Topswara.com -- Bersamangat beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah sunnah utama Rasulullah SAW untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ibadah ditingkatkan dengan i'tikaf, shalat malam (qiyamul lail), tilawah Al-Qur'an, dan memperbanyak doa serta sedekah, terutama pada malam-malam ganjil.
Sayyidah 'Aisyah R.A. istri Nabi menceritakan bahwa Nabi SAW bersungguh-sungguh memanfaatkan sepuluh akhir Ramadhan untuk beribadah. Ini haditsnya,
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).
Yang dimaksud dengan Rasulullah mengencangkan sarungnya adalah meninggalkan istri-istri beliau karena ingin konsentrasi untuk ibadah di akhir-akhir Ramadhan. (Lihat Nuzhatul Muttaqin, hal. 68).
Hadis di atas menunjukkan perintah kepada umat untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan, terutama pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Karena di malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan ada 'lailatul qadar' yakni malam yang sangat istimewa.
Karena dimalam itu Al-Quran diturunkan, beribadah di malam lailatul-qadar itu keutamaannya lebih baik dari seribu bulan atau setara dengan 83 tahun lebih 4 bulan. masyaAllah.
Nabi saja yang sudah dijamin masuk surga, masih semangat beribadah di malam-malam terakhir Ramadhan. Bagaimana dengan kita yang masih berlumuran dosa tak sungguh-sungguh memanfaatkan malam sepuluh terakhir Ramadhan? Betapa ruginya kalau malas kita.
Keistimewaan Lailatul-Qadar
Salah satu ayat Al-Quran sebagai dalil keistimewaan Lailatul Qadar adalah surat Al-qadar :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
"Sesungguhnya, Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan, tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar". (Q.S. al-Qadr [97]: 1-5)
Surah Al Qadr, menceritakan secara lengkap keistimewaan malam Lailatul Qadar. Di malam al-qadar ini : Allah turunkan Al-Quran dari Lauhul Mahfudh ke Baitul 'Izzah (langit dunia); beramal ibadah pahalanya dilipatgandakan sampai lebih baik beramal ibadah selama seribu bulan atau setara dengan 83 tahun lebih.
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malaikat turun membawa keberkahan, rahmat, dan qadha' atau ketentuan tahunan (rezeki, kematian) atas perintah Allah.
Salah satu keutamaan 'qiyam ramadhan' (beribadah di malam Ramadhan) adalah diampuni dosanya yang telah lalu, sebagaimana hadits dibawah ini,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.رواه البخاري ومسلم عن ابي هريرة
“Barang siapa yang mendirikan lailatul Qadr karena iman dan mengharapkan pahala (dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang lalu".(HR Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Huraurah).
Kata قَامَ “mendirikan” pada hadis di atas dapat diwujudkan dalam bentuk shalat, berzikir, berdo’a, membaca Al-Quran dan berbagai bentuk kebaikan lainnya.
Perlu mendapat perhatian dari kita bahwa 'qiyam ramadhan' yang mendapat ampunan dosa yang lalu syaratnya ada dua yaitu iman dan ihtihsab (ikhlas). Konsuekuensinya amal ibadah itu harus sesuai dengan sunnah Rasul dan harus ikhlas, tidak riya' dan tidak sum'ah.
Shalat misalnya yang dilandasi iman bahwa shalat itu harus sesuai sunnah Rasul tentu harus 'ittiba' tuntunan Rasul. Harus tumakninah dan khusyuk, tidak terburu-buru.
Masalah shalat kita jangan main-main, jangan meremehkan rukun-rukun shalat baik yang terkait dengan bacaan maupun gerakan shalat.
Dalam hadis ada disebutkan bahwa Rasul pernah menyuruh seorang yang jelek shalatnya sampai tiga kali. Ini sabdanya :
ارجع فصل فاءنك لم تصل
"Ulangi shalatmu karena sungguh kamu tidak shalat" (HR.Bukhari & Muslim).
Ini menunjukkan pelaksanaan shalat, apapun shalatnya harus sesua sunnah Rasul. Betapa ruginya kalau seumur-umur shalatnya rusak sehingga tidak sah. Kalau tidak sah bagaimana akan dapat pahala, dapat ampunan Allah. Bagaimana juga akan dilipatkan setara seribu bulan?
Syarat kedua : harus istihsab yaitu mengharap pahala dari Allah alias ikhlas, tidak mengharap pujian atau sanjungan orang. Kalau ibadahnya tidak ikhlas mungkin riya' atau sum'ah, jelas tak akan dapat pahala dari Allah bahkan bisa terkena azab lantaran menduakan Allah Ta'ala.
Kapan Lailatul-Qadar itu ?
Untuk menentukan lailatul-qadar itu, timbul beberapa pendapat dari para ulama. Yang lebih kuat diantara pendapat-pendapat tadi adalah malam yang ganjil sesudah tanggal dua puluh bulan Ramadhan ( malam 21,23,25,27 dan 29) dan yang lebih sangat diharap malam 27 Ramadhan.
Rasulullah saw bersabda:
عن ابن عمر قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَن كان مُتَحَرِّيَهَا، فليترحها ليلةَ سبْعٍ وعشرينَ، رواه احمد
"Dari Ibnu Umar, Rasulullah saw bersabda, barangsiapa yang ingin mengintai malam qadar, hendaklah diintainya pada malam dua puluh tujuh" (HR.Ahmad).
Rahasianya, lailatul-qadar tidak ditentukan supaya orang bersungguh-sungguh beramal ibadah karena mengharapkannya.
Saat penentuan awal Ramadhan tidak selalu seragam. Ada yang menggunakan metode rukyatul hilal, dan ada pula yang menggunakan hisab.
Perbedaan ini membuat penghitungan malam ganjil dan genap menjadi relatif.
Oleh karena itu, jika seseorang hanya fokus pada satu jenis perhitungan, ada kemungkinan melewatkan malam yang sebenarnya merupakan Lailatul Qadar.
Daripada hanya terpaku pada tanggal tertentu, para ulama menganjurkan umat Islam untuk menghidupkan seluruh malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Cara paling efektif untuk menjemput Lailatul Qadar adalah dengan memperbanyak ibadah di seluruh malam sepuluh hari terakhir Ramadhan, baik malam ganjil maupun genap.
Amaliyah Lailatul Qadar itu sejak maghrib sampai waktu fajar. Dianjurkan agar mendapat berkah malam qadar itu, shalat fardhu dan taraweh-witir berjamaah. I'tikaf utamanya di masjid. Ibadah-ibadah lainnya bisa dikerjakan di rumah terutama untuk kaum hawa. Tentu tidak harus semalam suntuk untuk beribadah.
Beberapa amalan yang dianjurkan meliputi: Melakukan iktikaf di masjid. Shalat malam : shalat tahajud, shalat witir, shalat tobat dan lainnya. Zikir, istighfar, tahlil dan tasbih. Tilawah Al-Quran. Mengajar atau belajar agama. Memperbanyak doa dan sedekah.
Dengan menjalankan ibadah secara konsisten sepanjang sepuluh malam terakhir, seorang muslim tidak perlu khawatir melewatkan Lailatul Qadar. Peluang untuk meraih keberkahan malam mulia ini akan semakin besar.
Wallahu a'lam.
Oleh: Abdul Mukti
Pemerhati Kehidupan Beragama

0 Komentar