Topswara.com -- Tidak semua luka terlihat dari luar. Ada luka yang tidak meninggalkan bekas di kulit, tetapi diam-diam mengubah cara seseorang memandang dunia.
Ada orang yang setelah disakiti menjadi keras. Ada yang setelah dikhianati menjadi dingin. Ada yang setelah diperlakukan tidak adil berubah menjadi kejam. Luka memang bisa mengubah seseorang. Namun tidak semua perubahan adalah kedewasaan.
Kadang yang berubah bukan kekuatan hati, tetapi hanya cara kita menyakiti orang lain. Orang yang pernah dibohongi, lalu belajar berbohong. Orang yang pernah dikhianati, lalu merasa wajar mengkhianati. Orang yang pernah disakiti, lalu merasa memiliki hak untuk menyakiti. Seolah-olah luka masa lalu adalah alasan untuk mewariskan luka baru kepada orang lain.
Padahal dalam Islam, luka bukan alasan untuk menjadi zalim. Jika setiap orang membalas luka dengan luka, maka dunia hanya akan dipenuhi oleh rantai panjang kebencian yang tidak pernah selesai.
Seseorang menyakiti kita. Lalu kita menyakiti orang lain. Orang itu menyakiti orang berikutnya. Begitulah luka diwariskan tanpa pernah berhenti.
Karena itu Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah memberikan nasihat yang sangat dalam, "Jika hatimu banyak merasakan sakit, maka belajarlah dari rasa sakit itu untuk tidak memberikan rasa sakit kepada orang lain."
Kalimat ini sederhana, tetapi sangat berat dijalankan. Sebab ketika hati terluka, manusia sering ingin membalas. Ingin membuat orang lain merasakan apa yang pernah ia rasakan. Padahal membalas luka bukanlah tanda kekuatan. Seringkali itu hanya tanda bahwa luka telah berhasil menguasai hati kita.
Rasulullah SAW adalah manusia yang paling sering disakiti. Beliau dihina. Dicaci. Dituduh gila. Diludahi. Bahkan diusir dari tanah kelahirannya sendiri.
Salah satu peristiwa paling menyayat terjadi di Thaif. Penduduk kota itu menolak dakwah Rasulullah dengan cara yang sangat kejam. Mereka melempari beliau dengan batu hingga darah mengalir dari tubuhnya.
Dalam keadaan terluka seperti itu, malaikat penjaga gunung datang menawarkan sesuatu yang luar biasa, yaitu mereka siap menghancurkan kota itu dengan dua gunung. Namun Rasulullah SAW menolak.
Beliau justru berkata,
"Aku berharap dari
keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah Allah."
Inilah perbedaan antara luka yang dikelola oleh iman dan luka yang dikelola oleh amarah. Iman membuat seseorang tetap bersih meski hatinya pernah disakiti. Sementara amarah membuat seseorang berubah menjadi apa yang dulu ia benci.
Al-Qur’an bahkan memberikan satu prinsip yang sangat agung dalam menghadapi luka, "Balaslah kejahatan dengan cara yang lebih baik." (QS. Fussilat: 34)
Ayat ini bukan sekadar nasihat moral. Ia adalah cara Allah menjaga hati seorang mukmin agar tidak rusak oleh kebencian. Sebab jika hati sudah dipenuhi dendam, yang hancur bukan hanya hubungan manusia, tetapi juga ketenangan jiwa.
Ulama besar sufi, Ibn Ata Allah al-Iskandari, pernah berkata, "Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagi jiwa selain menahan diri ketika disakiti, tetapi di situlah tanda kejujuran iman."
Menahan diri dari membalas memang tidak mudah. Namun justru di situlah kemuliaan seorang mukmin terlihat. Karena orang yang kuat bukanlah orang yang mampu membalas. Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan hatinya.
Seorang mukmin tidak hidup untuk memperpanjang luka. Ia hidup untuk menjaga hatinya tetap bersih di hadapan Allah. Mungkin kamu pernah dikhianati. Mungkin kamu pernah diperlakukan tidak adil. Mungkin kamu pernah dipercaya, lalu dikecewakan. Itu semua memang menyakitkan. Tetapi dengarkan baik-baik kalimat ini.
Jangan biarkan orang yang melukaimu ikut menentukan siapa dirimu. Jangan biarkan keburukan mereka mengubah hatimu menjadi seperti mereka.
Karena pada akhirnya hidup ini bukan tentang siapa yang paling kuat membalas manusia. Hidup ini tentang siapa yang paling bersih ketika berdiri di hadapan Allah.
Biarlah manusia melakukan apa yang mereka lakukan. Biarlah mereka berkata apa yang mereka katakan. Kamu tidak harus membalas semuanya. Ada satu kalimat yang harus diingat ketika hati terasa sangat sakit,
Biarkan Allah yang membalas semuanya. Karena balasan Allah selalu adil, selalu tepat, dan selalu sepadan.
Dan seringkali, orang yang memilih tidak membalas luka justru adalah orang yang paling kuat hatinya. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar