Topswara.com -- "Jika kalian membaca ini, berarti aku telah terbunuh, kemungkinan besar menjadi sasaran pasukan pendudukan Israel."
Kalimat itu bukan ditulis dari ruang redaksi yang nyaman. Bukan pula dari meja kerja yang tenang. Hossam Shabat menulisnya di tengah perang, ketika ledakan telah menjadi bunyi latar kesehariannya.
Usianya baru 23 tahun. Di saat banyak anak muda seusianya sibuk menyusun masa depan, Hossam memilih memanggul kamera dan mikrofon.
Selama berbulan-bulan ia melaporkan kehidupan warga Gaza utara, wilayah yang berkali-kali menjadi sasaran serangan. Ia tidur berpindah-pindah di sekolah, trotoar, dan tenda pengungsian. Lapar menjadi teman sehari-hari. Namun satu hal tak pernah berubah: ia terus meliput.
Dalam surat yang kemudian dipublikasikan setelah kematiannya, Hossam menulis bahwa ia bertahan karena ingin menunjukkan kepada dunia "kenyataan yang mereka coba kuburkan." Kalimat itu menjadi penjelasan paling sederhana sekaligus paling kuat tentang mengapa ia tetap bekerja, meski mengetahui bahwa setiap liputan bisa menjadi liputan terakhir.
Pada 24 Maret 2025, firasat itu menjadi kenyataan. Mobil yang ditumpanginya dihantam serangan ketika ia sedang menjalankan tugas jurnalistik. Hossam gugur. Dunia kehilangan satu saksi.
Namun, dunia tidak kehilangan kesaksiannya.
Surat terakhir Hossam justru menyebar lebih luas setelah ia tiada. Jutaan orang membacanya. Bukan hanya sebagai pesan perpisahan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa di balik setiap gambar dan laporan dari Gaza, ada orang-orang yang mempertaruhkan nyawa agar dunia mengetahui apa yang terjadi.
Hossam bukan satu-satunya.
Menurut organisasi internasional yang memperjuangkan kebebasan pers dan keselamatan jurnalis Committee to Protect Journalists (CPJ), sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023 hingga 25 Juni 2026, sedikitnya 259 jurnalis dan pekerja media tewas akibat serangan Israel di Gaza, Iran, Lebanon, dan Yaman.
CPJ juga menyebut konflik ini sebagai yang paling mematikan bagi jurnalis sejak lembaga itu mulai mendokumentasikan kematian pekerja media pada 1992. Di antara para korban itu, sedikitnya 75 kasus telah dipastikan sebagai pembunuhan yang berkaitan dengan pekerjaan jurnalistik mereka, sementara banyak kasus lain masih menunggu penyelidikan lebih lanjut.
Selain itu, CPJ juga mendokumentasikan: 174 jurnalis dilaporkan terluka; 2 jurnalis dilaporkan hilang; 108 jurnalis ditangkap; ditambah lagi berbagai kasus penyerangan, ancaman, serangan siber, penyensoran, serta pembunuhan terhadap anggota keluarga jurnalis.
Angka-angka itu menggambarkan besarnya risiko. Namun angka saja tidak mampu menjelaskan satu kenyataan yang lebih menggetarkan: meski ratusan jurnalis telah gugur, liputan dari Gaza tidak berhenti.
Di antara mereka yang tetap bertahan adalah jurnalis Palestina Anas al-Sharif. Berkali-kali ia menulis bahwa tugasnya adalah menjadi mata dan suara bagi mereka yang tidak lagi mampu bersuara. Dalam salah satu unggahannya, ia menegaskan, selama masih hidup, ia akan terus mendokumentasikan penderitaan rakyat Gaza.
Baginya, diam berarti membiarkan dunia kehilangan saksi. Di situlah letak kekuatan jurnalisme. Peluru dapat menghentikan seorang reporter. Rudal dapat menghancurkan kamera. Namun selama masih ada orang yang bersedia mengangkat pena, menyalakan kamera, atau menekan tombol rekam, kesaksian akan terus lahir.
Sejarah menunjukkan, kekerasan dapat membungkam seseorang, tetapi jauh lebih sulit membungkam hasrat manusia untuk mencari dan menyampaikan kebenaran.
Sebaliknya, selalu muncul orang-orang baru yang bersedia memikul kamera, mengenakan rompi bertuliskan PRESS, lalu berjalan menuju tempat yang justru sedang ditinggalkan orang lain.
Mereka mengetahui risikonya. Mereka melihat rekan-rekannya gugur. Mereka sadar nama mereka mungkin menjadi nama berikutnya dalam daftar korban. Namun mereka tetap datang.
Pena Pantang Menyerah
Pena pantang menyerah bukan hanya pelajaran yang ditinggalkan Hossam Shabat, tetapi juga ratusan jurnalis lain yang tetap memilih menjadi saksi meski mengetahui risikonya. Mereka sadar kamera dapat dihancurkan, tubuh dapat dibunuh, tetapi kesaksian tidak boleh dibiarkan lenyap.
Tidak semua orang dipanggil meliput perang. Tidak semua orang harus berdiri di bawah dentuman bom. Namun hampir setiap orang hari ini memiliki pena, papan ketik, atau telepon genggam yang dapat digunakan untuk menyampaikan ilmu, meluruskan informasi, dan menghadirkan tulisan yang bermanfaat. Apalagi di era perang pemikiran (ghazwul fikr) saat ini.
Bagi seorang Muslim, menulis bukan sekadar aktivitas intelektual. Menulis dapat menjadi bagian dari ikhtiar menyebarkan ilmu, kebaikan, melawan narasi-narasi yang secara halus dan sistematis berupaya untuk mengubah pola pikir, nilai, gaya hidup, dan keyakinan umat Islam agar menjauh dari ajaran agama mereka dan mengikuti budaya atau nilai-nilai di luar Islam.
Rasulullah SAW menganjurkan agar ilmu dijaga dengan ditulis. Walaupun riwayat tentang lafaz "Jagalah ilmu dengan menulis" diperselisihkan kualitasnya di kalangan ulama hadis, maknanya sejalan dengan tradisi Islam yang sangat menekankan pentingnya pencatatan dan penyebaran ilmu.
Lebih dari itu, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa mengajak kepada petunjuk, ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun" (HR Muslim).
Karena itu, setiap tulisan yang mengajak kepada ilmu, kebaikan, dan kontra narasi kekufuran dapat terus menjadi sumber pahala selama masih dibaca, dipahami, dan diamalkan.
Bahkan ketika suatu hari seorang penulis tidak lagi mampu berkarya karena sakit atau sedang bepergian, amalnya tidak serta-merta terputus apabila selama sehat dan bermukim ia telah membiasakan diri menulis secara istiqamah.
Rasulullah SAW bersabda, "Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, dicatat baginya pahala seperti yang biasa ia kerjakan ketika sehat dan bermukim" (HR Bukhari).
Hossam Shabat telah meletakkan kameranya untuk selamanya. Namun selama masih ada orang-orang yang memilih menjaga ilmu, menyampaikan kebenaran, dan menulis dengan penuh tanggung jawab, pena tidak pernah benar-benar menyerah.
Karena itu jangan lelah menulis. Jangan lelah berpikir. Jangan lelah berdakwah. Jangan lelah kontra narasi kekufuran. Sebab perjuangan pemikiran adalah salah satu jalan penting menuju kebangkitan umat dari keterpurukan era mulkan jabariyyan menuju khilafah yang mengikuti metode kenabian.
Meski mungkin hanya setetes, semoga tulisan-tulisan yang kita hasilkan menjadi bahan bakar perjuangan melawan berbagai bentuk kekuasaan yang menindas (mulkan jabariyyan), serta menjadi bagian dari ikhtiar besar umat untuk menyongsong tegaknya kembali Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah.
Aamiin, aamiin ya Rabbal 'alamin.[]
Depok, 12 Muharam 1448 H | 26 Juni 2026 M
Oleh: Joko Prasetyo
Jurnalis

0 Komentar