Topswara.com -- Jatuh cintalah pada perjalananmu sendiri bukan pada versi hidup orang lain yang terlihat indah di permukaan.
Cintailah prosesmu, termasuk luka, ragu, dan air mata yang pernah kau sembunyikan. Karena justru di situlah Allah sedang memahat jiwamu menjadi lebih kokoh.
Kesulitan tidak datang untuk menghancurkan, tetapi untuk membentuk. Kesendirian tidak hadir untuk menghinakan, tetapi untuk mengajarkanmu berdiri tegak tanpa sandaran manusia.
Sering kali kita tergoda membandingkan langkah kita dengan langkah orang lain. Kita iri pada senyum yang tampak mulus, pada keberhasilan yang terlihat instan, pada ketenangan yang tampak tanpa badai. Padahal, setiap manusia berjalan di medan ujian yang berbeda.
Sebagian diuji dengan kekurangan, sebagian diuji dengan kelimpahan. Sebagian diuji dengan kehilangan, sebagian diuji dengan pilihan. Dan di balik setiap ujian, Allah sedang menenun takdir yang lebih indah dari yang bisa kita bayangkan.
Jatuh cintalah pada perjalananmu, karena di sanalah kau belajar sabar ketika semuanya terasa berat. Di sanalah kau belajar tawakal ketika jalan tampak gelap. Di sanalah kau belajar ikhlas ketika harapanmu tidak terwujud.
Perjalanan hidup bukan panggung untuk terlihat sempurna, tetapi sekolah untuk menjadi lebih matang di hadapan Allah.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah Al-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan, “Boleh jadi Allah menutup pintu yang kau sukai, karena Dia ingin membukakan pintu yang lebih baik bagimu.”
Kalimat ini mengajarkan bahwa kekecewaan bukan tanda kegagalan, tetapi sering kali pintu menuju kebaikan yang belum kita pahami.
Maka, mencintai perjalanan berarti menerima bahwa tidak semua hal berjalan sesuai rencana, namun semuanya berjalan sesuai hikmah.
Ibnu ‘Atha’illah juga berkata, “Tenangnya hati bukan karena menguasai keadaan, tetapi karena menyerahkan diri kepada Allah.”
Orang yang jatuh cinta pada perjalanannya bukanlah yang hidup tanpa masalah, tetapi yang hatinya belajar bersandar kepada Rabb-nya. Ia tidak panik saat badai datang, karena ia tahu siapa yang memegang kendali atas takdirnya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa ujian bagi orang beriman adalah bentuk pemurnian jiwa. Allah terkadang mengurangi kenyamanan dunia agar hamba-Nya tidak tertipu olehnya.
Maka, setiap kesulitan dalam perjalananmu sebenarnya adalah bentuk kasih sayang Allah yang halus untuk membersihkan hatimu dari ketergantungan pada selain-Nya.
Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya husnuzhan (berbaik sangka) kepada Allah.
Orang yang mencintai perjalanannya tidak tenggelam dalam prasangka buruk terhadap takdir, tetapi belajar melihat setiap peristiwa dengan kacamata iman. Ia tahu bahwa di balik setiap pahit, ada manis yang disimpan Allah.
Kesendirian pun bukan musuh, tetapi guru. Di saat sunyi, kau belajar mendengar bisikan hatimu sendiri. Di saat tidak ada yang menguatkan, kau belajar bahwa kekuatan sejati datang dari Allah. Banyak jiwa tumbuh paling indah justru di ruang-ruang sepi, jauh dari sorotan dan pujian manusia.
Jatuh cintalah pada versi dirimu yang bangkit setelah jatuh. Pada dirimu yang memilih sabar saat ingin menyerah. Pada dirimu yang tetap berbuat baik meski dikecewakan. Pada dirimu yang tetap berdoa meski belum melihat jawaban. Di sanalah kemuliaanmu terbentuk.
Inilah mentalitas orang beriman, ia tidak mengukur hidup dari seberapa mulus jalannya, tetapi dari seberapa teguh imannya. Ia tidak melihat kesulitan sebagai musuh, tetapi sebagai sarana untuk naik level, ya level sabar, level tawakal, level keikhlasan, dan level cinta kepada Allah.
Maka, jangan tergesa ingin sampai. Jangan terburu-buru membenci proses. Setiap langkah (baik yang terasa ringan maupun yang terasa berat) adalah bagian dari cerita yang Allah tuliskan khusus untukmu. Tidak ada perjalanan yang sia-sia jika ditempuh dengan iman.
Jatuh cintalah pada perjalananmu sendiri. Pada setiap air mata yang membersihkan hatimu. Pada setiap kejatuhan yang mengajarkanmu bangkit. Pada setiap doa yang menguatkan langkahmu. Karena pada akhirnya, yang akan kau bawa menghadap Allah bukan kesempurnaan hidupmu, tetapi kejujuran imanmu sepanjang perjalanan.
Dan ingatlah sob, bukan seberapa cepat kau sampai, tetapi seberapa anggun kau berjalan tanpa kehilangan iman, tanpa kehilangan adab, dan tanpa kehilangan cinta kepada Rabb-mu.[]
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar