan. Jangan biarkan logika membatasi kekuasaan Allah.

Bangunlah setiap pagi dengan keyakinan bahwa apa pun yang terjadi hari ini berada dalam genggaman Allah. Berikhtiarlah dengan sungguh-sungguh, berdoalah dengan penuh kerendahan hati, bertawakallah tanpa keraguan, dan ridhalah atas setiap keputusan-Nya.

Sebab pada akhirnya, kita memang mempunyai banyak kendala, tetapi Allah selamanya memiliki kendali. Di tangan-Nya segala urusan bermula, kepada-Nya segala urusan kembali, dan bersama pertolongan-Nya, tidak ada kesulitan yang mustahil berubah menjadi jalan menuju kemuliaan dunia, kebahagiaan akhirat, serta kedekatan hakiki dengan-Nya.


Oleh: Dr. Nasrul Syarif M.Si. 
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar