Topswara.com -- Kesehatan jiwa pada anak merupakan masalah yang sangat serius di negeri ini. Fakta bahwa banyak anak yang memiliki gejala gangguan kesehatan jiwa bukanlah ilusi.
Dari hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026, ditemukan bahwa hampir 10 persen atau sekitar 700 ribu anak di Indonesia memiliki gejala gangguan kesehatan jiwa berupa kecemasan dan depresi yang membutuhkan perhatian serius.
Program CKG 2025–2026 yang menyasar sekitar 7 juta anak menunjukkan bahwa 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak mengalami gejala cemas (anxiety disorder). Sementara itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder). (antaranews.com, 9-3-2026)
Lalu, apa faktor yang memicu kerentanan kesehatan mental anak? Beberapa faktor dinilai sering menjadi pemicu kerentanan tersebut. Tidak hanya dipengaruhi dari faktor individu saja, tetapi juga oleh lingkungan keluarga, pertemanan, sistem pendidikan serta pengaruh media sosial.
Anak-anak saat ini merupakan generasi yang tumbuh dalam paparan teknologi digital sejak lahir. Mereka hidup di tengah banyaknya informasi serta berinteraksi intensif di dunia maya. Kondisi tersebut membuat mereka sangat akrab dengan dunia digital, tetapi di sisi lain juga rentan mengalami kelelahan emosional.
Banyaknya paparan informasi yang masuk, sementara kemampuan berfikirnya belum matang, berpotensi membuat anak-anak terjebak dalam gangguan mental. Masa anak dan remaja merupakan fase pencarian jati diri.
Namun, sayangnya mereka menjadikan media sosial sebagai standar dalam menemukan jati diri tersebut hingga menjadikan lingkungan digital sebagai perbandingan diri dan kebutuhan akan validasi dari orang lain.
Lingkungan keluarga dan sosial yang seharusnya menjadi tempat untuk ruang diskusi dan refleksi justru tergantikan dengan lingkungan digital yang dipenuhi dengan budaya viral yang menjadi patokan dalam membangun kesuksesan masa depan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara Indonesia saja. Krisis multidimensi ini bahkan terjadi di seluruh negeri, di mana ketidakpastian karir dan masa depan membuat gen z bersikap lebih skeptis. Kondisi yang tidak terelakkan saat kita hidup dalam sistem sekuler kapitalis yang mana potensi anak-anak sebagai generasi penerus sengaja dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri mereka.
Belum mampunya mereka dalam mengelola emosi, ditambah minimnya peran keluarga yang teralihkan dengan media digital, membuat anak-anak kehilangan kesempatan untuk bisa belajar langsung dari orang tua dalam mengelola dan mengekspresikan emosi.
Lingkungan sekolah dan sosial yang cenderung abai dalam membangun mental anak-anak makin memperburuk ruang interaksi dalam dunia nyata. Negara lalai dalam melakukan riayah terhadap generasi dengan baik.
Generasi muda ini pun mendapatkan stigma negatif dari generasi sebelum mereka. Alih-alih dirangkul, mereka justru dicap manja, lemah, dan pandangan negatif lainnya.
Hal ini akan berbeda penanganannya saat Islam digunakan sebagai standar kehidupan. Selain mengatur ibadah, Islam juga hadir sebagai solusi dari krisis yang melanda dunia sejak dahulu hingga hari ini.
Sayanganya, masyarakat memisahkannya dari kehidupan, bahkan meninggalkan penerapan Islam yang Rahmatan lil Alamin, membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia.
Karakter generasi di masa kejayaan Islam sangat kuat, tidak hanya secara jasadiyah, tetapi juga secara pemikiran dan mental. Dalam Islam, setiap individu akan dibina untuk menjadikan Islam sebagai standar dalam menjalani kehidupan sehingga melahirkan kepribadian Islam dan cakap dalam berbagai bidang keilmuan.
Tidak hanya berhenti pada faktor individu saja, Islam juga mendorong masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bertumbuh dengan aturan Islam. Bukan meninggalkan kemajuan teknologi yang ada, tetapi juga memanfaatkan teknologi sebagai uslub dalam mengembangkan potensi yang dimiliki oleh tiap-tiap individu.
Tak kalah pentingnya adalah kehadiran negara sebagai pelindung dan pelayan umat dalam menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil.
Penerapan aturan Islam secara menyeluruh oleh negara akan menyadarkan pemuda hari ini untuk mengemban mabda Islam, serta peduli terhadap kondisi umat. Dengan demikian, masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan.
Oleh: Yuniarti Dwiningsih
Aktivis Muslimah

0 Komentar