Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Suami Miskin Empati Membuat Istri Kehilangan Tempat Pulang


Topswara.com -- Ada kemiskinan yang paling melelahkan, bukan karena tak punya uang, tapi karena tak punya tempat untuk didengar. Namanya, miskin empati.

Kemiskinan ini tidak membuat rumah bocor, tapi membuat hati istri retak pelan-pelan. Tidak ribut. Tidak dramatis. Hanya sunyi dan panjang.

Perempuan bisa punya rumah, punya suami, punya anak, punya status yang terlihat “utuh”. Namun tetap merasa sendirian. Karena yang hilang bukan orang, melainkan rasa pulang secara emosional.

Tempat pulang itu bukan alamat. Bukan status halal. Bukan kewajiban yang ditunaikan di atas kertas. Tempat pulang adalah rasa aman untuk berkata, “Aku capek,” tanpa disuruh lebih bersyukur. “Aku sedih,” tanpa dituduh kurang iman. “Aku butuh ditemani,” tanpa diceramahi panjang lebar.

Sayangnya, ada suami yang rajin memberi nafkah, tetapi absen secara batin. Cepat membenahi masalah, tetapi lambat memeluk perasaan. Cepat tersinggung,
tetapi pelit empati. Padahal menjadi suami bukan hanya soal kuat di luar, melainkan hadir di dalam.

Syaikh Ibnu Atha’illah mengingatkan bahwa kerasnya hati adalah tanda jauhnya seseorang dari kesadaran ruhani.

Hati yang hidup itu peka. Mau mendengar. Tidak sibuk membela ego. Empati bukan kelemahan. Empati adalah kedewasaan jiwa.

Namun ketika empati tak kunjung hadir, istri sering dipaksa memilih nyepam WA, mengeluh, berteriak atau diam dan banyak perempuan memilih diam. Bukan karena tidak sakit, tapi karena lelah harus menjelaskan berulang-ulang segala rasa pada suaminya. 

Lalu suami heran, kenapa istrinya berubah. Lebih tenang, tetapi jauh. Lebih sabar, tetapi dingin. Padahal bukan istrinya yang berubah, melainkan harapannya yang mulai gugur satu per satu dan rasa kecewanya mulai hidup satu per satu. 

Al-Ghazali menjelaskan, kerusakan akhlak sering lahir dari jiwa yang sibuk membenarkan diri, bukan dari jiwa yang mau memahami orang lain dan empati adalah bagian dari akhlak paling mendasar.

Namun, wahai para istri yang lebih memilih shalat dan sabar sebagai penolongmu dengarkanlah, jika hari ini suamimu miskin empati, jangan merasa sendirian. Karena ada kemewahan yang tidak dimiliki semua orang, yaitu Allah selalu hadir.

Saat keluhanmu tak didengar manusia, Allah mendengarnya tanpa memotong. Saat air matamu dianggap berlebihan, Allah menghitungnya sebagai ibadah kesabaran.

Ibnu Qayyim al-Jawziyya menuturkan, bahwa Allah sering menunda pertolongan
bukan karena abai, tetapi karena sedang membersihkan hati hamba-Nya dan menaikkan derajatnya.

Bersabarlah, bukan karena lukanya kecil, tetapi karena Allah Maha Besar. Sabar bukan berarti membenarkan kezaliman. Sabar adalah menjaga iman agar tidak hancur oleh luka.

Teruslah berdoa. Teruslah menjaga hatimu. Teruslah menjadi perempuan yang lembut tanpa kehilangan iman dan harga diri. Karena jika rumah adalah tempat jiwa beristirahat dan manusia yang kamu cintai gagal menjadi tempat pulang,
maka Allah tidak pernah gagal.

Dan kepada para suami, ingatlah satu hal sederhana namun mahal bahwa rasa empatimu kepada istrimu bisa menyelamatkan rumah, bahkan sebelum harta datang. Barakallahufikum. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar