Topswara.com -- Di negeri ini, ada ironi yang bikin dada sesak dan senyum miris, yaitu guru honorer digaji Rp500 ribu per bulan, sementara petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) digaji Rp2,2–3,2 juta plus segudang tunjangan.
Bukan hendak merendahkan profesi siapa pun. Semua pekerjaan halal itu mulia. Tapi mari jujur, yang mencetak masa depan bangsa itu guru, bukan sendok nasi.
Mengutip timesindonesia.co.id (20/1/2026), Abdul Aziz, guru SDN Sawojajar 4 Kota Malang, mengungkapkan bahwa gajinya hanya sekitar Rp500 ribu per bulan. Bahkan banyak guru TK dan PAUD menerima gaji di bawah itu. Bayangkan, mendidik generasi bangsa dengan penghasilan yang bahkan tak cukup membeli beras sebulan.
Sementara itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru menyedot anggaran fantastis hingga Rp355 triliun, bahkan memotong anggaran pendidikan. Ironi makin pedih saat karyawan SPPG digaji jutaan, mendapat tunjangan keluarga, pangan, jabatan, dan peluang diangkat PPPK.
Sedangkan guru? Masih bergulat dengan status honorer, ketidakpastian, dan pengabdian yang dibalas air mata. Di titik ini kita patut bertanya, negara ini ingin mencetak generasi cerdas atau hanya generasi kenyang?
Karena murid tidak hanya butuh gizi fisik, tetapi juga gizi pemikiran, akhlak, dan kepribadian. Dan semua itu lahir dari guru, bukan dari piring makan.
Kapitalisme: Ketika Ilmu Kalah oleh Proyek
Inilah wajah sistem kapitalisme. Segala sesuatu diukur dari proyek, bukan dari urgensi peradaban. Yang terlihat cepat, viral, dan politis akan diprioritaskan. Sementara yang membangun masa depan jangka panjang seperti pendidikan justru dipinggirkan.
Guru diperlakukan seperti buruh murah. Ilmu diperlakukan seperti barang murahan. Padahal dari tangan gurulah lahir dokter, insinyur, ilmuwan, ulama, dan pemimpin.
Lucunya, kita ingin Indonesia emas 2045, tapi pondasinya kita rapuhkan hari ini.
Negara gemar bicara SDM unggul, tapi guru dibiarkan hidup pas-pasan. Negara rajin kampanye gizi, tapi akal generasi dibiarkan lapar.
Islam: Guru Itu Aset Peradaban, Bukan Beban Anggaran
Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar sektor, tapi jantung peradaban. Guru bukan beban APBN, tapi aset strategis umat.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa negara dalam Islam wajib menjamin pendidikan gratis, bermutu, dan merata, serta memuliakan guru dengan kesejahteraan yang tinggi, agar mereka fokus mendidik, bukan sibuk mencari tambahan penghasilan demi bertahan hidup.
Dalam sejarah peradaban Islam, tidak ada istilah guru honorer. Negara menggaji guru dengan layak, bahkan tinggi, karena mereka sadar: satu guru bisa menyelamatkan ribuan masa depan.
Pendidikan diberikan gratis. Buku disediakan negara. Murid dijamin kebutuhannya. Orang tua dijamin pekerjaannya. Guru dimuliakan. Bukan sebaliknya, tenaga guru diperas, murid dijejali proyek, dan orang tua dibiarkan stres sendirian.
Gizi fisik penting, tapi gizi akal jauh lebih menentukan. Program makan gratis memang penting. Tapi akal yang lapar lebih berbahaya daripada perut yang lapar.
Anak yang kenyang tapi bodoh akan menjadi beban bangsa.
Anak yang kenyang tetapi kosong nilai akan mudah rusak. Anak yang kenyang tapi miskin adab akan menjadi petaka sosial. Maka, gizi pemikiran harus seimbang dengan gizi fisik dan itu hanya bisa dilakukan jika guru dimuliakan, disejahterakan, dan difokuskan pada tugas sucinya, yaitu mendidik.
Guru lelah, negara harus malu. Ketika guru tetap mengajar dengan ikhlas di tengah gaji tak manusiawi, sesungguhnya yang seharusnya malu adalah negara.
Ketika guru tetap tersenyum walau dompetnya menangis, sesungguhnya yang seharusnya berkaca adalah para pembuat kebijakan. Karena bangsa besar bukan diukur dari proyek makannya, tapi dari kualitas gurunya.
Saatnya Berpihak: Untuk Guru, untuk Masa Depan Bangsa
Sudah saatnya kampus-kampus pendidikan, akademisi, dan intelektual turun bersuara. Bukan sekadar seminar, tapi nota keberatan nasional. Karena pendidikan bukan biaya, tapi investasi peradaban dan guru bukan beban negara, tapi penentu arah sejarah. Jika hari ini guru dipinggirkan, maka esok kita akan menuai generasi rapuh. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar