Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Budak Branding: Tas Plastik pun Jadi Simbol Kelas


Topswara.com -- Halal bi halal tahun ini agak beda. Biasanya yang sibuk itu menu, baju, sama urusan foto keluarga. Tapi kali ini yang jadi pusat perhatian justru tas di tanganku.

Bukan karena mewah. Bukan karena branded. Tetapi karena itu kresek kuning. Iya, kresek. Yang biasa dipakai bungkus gorengan. Yang kalau di rumah, nasibnya cuma dua, yaitu kalau gak dipakai ulang atau jadi tempat sampah.

Tetapi entah kenapa di tanganku hari itu, kresek itu naik kasta. “Aduh mbak… itu tas apa sih?” “Unik banget…” “Beli di mana?” Wkwkwkwkwk goda para sepupuku.

Aku ikutan tertawa jadi pecah suasana. Aku bilang santai, “Ini limited edition…” Padahal ya emang limited. Terbatas dari warung depan rumah.

Suamiku dari jauh sudah melirik. Anak-anak mulai cekikikan. Mungkin mereka paham ini bukan sekadar tas. Ini sindiran berjalan.

Di tengah obrolan keluarga, aku duduk sambil memperhatikan satu hal betapa manusia bisa berubah sikap hanya karena bungkusan.

Kalau kresek itu ada logo luar negeri, mungkin semua orang akan bilang:
“Wah, classy…” Tetapi karena ini cuma kresek biasa, maka dia jadi bahan candaan.

Padahal fungsinya sama. Isinya juga sama. Yang beda cuma persepsi dan di situlah letak masalahnya, Sob.

Kita hidup di zaman di mana nilai ditentukan oleh merek. Bukan oleh manfaat. Bukan oleh kualitas. Apalagi oleh keberkahan. Kita tidak lagi membeli barang karena butuh, tapi karena ingin terlihat.

Terlihat mampu. Terlihat keren. Terlihat “naik level.”

Padahal yang naik itu gengsi. Bukan derajat di sisi Allah. Allah sudah ngingetin dari lama, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu…” (QS. At-Takatsur: 1)

Tetapi kita tetap saja sibuk pamer. Bukan pamer amal. Bukan pamer ilmu. Tetapi pamer logo.

Lucunya, semakin besar logonya, kadang semakin kecil akalnya. Maaf ya, ini bukan nyinyir. Ini realita.

Kapitalisme memang jago banget bikin ilusi. Barang biasa dikasih cerita, dikasih label, dikasih “nilai emosional” langsung naik harga berkali-kali lipat.

Dan kita? Dengan bahagia jadi konsumennya. Tanpa sadar jadi budak branding.

Aku kembali melihat kresek kuning di tanganku.nTiba-tiba jadi sadar bahwa masalahnya bukan di kresek. Masalahnya ada di cara kita memandang dunia.

Kita diajarkan untuk mengejar simbol, bukan makna. Mengejar pengakuan, bukan ridha Allah.

Obrolan halal bi halal makin ramai.Tawa pecah di sana-sini. Aku ikut tertawa. Tetapi dalam hati ada satu pertanyaan yang pelan-pelan mengetuk, "Sebenarnya kita hidup ini mau jadi apa?"

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pernah menjelaskan bahwa tujuan hidup seorang Muslim bukan sekadar mencari kesenangan, bukan pula mengejar pengakuan manusia, melainkan meraih ridha Allah dengan menjadikan seluruh hidupnya terikat pada hukum-Nya.

Artinya spa yang kita pakai, apa yang kita beli, apa yang kita banggakan semua harus kembali pada satu standar, Allah ridha atau tidak?

Aku menatap keluargaku. Ada yang sibuk foto. Ada yang sibuk cerita. Ada yang sibuk makan. Sederhana. Hangat. Nyata. Dan tiba-tiba semua terasa cukup.

Tanpa harus ada logo. Tanpa harus ada gengsi. Tanpa harus ada pembuktian.

Aku angkat lagi kresek kuning itu. Kali ini bukan buat bercanda. Tapi sebagai pengingat. Bahwa kalau kita tidak hati-hati, maka hidup kita bisa diisi hal-hal yang sebenarnya tidak bernilai dan lebih parahnya kita bangga dengan itu.

Jadi Sob, kalau hari ini kita masih sibuk mengejar merek, sibuk membangun citra, sibuk ingin diakui manusia mungkin kita perlu berhenti sebentar. Lalu tanya ke diri sendiri, “Aku ini hamba Allah atau hamba tren?”

Karena pada akhirnya, yang akan kita bawa pulang bukan tas mahal. Bukan merek terkenal. Bukan pujian manusia. Tetapi amal dan ridha Allah. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar