Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Berprasangka Baik kepada Allah adalah Obat Luka Terbaik


Topswara.com -- Jujur saja, luka batin itu sekarang kayak paket data sob, banyak pilihannya. Mau konseling? Ada. Mau healing? Tinggal pilih gunung, pantai, atau kafe estetik. Mau pengajian? Tinggal scroll, ustaznya ada yang lembut, ada yang tegas, ada yang bikin nangis, ada yang bikin mikir. Mau obat penenang? Tinggal resep, asal dompet kuat.

Tetapi anehnya, banyak yang sudah mencoba semuanya, tetapi tetap saja hatinya nyeri. Lukanya sembuh sebentar, eh kambuh lagi. Kenapa? Karena yang diobati cuma gejalanya, bukan akar masalahnya.

Masalah paling dasar dari luka batin bukan kurang liburan, bukan kurang teman curhat, dan bukan kurang validasi. Masalah paling mendasar adalah mindset yang tidak islami. 

Selama cara pandang kita terhadap hidup masih sekuler, yaitu mengukur bahagia dari manusia, menilai aman dari keadaan, dan berharap tenang dari hasil, maka luka akan selalu punya pintu masuk.

Kita sering berkata, “Aku sudah berusaha sabar,” tapi di dalam hati masih bertanya, “Kenapa Allah tambah begini ke aku?” 

Kita mengaku beriman, tapi diam-diam menyimpan prasangka, “Allah kok kayaknya pilih kasih ya?” Nah, di situlah masalahnya. Luka itu bukan karena takdirnya berat, tapi karena prasangka kita kepada Allah sedang rusak.

Berprasangka baik kepada Allah bukan kalimat manis buat status WhatsApp. Ia adalah obat batin paling mahal tetapi gratis. Ia bukan menghapus air mata, tetapi membuat air mata tidak berubah jadi racun. Ia tidak langsung menghilangkan masalah, tetapi membuat masalah kehilangan taringnya.

Coba jujur, Sob. Banyak dari kita terluka bukan karena kejadian, tapi karena kesimpulan kita sendiri. Kita menyimpulkan, “Ini pasti akhir hidupku.” Kita menyimpulkan bahwa “Allah sedang menghukumku.” 

Kita menyimpulkan, “Hidupku gagal, aku bukan istri yang baik.”

Padahal Allah tidak pernah bilang begitu. Itu cuma suara hati yang lelah dan iman yang kurang asupan. Makanya, mau dikonseling seintensif apa pun, kalau mindset-nya masih, “Hidup harus sesuai mauku baru aku tenang,” ya luka tidak akan sembuh. 

Mau diajak pengajian ke mana pun, kalau masih berpikir: “Kenapa hidup orang lain lebih enak dari aku?” ya hati tetap panas. Mau healing ke Bali, Jepang, atau ujung dunia, kalau pulangnya masih menyimpan prasangka buruk kepada Allah, ya healing-nya cuma pindah lokasi, bukan pindah sudut pandang.

Bahkan obat penenang pun cuma menenangkan saraf, bukan meluruskan iman. Ia bikin ngantuk, bukan bikin yakin. Ia bikin tidur nyenyak, bukan bikin ridha.

Islam mengajarkan satu hal yang sering diremehkan, yaitu husnuzhan billah (berprasangka baik kepada Allah). Ini bukan pasrah tanpa usaha, tetapi percaya penuh bahwa Allah tidak sedang salah mengatur hidup kita. Bahwa apa pun yang terjadi, entah pahit atau manis, tidak pernah keluar dari cinta-Nya.

Orang yang berprasangka baik kepada Allah mungkin tetap menangis, tapi ia tidak putus asa. Ia mungkin terluka, tapi tidak membenci takdir. Ia mungkin kecewa pada manusia, tapi tidak memindahkan kekecewaan itu kepada Allah.

Perhatikan bedanya, orang yang hatinya rusak bilang, “Kenapa aku ya Allah?” Orang yang hatinya sehat bilang, “Apa hikmah dari Allah untuk aku?”

Yang satu makin tenggelam, yang satu makin naik level. Berprasangka baik kepada Allah itu seperti kacamata. Hidupnya sama, masalahnya sama, ujiannya sama. Tetapi yang satu melihatnya sebagai hukuman, yang satu melihatnya sebagai proses. Yang satu merasa ditinggalkan, yang satu merasa sedang dibimbing.

Makanya, sebelum cari konselor, periksa dulu prasangkamu. Sebelum cari tempat healing, cek dulu keyakinanmu. Jangan-jangan bukan hatimu yang rapuh, tetapi cara pandangmu yang salah arah.

Allah tidak pernah berniat menghancurkan hamba-Nya. Yang sering menghancurkan kita itu adalah prasangka buruk kita sendiri. Kita menyangka Allah kejam, padahal Dia sedang menyelamatkan. Kita menyangka Allah jauh, padahal Dia sedang mengajari kita berdiri tanpa bergantung pada manusia.

Jadi, kalau hatimu sedang luka hari ini, jangan cuma cari pelarian. Cari keyakinan. Jangan cuma cari pelukan manusia. Cari kedekatan dengan Allah. Karena luka yang diobati dengan iman tidak selalu hilang seketika, tapi berubah menjadi kekuatan.

Dan percayalah sob, orang yang berprasangka baik kepada Allah mungkin tidak selalu bahagia setiap hari, tapi ia tidak pernah sendirian dalam lukanya. 

Bersama Allah, ia akan berdiri tegak melawan badai. Bukan karena hidupnya tanpa ujian, tetapi karena hatinya tidak lagi bergantung pada keadaan. Ia mungkin terluka, mungkin menangis, tetapi ia tidak tumbang. Karena yang menopangnya bukan manusia, melainkan Rabb semesta alam.

Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari berkata, “Barang siapa bersandar kepada Allah, maka tidak ada yang dapat menjatuhkannya.”

Inilah rahasia keteguhan orang beriman. Badai boleh datang, ombak boleh menghantam, tetapi hati yang bersandar kepada Allah tidak akan hanyut. Ia mungkin goyah sesaat, namun selalu kembali berdiri lebih tenang, lebih kuat, dan lebih yakin.

Karena bersama Allah, luka tidak mematahkan langkah. Ia justru menguatkan jiwa untuk terus berjalan dengan iman. []


Oleh: Nabila Zidane 
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar