Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Tiga Nasihat Umar bin Khattab r.a. dan Utsman bin Affan r.a.

Topswara.com -- Sobat, Umar bin Khattab r.a pernah menasihatkan, pertama, sikap sayang terhadap sesama manusia adalah separuh kecerdasan, kedua, pertanyaan yang baik adalah separuh ilmu, ketiga, manajemen yang baik adalah separuh penghidupan.

Umar bin Khattab (r.a) adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW dan merupakan salah satu dari empat khalifah yang dianggap paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Kutipan-kutipan yang disebutkan adalah beberapa dari ajaran dan nasihatnya yang terkenal. Berikut adalah penjelasan singkat untuk setiap nasihat:

1. "Sikap sayang terhadap sesama manusia adalah separuh kecerdasan", ini menekankan pentingnya empati, perhatian, dan kebaikan terhadap sesama sebagai bagian integral dari kecerdasan seseorang. Kemampuan untuk memahami, merasakan, dan memperlakukan orang lain dengan kasih sayang adalah tanda dari kecerdasan emosional yang tinggi.

2. "Pertanyaan yang baik adalah separuh ilmu", Umar bin Khattab menekankan pentingnya bertanya dengan baik dan benar. Pertanyaan yang tepat membantu seseorang untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang suatu masalah atau konsep. Dengan bertanya dengan benar, seseorang dapat memperoleh pengetahuan yang lebih dalam dan luas.

3. "Manajemen yang baik adalah separuh penghidupan", Ini menyoroti pentingnya keterampilan manajemen dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan untuk mengelola waktu, sumber daya, dan tugas dengan efisien sangat penting untuk kesuksesan dan keseimbangan dalam kehidupan. Manajemen yang baik membantu seseorang untuk mencapai tujuan-tujuan mereka dengan lebih efektif dan efisien.

Kutipan-kutipan tersebut mencerminkan pemikiran yang mendalam dari Umar bin Khattab (R.A) tentang nilai-nilai moral, pengetahuan, dan keterampilan yang penting dalam kehidupan manusia.

Siapa yang meninggalkan kesenangan dunia, dia akan dicintai Allah SWT. Siapa yang menghindari dosa-dosa, dia akan dicintai para malaikat. Siapa yang menyingkirkan sifat tamak dari milik umat Islam, dia akan dicintai oleh mereka. Demikian nasihat Utsman bin Affan.

Sobat, nasihat di atas adalah salah satu dari banyak nasihat bijak yang ditinggalkan oleh Utsman bin Affan (R.A), salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga merupakan khalifah ketiga dalam sejarah Islam. Nasihat tersebut menyoroti beberapa prinsip penting dalam agama Islam:

1. Meninggalkan Keserakahan Terhadap Dunia: Utsman bin Affan mengingatkan bahwa meninggalkan kesenangan dunia, seperti harta dan kenikmatan duniawi lainnya, adalah tindakan yang dicintai oleh Allah SWT. Ini mencerminkan ajaran Islam tentang pentingnya tidak terlalu terikat pada dunia material, dan lebih memfokuskan diri pada akhirat dan kebaikan spiritual.

2. Menghindari Dosa: Utsman bin Affan juga menekankan pentingnya menghindari dosa-dosa. Dosa-dosa merupakan pelanggaran terhadap ajaran Islam dan menjauhkan seseorang dari jalan yang benar. Dengan menghindari dosa, seseorang dapat mendapatkan cinta dan keridhaan Allah SWT, serta dicintai oleh para malaikat.

3. Menyingkirkan Sifat Tamak: Utsman bin Affan juga menekankan pentingnya untuk menyingkirkan sifat tamak atau serakah dari umat Islam. Sifat tamak dapat menghalangi seseorang dari mempraktikkan kedermawanan, berbagi dengan sesama, dan mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Dengan menghilangkan sifat tamak, seseorang dapat memperoleh cinta dan penghormatan dari umat Islam.
Nasihat-nasihat ini menyoroti nilai-nilai spiritual dan moral dalam Islam, serta mengajak umat Muslim untuk memperbaiki hubungan mereka dengan Allah SWT, malaikat, dan sesama manusia dengan menjauhi keserakahan, dosa-dosa, dan sifat-sifat negatif lainnya.

Dari sekian banyak nikmat dunia, cukuplah Islam sebagai nikmat bagimu.

"Nikmat dunia" adalah segala sesuatu yang ada di dunia ini yang memberikan kesenangan, kenyamanan, atau kepuasan kepada manusia. Ungkapan "Dari sekian banyak nikmat dunia, cukuplah Islam sebagai nikmat bagimu" menunjukkan bahwa di antara semua nikmat yang dapat diperoleh di dunia ini, Islam adalah yang paling berharga dan memadai bagi seseorang.

Dalam konteks ini, Islam dianggap sebagai nikmat yang paling besar dan penting. Hal ini karena Islam memberikan pedoman hidup yang lengkap dan menyeluruh, membimbing manusia dalam menjalani kehidupan mereka dengan cara yang benar dan membawa mereka menuju kebahagiaan dan keberhasilan, baik di dunia maupun di akhirat.

Ungkapan tersebut juga menekankan bahwa seseorang seharusnya bersyukur atas anugerah Islam yang diberikan Allah SWT. Dengan menjalankan ajaran Islam dengan baik, seseorang diharapkan akan meraih kebahagiaan sejati dan keberkahan di dunia ini, serta mendapatkan kebahagiaan abadi di akhirat. Oleh karena itu, dalam pandangan Islam, memilih untuk mengikuti ajaran Islam adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan oleh manusia.

Dari sekian banyak kesibukan, cukuplah ketaatan sebagai kesibukan bagimu.

Sobat, ungkapan "Dari sekian banyak kesibukan, cukuplah ketaatan sebagai kesibukan bagimu" menyiratkan bahwa di antara segala kesibukan dan aktivitas yang dapat mengisi kehidupan seseorang, ketaatan kepada Allah SWT dan menjalankan perintah-Nya adalah yang paling penting dan memadai.

Dalam konteks ini, "ketaatan" mengacu pada mematuhi ajaran-ajaran Islam, melaksanakan ibadah, dan menjalankan tugas-tugas agama dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Ungkapan ini mengingatkan bahwa di tengah-tengah kesibukan dunia yang seringkali membutakan manusia dari prioritas spiritualnya, ketaatan kepada Allah haruslah menjadi fokus utama.

Dengan menjadikan ketaatan sebagai kesibukan utama, seseorang menunjukkan kesadaran akan tujuan sejati hidupnya dan memberikan prioritas yang tepat kepada kehidupan rohani. Ini juga mengingatkan bahwa kesibukan dalam beribadah dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah investasi terpenting yang dapat membawa kebahagiaan dan keberkahan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.

Ungkapan tersebut menegaskan pentingnya menjaga hubungan yang kuat dengan Allah SWT dan menjalankan ketaatan kepada-Nya sebagai inti dari kehidupan seseorang di atas segala kesibukan dan aktivitas lainnya.

Dari sekian banyak pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu.

Ungkapan "Dari sekian banyak pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu" menyoroti pentingnya memahami dan merenungkan kematian sebagai pelajaran hidup yang paling penting. Dalam konteks ini, kematian dianggap sebagai guru yang paling agung karena ia mengingatkan manusia tentang keterbatasan hidupnya di dunia ini.

Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari kematian termasuk:

1. Keterbatasan Hidup Dunia: Kematian mengingatkan kita bahwa hidup di dunia ini adalah sementara. Hal ini mendorong kita untuk tidak terlalu terikat pada kehidupan duniawi, melainkan untuk mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.

2. Kesadaran Akan Akhirat: Kematian memperkuat kesadaran akan adanya kehidupan setelah mati dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Hal ini mendorong kita untuk melakukan amal shaleh dan meningkatkan kualitas spiritual kita untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan di akhirat.

3. Prioritas Hidup yang Jelas: Memahami kematian membantu kita menetapkan prioritas hidup yang jelas. Kita menjadi lebih cenderung untuk fokus pada hal-hal yang memiliki nilai abadi dan menghindari kesia-siaan dalam mengejar kenikmatan duniawi yang sementara.

4. Meningkatkan Kualitas Hidup: Kesadaran akan kematian dapat mendorong kita untuk hidup dengan lebih bermakna dan bermanfaat. Kita menjadi lebih cenderung untuk menghargai setiap momen hidup dan memanfaatkannya sebaik mungkin untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain.

Dengan memahami kematian sebagai pelajaran utama dalam hidup, kita dapat hidup dengan lebih bijaksana, bertanggungjawab, dan berpandangan jauh ke depan menuju kehidupan yang lebih baik di dunia ini dan di akhirat.

Nabi Daud AS pernah berkata telah diwayukan kepadaku dalam kitab Zabur. Tugas orang berakal adalah tidak menyibukkan diri, kecuali dalam tiga hal berikut, pertama adalah bekal untuk kembali ke kampung akherat, kedua, mencari biaya untuk kehidupan dunia, ketiga mencari kenikmatan dengan cara halal.

Ucapan Nabi Daud AS yang Anda sebutkan mengandung ajaran yang penting tentang bagaimana seseorang seharusnya memprioritaskan kegiatan dalam hidupnya. Ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang harus bekerja dan berusaha untuk mencapai kesejahteraan di dunia ini, ada tiga hal utama yang harus menjadi fokus utama:

1. Bekal untuk Kembali ke Kampung Akhirat: Ini mengacu pada persiapan spiritual untuk akhirat, seseorang harus berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, melakukan amal shaleh, dan memperkuat imannya sebagai persiapan untuk kembali ke hadapan-Nya setelah kematian. Ini adalah bekal yang paling penting dan tidak boleh diabaikan.

2. Mencari Biaya untuk Kehidupan Dunia: Seseorang harus bekerja dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya dan keluarganya. Hal ini mencakup mencari nafkah, mencari pekerjaan, dan melakukan usaha lainnya untuk mencapai keberhasilan materi dan kesejahteraan di dunia ini.

3. Mencari Kenikmatan dengan Cara Halal: Seseorang diizinkan untuk mengejar kenikmatan dalam hidupnya, tetapi harus melakukannya dengan cara yang halal dan sesuai dengan ajaran agama. Ini menunjukkan bahwa seseorang tidak harus menolak kenikmatan dunia, tetapi harus memastikan bahwa cara yang dipilih untuk mencapai kenikmatan tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip agama.

Dengan mengutip dari kitab Zabur, Nabi Daud AS memberikan pengajaran yang relevan tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani hidupnya dengan bijak, seimbang, dan berdasarkan prinsip-prinsip agama. Hal ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan urusan akhirat, serta memastikan bahwa segala tindakan yang dilakukan sesuai dengan ajaran agama yang benar.

Tiga hal yang menyelamatkan manusia dari siksa Allah, pertama, takut kepada Allah saat sendirian maupun di tempat ramai. Kedua, hemat, baik saat tidak mempunyai apa-apa maupun saat berkecukupan. Tiga, adil, baik saat rida maupun saat benci.

Ungkapan yang  disebutkan adalah ajaran yang bijak tentang tiga hal yang dapat menyelamatkan manusia dari siksa Allah. Ini menyoroti prinsip-prinsip yang penting dalam agama Islam yang dapat membimbing seseorang untuk menjalani kehidupan yang benar di hadapan Allah SWT. Berikut adalah penjelasan singkat untuk setiap poin:

1. Takut kepada Allah saat Sendirian maupun di Tempat Ramai: Ini menunjukkan pentingnya takwa atau rasa takut dan ketaatan kepada Allah SWT, dalam setiap situasi. Seseorang harus menyadari bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui segala perbuatannya, baik saat ia sendirian maupun di tengah keramaian. Kesadaran akan kehadiran Allah harus mendorong seseorang untuk berperilaku dengan baik dan menghindari dosa, bahkan ketika tidak ada orang lain yang menyaksikannya.

2. Hemat, baik saat Tidak Memiliki Apa-apa maupun saat Berkecukupan: Ini menyoroti pentingnya sikap hemat dan bersyukur dalam mengelola harta dan kekayaan. Seseorang harus bijaksana dalam pengeluaran, baik ketika sedang mengalami kesulitan ekonomi maupun ketika memiliki kecukupan. Sikap hemat membantu seseorang untuk menghindari pemborosan dan keserakahan, sementara sikap bersyukur mengajarkan seseorang untuk menyukuri nikmat-nikmat yang diberikan Allah, apa pun situasinya.

3. Adil, baik saat Rida maupun saat Benci: Ini menekankan pentingnya keadilan dalam hubungan dengan orang lain, tanpa memandang apakah seseorang menyukai atau membenci mereka. Seseorang harus bersikap adil dan berlaku dengan kejujuran dan kebenaran, baik dalam situasi yang menyenangkan maupun sulit. Keadilan adalah prinsip penting dalam Islam yang mencerminkan ajaran tentang perlakuan yang sama terhadap semua orang, tanpa memandang perbedaan atau preferensi pribadi.

Dengan mengikuti prinsip-prinsip ini, seseorang diharapkan dapat menghindari siksa Allah SWT dan mendapatkan rahmat-Nya. Ini adalah pandangan yang berharga dalam Islam yang mengajarkan nilai-nilai moral, etika, dan tanggung jawab sosial.

Tiga hal yang merusak adalah : Terlalu bakhil atau kikir. Menuruti Hawa nafsu. Bangga terhadap diri sendiri.
Ungkapan tersebut mengidentifikasi tiga hal yang dapat merusak seseorang, baik secara spiritual maupun sosial. Berikut adalah penjelasan singkat untuk setiap poin:

1. Terlalu Bakhil atau Kikir: Sikap yang terlalu bakhil atau kikir merujuk pada sifat serakah dan tidak mau berbagi dengan orang lain. Ketika seseorang terlalu berpegang pada harta dan kekayaan mereka sendiri, tanpa mau memberikan kepada yang membutuhkan atau mengulurkan tangan kepada orang lain, hal itu dapat merusak hubungan sosial dan kehidupan bermasyarakat.

2. Menuruti Hawa Nafsu: Menuruti hawa nafsu merujuk pada tindakan yang dipengaruhi oleh keinginan duniawi dan hawa nafsu yang tidak terkendali. Ketika seseorang terlalu tunduk pada hawa nafsu mereka, tanpa mempertimbangkan akibatnya atau tanpa mematuhi ajaran agama, hal itu dapat mengarah pada perilaku yang merusak baik secara moral maupun spiritual.

3. Bangga Terhadap Diri Sendiri: Sikap bangga atau angkuh terhadap diri sendiri dapat merusak hubungan antarmanusia dan menyebabkan ketegangan sosial. Ketika seseorang terlalu membanggakan diri sendiri atau merasa lebih tinggi dari orang lain, tanpa mengakui kerendahan hati dan nilai-nilai kesederhanaan, hal itu dapat memicu konflik dan ketidakharmonisan dalam interaksi sosial.

Dengan menghindari tiga hal ini, seseorang dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan sesama, memperkuat kualitas spiritual dan moral, serta menciptakan lingkungan sosial yang lebih harmonis dan damai. Ajaran-ajaran seperti ini sering ditemukan dalam berbagai tradisi agama dan filosofi yang menekankan pentingnya sikap rendah hati, kemurahan hati, dan pengendalian diri.

Dalam Kitab Nashoihul Ibad karya Imam An-Nawawi disebutkan tiga hal yang meninggikan derajat di akherat adalah, pertama, mengucapkan salam, baik kepada orang yang dikenal maupun yang tidak. Kedua, memberi makan bagi tamu dan orang yang lapar. Ketiga, sholat malam di saat orang-orang sedang tidur.

Ungkapan tersebut merujuk pada ajaran dalam Kitab "Nashoihul Ibad" karya Imam Nawawi, yang memberikan penekanan pada tiga tindakan yang dapat meninggikan derajat seseorang di akhirat. Berikut adalah penjelasan singkat untuk setiap poin:

1. Mengucapkan Salam Baik kepada Orang yang Dikenal maupun yang Tidak: Mengucapkan salam adalah tindakan sederhana yang memiliki makna besar dalam Islam. Ini mencerminkan sikap ramah, hormat, dan kedamaian terhadap sesama manusia. Dalam Islam, memberikan salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal adalah amal yang dianjurkan dan dapat meningkatkan kebaikan dan kesadaran sosial seseorang.

2. Memberi Makan bagi Tamu dan Orang yang Lapar: Memberi makan kepada tamu dan orang yang lapar merupakan perbuatan mulia yang dianjurkan dalam Islam. Ini mencerminkan kepedulian, kemurahan hati, dan kepedulian terhadap kebutuhan orang lain. Dalam Islam, memberi makan kepada orang yang membutuhkan dianggap sebagai amal yang sangat baik dan dapat mendatangkan berkah serta pahala di akhirat.

3. Sholat Malam di Saat Orang-orang Sedang Tidur: Sholat malam, atau tahajud, adalah ibadah tambahan yang dianjurkan dalam Islam. Melaksanakan sholat malam menunjukkan ketulusan, kesungguhan, dan kecintaan seseorang kepada Allah SWT. Sholat malam, khususnya di saat orang-orang sedang tidur, menunjukkan kesungguhan seseorang dalam memperbaiki hubungan spiritualnya dengan Allah SWT yang dapat meningkatkan derajatnya di akhirat.

Tiga tindakan tersebut mencerminkan nilai-nilai moral dan spiritual yang penting dalam Islam, seperti kebaikan, kemurahan hati, kedamaian, kesungguhan, dan ibadah. Dengan mengamalkan tiga hal tersebut, seseorang diharapkan dapat meningkatkan derajatnya di akhirat serta mendapatkan keridhaan dan berkah dari Allah SWT.

Adapun tiga hal yang menghapus dosa adalah : Menyempurnakan wudhu meskipun cuaca sangat dingin, melangkahkan kaki untuk sholat berjamaah, menunggu datangnya waktu sholat yang berikutnya setelah mengerjakan sholat.

Ungkapan tersebut merujuk pada ajaran dalam Kitab "Nashoihul Ibad" karya Imam Nawawi, yang memberikan penekanan pada tiga tindakan yang dapat menghapus dosa seseorang. Berikut adalah penjelasan singkat untuk setiap poin:

1. Menyempurnakan Wudhu Meskipun Cuaca Sangat Dingin: Menyempurnakan wudhu, atau berwudhu dengan sempurna, adalah salah satu tindakan yang dapat menghapus dosa. Ini menunjukkan ketundukan dan kesungguhan seseorang dalam menjalankan ibadah. Bahkan dalam kondisi cuaca yang sangat dingin atau tidak nyaman, seseorang tetap melaksanakan wudhu dengan baik, menunjukkan keseriusan dan ketekunan dalam menjalankan perintah Allah SWT.

2. Melangkahkan Kaki untuk Shalat Berjamaah: Melangkahkan kaki untuk shalat berjamaah adalah tindakan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Shalat berjamaah adalah salah satu bentuk ibadah yang ditekankan dalam Islam, dan melaksanakannya dapat menghapus dosa-dosa kecil. Dengan bergabung dalam shalat berjamaah, seseorang menunjukkan ketaatan kepada perintah Allah SWT dan menciptakan ikatan yang erat dengan komunitas Muslim lainnya.

3. Menunggu Datangnya Waktu Sholat yang Berikutnya Setelah Mengerjakan Sholat: Menunggu datangnya waktu sholat yang berikutnya setelah mengerjakan sholat merupakan tindakan yang juga sangat dianjurkan dalam Islam. Ini menunjukkan kesabaran dan ketekunan seseorang dalam menjaga ketaatan kepada Allah SWT. Dengan menunggu waktu sholat berikutnya, seseorang terus memperkuat hubungannya dengan Allah SWT dan meningkatkan kesadaran spiritualnya.

Tiga tindakan tersebut mencerminkan nilai-nilai kesungguhan, ketekunan, ketaatan, dan kesabaran dalam menjalankan ibadah. Dengan mengamalkan tiga hal tersebut, seseorang diharapkan dapat menghapus dosa-dosanya dan mendapatkan keridhaan serta berkah dari Allah SWT.

Malaikat Jibril as berkata : Wahai Muhammad! Hiduplah semaumu, tetapi kelak engkau pasti mati. Cintai siapa saja, tetapi engkau pasti berpisah dengannya. Beramallah semaumu, tetapi engkau pasti mendapatkan balasannya.

Ungkapan yang disebutkan merupakan salah satu dari banyak nasihat bijak yang disampaikan oleh Malaikat Jibril AS kepada Nabi Muhammad SAW. Nasihat ini mencerminkan realitas kehidupan yang fundamental dan penting untuk dipahami oleh setiap manusia. Berikut adalah penjelasan singkat untuk setiap bagian dari nasihat tersebut:

1. "Hiduplah semaumu, tetapi kelak engkau pasti mati": Ini mengingatkan bahwa kematian adalah bagian yang tak terelakkan dari kehidupan setiap manusia. Meskipun seseorang mungkin hidup sesuai keinginan dan aspirasinya, tetapi semua akan berakhir dengan kematian. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk menggunakan waktu hidupnya dengan bijaksana dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.

2. "Cintai siapa saja, tetapi engkau pasti berpisah dengannya", Ini menekankan sifat sementara dari hubungan manusia di dunia ini. Meskipun cinta dan hubungan antarmanusia sangat penting, tetapi akhirnya, semua hubungan akan berakhir dengan perpisahan, entah itu karena kematian atau faktor-faktor lainnya. Oleh karena itu, penting untuk menghargai setiap momen bersama orang yang kita cintai dan memanfaatkannya sebaik mungkin.

3. "Beramallah semaumu, tetapi engkau pasti mendapatkan balasannya", ini menyoroti prinsip balasan atau konsekuensi atas tindakan seseorang. Setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia, baik perbuatan yang baik, maupun buruk akan memiliki akibat atau konsekuensi yang sesuai. Oleh karena itu, penting untuk bertindak dengan kebijaksanaan dan berpegang pada nilai-nilai moral yang benar, karena kita akan bertanggung jawab atas perbuatan kita di hadapan Allah SWT.

Nasihat ini mengandung kebijaksanaan dan pandangan yang mendalam tentang sifat dasar kehidupan manusia. Malaikat Jibril AS menyampaikan pesan yang relevan dan penting bagi setiap individu untuk dipertimbangkan dalam menjalani kehidupan mereka.

Salam Dahsyat dan Luar Biasa!

Dr. Nasrul Syarif M.Si
Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Psikologi Komunikasi Pascasarjana UIT Lirboyo
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar