Topswara.com -- Kondisi yang terjadi dalam masyarakat Arab sebelum Islam (jahiliyyah) banyak ditemukan kemiripannya dengan kondisi masyarakat zaman sekarang.
“Kita bisa lihat dalam sejarah, kondisi masyarakat Arab sebelum Islam, akan menemukan banyak kemiripan dengan masyarakat zaman sekarang,” ungkap Aktivis Muslimah Siti Aisyah dalam Kajian Muslimah Salihah, Hijrah dari Jahiliyah Modern Menuju Syariat Islam, (16/06/2026) di Cipayung Depok.
Dalam aspek ideologi, lanjutnya, masyarakat jahiliah dahulu dipenuhi kesyirikan dan hukum dibuat sekehendak penguasa kala itu.
“Saat ini, kedaulatan hukum diserahkan kepada manusia melalui sistem demokrasi. Manusia diberi hak menentukan halal-haram, benar-salah, dan layak-tidak layak berdasarkan suara mayoritas atau kepentingan politik. Padahal hak menetapkan hukum sejatinya hanya milik Allah SWT,” jelasnya.
Dalam aspek hukum, sebutnya, masyarakat jahiliyah berhukum dengan aturan yang lahir dari hawa nafsu dan kepentingan kelompok. Hukum bisa berubah sesuai keinginan para pemuka suku.
“Kondisi yang sama dapat ditemukan dalam sistem sekuler saat ini. Berbagai kebijakan lahir bukan berdasarkan wahyu, melainkan atas pertimbangan materialisme, pragmatisme, keuntungan ekonomi, dan kepentingan politik,” ujarnya.
Dalam bidang ekonomi, lanjutnya, masyarakat jahiliah dikenal dengan praktik riba, kecurangan dagang, penimbunan barang, perbudakan, dan eksploitasi manusia. Hari ini, praktik tersebut tidak hilang, melainkan berkembang dalam sistem ekonomi kapitalisme global.
“Dahulu, kekuasaan berada di tangan para pembesar Quraisy yang mayoritas merupakan kalangan saudagar dan pemilik modal. Mereka menentukan arah kebijakan sesuai kepentingan kelompoknya. Hari ini, realitas itu tampak jelas dalam kolaborasi antara penguasa dan pemilik modal. Demokrasi yang diklaim sebagai pemerintahan rakyat sering kali justru menjadi sarana dominasi kelompok berkepentingan (oligarki),” bebernya.
Dalam kehidupan sosial, menurutnya, jahiliyah dahulu dipenuhi berbagai kemaksiatan, perzinaan, penyimpangan seksual, serta diskriminasi terhadap perempuan.
“Hari ini, berbagai bentuk kerusakan moral tersebut tampil lebih terbuka dan dilegalkan atas nama kebebasan individu serta hak asasi manusia (HAM),” katanya.
Saatnya Berhijrah
Dalam kajian tersebut, Siti pun menegaskan kepada jamaah, sesungguhnya hari ini, umat Islam berada pada persimpangan jalan.
“Akankah tetap bertahan dalam sistem jahiliyah modern yang terbukti melahirkan berbagai kerusakan, atau kembali ke jalan yang pernah ditempuh Rasulullah SAW dan para sahabat dan para khalifah setelahnya. Itu semua pilihan kita,” tegasnya.
Harus diingat pula, sebutnya, hijrah bukan sekadar slogan yang diperingati setiap tahun. Hijrah adalah proyek peradaban yang menuntut keberanian meninggalkan sistem yang rusak dan berjuang menghadirkan kehidupan yang diatur oleh wahyu Allah SWT, sebagaimana masyarakat jahiliyah dahulu berubah menjadi masyarakat terbaik melalui Islam.
“Maka umat Islam hari ini pun hanya akan bangkit dengan jalan yang sama yakni menjadikan akidah Islam sebagai asas kehidupan, menerapkan syariat Islam secara menyeluruh, dan berjuang mewujudkan kepemimpinan Islam ala minhajin nubuwwah. Sebab cahaya tidak akan pernah lahir dari kegelapan jahiliyah. Cahaya hanya akan datang ketika manusia kembali tunduk sepenuhnya kepada aturan Allah SWT,” pungkasnya.[] Mega Marlina

0 Komentar