Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Musibah yang Perlu Dimusabahi

Topswara.com -- Di awal tahun 2024 ini, Jawa Barat benar-benar sedang dirundung malang. Belum lama ini banjir melanda beberapa daerah di Jawa Barat. Disusul oleh gempa yang terjadi di beberapa wilayah yang ada di Jawa Barat. Lalu kini, pada hari Rabu (21/2/2024) sekitar pukul 15.30 WIB, angin puting beliung menerjang kawasan industri di wilayah Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Bencana alam hujan deras yang disertai angin kencang mengaduk-aduk Rancaekek Kabupaten Bandung dan juga Jatinangor Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu sore (21/2/2024). Dilaporkan, ada beberapa pabrik dan rumah warga yang mengalami kerusakan baik ringan maupun berat. 

Selain beberapa pabrik, angin puting beliung bercampur hujan itu, juga menerjang fasilitas umum. Beberapa jaringan listrik dan telepon terputus, akibat tiang penyangganya roboh.

Bukan cuma itu, amukan angin kencang juga memporak-porandakan beberapa unit sepeda motor dan mobil yang sedang melintas. Beberapa pohon peneduh jalan ukuran besar dan kecil, bertumbangan. 

Bahkan seorang pengendara sepeda motor yang tengah melintas di jalan raya, terlempar tak kuasa menahan deraan hujan angin itu. Pepohonan besar yang tumbang melintang jalan, mengakibatkan kemacetan arus lalu lintas. Antrian macet menumpuk selama beberapa saat dalam kondisi masih hujan.

Sebagai seorang muslim, tentu kita harus mampu menyikapi setiap bencana dengan cara yang tepat. Bahwasanya, bencana alam semisal longsor dan banjir, merupakan perkara yang di luar kekuasaan manusia. Keduanya merupakan qadha (ketentuan) Allah SWT yang tidak mungkin bisa ditolak ataupun dicegah. 

Di antara sikap yang harus ditunjukkan dalam menyikapi qadha ini adalah sikap ridha (menerima) dan sabar, baik bagi korban ataupun keluarga korban. Sebab bagi kaum mukmin, qadha merupakan ujian dari Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

“Sungguh kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan kelaparan. juga dengan berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 155).

Selain sebagai ujian, bencana apapun yang menimpa seorang mukmin, besar atau kecil, sedikit ataupun banyak, sesungguhnya bisa menjadi wasilah bagi penghapusan dosa-dosanya.

Rasulullah SAW. bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah (bencana) berupa kesulitan, rasa sakit, kesedihan, kegalauan, kesusahan hingga tertusuk duri kecuali Allah pasti menghapus dosa-dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Namun, dosa-dosa akan terhapus dari orang yang tertimpa musibah jika ia mampu menyikapi musibah itu dengan keridhaan dan kesabaran. Saat semua normal, tidak ada gunung meletus, tidak ada gempa bumi, tidak ada banjir, tidak ada puting beliung, manusia lupa dirinya, bahkan berkacak pinggang menghina Allah, Pencipta dan Pengurus alam semesta, mencampakkan aturan-Nya.

Dengan sombongnya pula menggantikan Allah menjadi pembuat aturan, mengatur alam dengan hukum buatan manusia. Hutan digunduli, gunung dikeruk, dan alam dirusak. Banjir bandang, gunung meletus, gempa bumi, angin topan, dan peringatan alam lainnya adalah ayat-ayat-Nya untuk mengingatkan manusia. Namun manusia tetaplah manusia. Angkuh dan sombong. Merasa bisa dan merasa berkuasa. Itulah tabiat manusia.

Sungguh, hanya aturan Islam yang telah memberi aturan secara komprehensif agar segala bencana tidak kerap terjadi. Penerapan aturan Islam secara kaffah yang didorong spirit ketakwaan dipastikan akan mendatangkan kehidupan penuh berkah. Sudah saatnya, kita kembali kepada aturan Islam yang akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Wallahua’lam bishawab.


Oleh: Rokayah
Aktivis Dakwah Islam Kaffah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar