Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ketika Amal Saleh Justru Merusak Hati


Topswara.com -- Banyak orang takut amalnya kurang. Namun, tidak banyak yang takut amalnya rusak. Padahal, tidak semua kerusakan hati berawal dari maksiat. Ada yang justru lahir dari amal saleh yang tidak dijaga keikhlasannya.

Rajin bersedekah, tekun menuntut ilmu, istiqamah shalat Tahajud, maupun aktif berdakwah tentu saja merupakan amal yang mulia. Namun, ketika hati mulai merasa diri hebat, ingin dipuji, senang menceritakan amal, atau memandang rendah orang lain, saat itulah amal yang semestinya mendekatkan diri kepada Allah SWT justru berubah menjadi jalan rusaknya hati.

Empat Penyakit yang Mengintai Amal
Ada empat penyakit hati yang sangat halus dan sering mengintai setiap amal kita tanpa disadari, yaitu ujub, riya', sum'ah, dan takabur (sombong). Keempatnya saling berkaitan. 

Ujub sering menjadi pintu masuknya. Ketika seseorang kagum pada dirinya sendiri, ia terdorong memperlihatkan amalnya (riya'). Setelah itu ia senang menceritakannya (sum'ah). Lama-kelamaan ia merasa lebih mulia daripada orang lain (takabur).

Semakin lama penyakit-penyakit ini dibiarkan, semakin besar pula kemungkinan amal kehilangan nilai keikhlasannya di sisi Allah SWT.

Ujub

Ujub adalah merasa diri hebat karena suatu amalan. Fokusnya ada pada diri sendiri. Ia memandang amal sebagai hasil kehebatan pribadinya, bukan sebagai taufik dari Allah SWT.

Imam al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumiddin menjelaskan, ujub adalah memandang besar nikmat yang ada pada diri sendiri, seraya lupa bahwa semua itu hakikatnya adalah karunia Allah SWT.

Misalnya, seorang pengusaha menyumbangkan dana miliaran rupiah untuk pembangunan masjid. Ketika dalam hatinya muncul perasaan, "Tidak banyak orang yang mampu bersedekah sebesar aku," saat itulah ujub mulai menggerogoti hatinya.

Contoh lain, seorang Muslim istiqamah melaksanakan shalat Tahajud setiap malam dan rutin berpuasa sunnah. Ketika ia merasa dirinya lebih saleh daripada kebanyakan orang karena ibadahnya, maka ujub telah menyelinap ke dalam amalnya.

Riya'

Riya' adalah memperlihatkan amal agar dilihat, dipuji, atau dikagumi manusia. Amal yang semestinya ditujukan kepada Allah justru dijadikan sarana mencari pengakuan.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Riya'" (HR Ahmad).

Pada contoh pertama, pengusaha itu sengaja menyerahkan bantuan di depan kamera, memasang spanduk besar atas namanya, atau berharap pemberitaannya tersebar luas agar dipuji sebagai dermawan. Itulah riya'.

Pada contoh kedua, orang yang rajin shalat Tahajud sengaja memperlihatkan kebiasaan ibadahnya kepada orang lain agar dikenal sebagai ahli ibadah. Itulah riya'.

Sum'ah

Sum'ah adalah menceritakan amal kepada orang lain agar mereka mengetahui dan memujinya. Jika riya' berkaitan dengan apa yang dilihat manusia, maka sum'ah berkaitan dengan apa yang didengar manusia.

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa berbuat sum'ah, Allah akan memperdengarkan aibnya. Barang siapa berbuat riya', Allah akan memperlihatkan aibnya" (HR al-Bukhari dan Muslim).
Jika riya' mencari pujian melalui apa yang tampak, maka sum'ah mencarinya melalui apa yang terdengar.

Pengusaha tadi kemudian sering bercerita dalam berbagai kesempatan bahwa dirinya telah menyumbang miliaran rupiah untuk pembangunan masjid. Bukan untuk menginspirasi, melainkan agar orang semakin kagum kepadanya. Itulah sum'ah.

Demikian pula orang yang rajin shalat Tahajud dan puasa sunnah. Hampir setiap kali berbincang ia menyelipkan cerita, "Semalam saya shalat Tahajud sekian rakaat," atau "Saya hampir tidak pernah meninggalkan puasa Senin-Kamis." Bila tidak ada kebutuhan syar'i untuk menceritakannya, maka itu termasuk sum'ah.

Takabur

Takabur adalah merasa diri lebih tinggi daripada orang lain karena amal yang dimiliki. Ia bukan sekadar bangga pada dirinya sendiri, tetapi juga merendahkan orang lain.

Rasulullah SAW bersabda, "Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia" (HR Muslim).

Ibnu Hajar al-Haitami memasukkan takabur ke dalam kelompok dosa-dosa besar hati (al-kabā'ir al-bāthinah) karena kesombongan menjadi sebab seseorang menolak kebenaran dan merendahkan sesama.

Pengusaha tadi mulai memandang rendah orang-orang yang hanya mampu bersedekah sedikit. Ia menganggap mereka kurang peduli terhadap agama. Itulah takabur.

Begitu pula orang yang rajin beribadah sunnah. Ketika ia mulai meremehkan Muslim lain yang belum mampu istiqamah seperti dirinya, merasa dirinya lebih dekat kepada Allah daripada mereka, maka kesombongan telah merusak keindahan amalnya.

Ikhlas dan Syukur sebagai Obat

Padahal, seluruh amal yang kita lakukan sejatinya adalah karunia Allah SWT. Andai Allah tidak memberi hidayah, kesehatan, waktu, kemampuan, dan kesempatan, niscaya kita tidak mampu melakukan satu pun amal saleh.

Karena itu, obat dari penyakit-penyakit hati tersebut adalah ikhlas dan syukur.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa obat ujub adalah menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah SWT. Tidak ada satu pun amal yang dapat dilakukan tanpa taufik-Nya. Karena itu, seseorang tidak memiliki alasan untuk membanggakan dirinya.

Ikhlas berarti beramal semata-mata karena Allah SWT. Tujuannya hanya mencari ridha-Nya, bukan pujian, sanjungan, popularitas, atau penghormatan manusia. Orang yang ikhlas lebih sibuk memikirkan apakah amalnya diterima Allah daripada memikirkan apakah amalnya dipuji manusia.

Syukur berarti menyadari bahwa kemampuan beramal bukan karena kita hebat, melainkan karena Allah SWT yang memudahkan. Kesadaran inilah yang menjaga hati tetap rendah. Semakin seseorang bersyukur, semakin kecil peluang dirinya terjangkit keempat penyakit hati tersebut.

Semakin seseorang mengenal dirinya sebagai hamba yang lemah, semakin mudah baginya bersyukur. Sebaliknya, semakin merasa hebat, semakin dekat ia kepada ujub dan kesombongan.

Istighfar dan Doa

Selain itu, biasakanlah mengakhiri setiap amal dengan istighfar dan doa agar Allah menerima amal tersebut. Para salaf justru lebih khawatir amal mereka tidak diterima daripada bangga karena telah banyak beramal. Mereka memahami bahwa diterima atau tidaknya amal sepenuhnya berada di tangan Allah SWT.

Maka, setiap selesai beramal, jangan sibuk menghitung amal kita. Sibukkanlah melihat kekurangan diri. Jangan sibuk mencari pujian manusia. Sibukkanlah memohon agar Allah menerima amal kita.
Sebab, yang akan menyelamatkan kita pada Hari Kiamat bukan banyaknya amal yang kita banggakan, melainkan amal yang diterima oleh Allah SWT.

Semoga setiap amal yang kita lakukan bukan hanya banyak, tetapi juga benar, ikhlas, dan diterima di sisi-Nya.

Semoga Allah SWT menjaga hati kita dari ujub, riya', sum'ah, dan takabur. Semoga setiap amal yang kita lakukan benar-benar ikhlas karena-Nya, diterima sebagai bekal menuju akhirat, serta menjadi sebab kita memperoleh ridha-Nya. Aamiin, aamiin ya Rabbal 'alamin.[]

Depok, 12 Muharam 1448 H | 27 Juni 2026 M


Oleh: Joko Prasetyo 
Jurnalis 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar