Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Taat pada Ibu Tak Boleh Korbankan Istri: Karena Islam Tak Pernah Ajarkan Kezaliman


Topswara.com -- Dalam Islam, ibu adalah sosok yang sangat dimuliakan. Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua. Surga berada di bawah telapak kaki ibu. Tidak ada Muslim yang berakal sehat akan membantah itu.

Namun di sisi lain, Islam juga memuliakan istri. Menjadikannya amanah. Menjadikannya penenang. Menjadikannya partner hidup, bukan pelengkap penderitaan.

Masalah muncul ketika ketaatan kepada ibu dipahami secara keliru, lalu dijadikan alasan untuk mengabaikan, menyakiti, atau menzalimi istri. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan taat pada satu kebaikan dengan cara melakukan kezaliman yang lain.

Syaikh Ibnu Taimiyah menegaskan dengan sangat jelas bahwa ketaatan kepada orang tua tidak berlaku jika menyebabkan kemudaratan atau kezaliman terhadap istri.

Artinya, seorang suami tidak dibenarkan menuruti keinginan ibunya yang membuat hak istri terabaikan, kehormatannya jatuh, atau batinnya terus terluka. Karena dalam Islam, tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan.

Ibu memang harus dihormati. Tapi istri harus dilindungi. Ibu adalah pintu surga, namun istri adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Seorang suami bukan anak kecil yang berlindung di balik nama “Bakti” untuk lari dari tanggung jawab rumah tangga.

Syaikh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa kewajiban utama seorang suami adalah menafkahi, melindungi, dan memperlakukan istrinya dengan makruf dan kewajiban ini tidak gugur karena adanya perintah siapa pun, termasuk orang tua.

Islam itu adil dan keadilan tidak pernah lahir dari sikap timpang. Sayangnya, banyak perempuan diajari untuk sabar, tetapi tidak diajari bahwa mereka juga berhak dihormati. Banyak istri diminta mengalah, namun suami lupa bahwa mengalah yang terus-menerus bisa berubah menjadi kelelahan jiwa.

Islam tidak menghendaki istri hidup dalam luka demi label “Istri salihah”. Karena kesalihan tidak pernah bertentangan dengan kemanusiaan.

Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyah menegaskan bahwa fondasi syariat adalah keadilan, rahmat, dan maslahat. Apa pun yang keluar dari tiga hal ini bukan bagian dari ajaran Islam, meski dibungkus dengan dalil.

Maka keliru besar jika seorang suami merasa salih saat membela ibunya dengan cara mengorbankan istrinya. Yang benar adalah suami menjadi penyeimbang, bukan kompor. Menjadi peneduh, bukan pemantik konflik. Ibu tidak boleh dizalimi.
Istri pun tidak boleh disakiti.

Seorang laki-laki dewasa dalam Islam adalah mereka yang mampu bersikap adil, tegas tanpa kasar, lembut tanpa lemah. Ia tahu kapan harus mendengar ibunya dan kapan harus berdiri membela istrinya
tanpa durhaka dan tanpa aniaya.

Karena rumah tangga bukan arena perlombaan cinta, melainkan tempat aman di mana setiap peran dijaga kehormatannya.

Jika hari ini banyak istri terluka, bukan karena Islam, tetapi karena pemahaman yang timpang. Dan jika hari ini banyak ibu merasa kehilangan anaknya, bukan karena istri, tetapi karena suami gagal menjadi pemimpin yang bijak.

Islam tidak pernah mengadu ibu dan istri. Yang sering mengadu adalah ego, ketidakdewasaan dan ketidakmauan belajar adil. Karena pada akhirnya, laki-laki akan ditanya bukan “Seberapa patuh kau pada ibumu?” tetapi juga “Bagaimana kau menjaga amanah istrimu?”

Dan di situlah keadilan Islam berdiri dengan tegak, ibu dimuliakan, istri dilindungi, dan suami bertanggung jawab penuh di hadapan Allah. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar