Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Peran Suami yang Terabaikan

Topswara.com -- Beban hidup yang berat dalam sistem sekuler kapitalisme saat ini, membuat peran suami dan istri tidak dapat dijalankan dengan baik. 

Sadar atau tidak, banyak suami yang mandul dari perannya, demikian pula sebaliknya. Tak sedikit peran istri yang tidak bisa dijalankan dengan baik dan malah fokus ke peran lainnya. 

Nah, kali ini membahas peran suami terlebih dahulu, yang beberapa di antaranya terabaikan, yaitu: 

1. Peran Kepemimpinan

Tidak sedikit laki-laki yang tidak terlatih memiliki jiwa kepemimpinan, bahkan sekadar memimpin dirinya sendiri. Ada tipe laki-laki yang tidak percaya diri dalam mengambil keputusan dan kebijakan, baik di lingkup keluarga maupun pekerjaan.

Jangan sampai laki-laki bersikap lemah dan tunduk pada pihak lain. Seperti seorang suami yang tunduk pada arahan ibunya, tanpa berani keluar dari pengaruhnya yang kurang baik. 

Suami yang tidak tegas mengambil sikap antara istri dan ibunya. Hal yang kadang merepotkan hubungan mereka. Ketidak-mampuan dalam memimpin ini, membuat marwahnya hancur. Kehormatannya tidak terjaga di mata istri dan anak-anaknya. 

Memang, tidak semua laki-laki punya jiwa kepemimpinan yang kuat. Tetapi setidaknya tetap ada jiwa qowwam itu, karena memang karakter Itulah yang merupakan kelebihan laki-laki, sebagaimana ditentukan oleh Allah SWT.

2. Peran Pencari Nafkah

Banyak laki-laki yang tidak bisa mencari nafkah. Tidak bisa menghasilkan uang sendiri. Ada yang karena malas, ada yang karena biasa dimanja oleh keluarganya. Ada yang pilih-pilih pekerjaan karena gengsi. Tidak punya daya juang untuk mandiri secara ekonomi, tetapi pasrah dan menyalahkan keadaan.

Lebih parah lagi, ada suami yang malah mengandalkan penghasilan istri. Seperti suami-suami yang istrinya menjadi tenaga kerja asing di luar negeri. Atau istrinya yang merantau ke kota, menjadi asisten rumah tangga, sementara ia di kampung hanya kerja serabutan. Ada juga yang mengandalkan gaji istrinya sebagai pegawai negeri, hingga ia tidak bersungguh-sungguh mencari nafkah.

Bahkan ada yang mengandalkan bantuan sosial atau santunan dari kerabat, tetangga atau orang kaya. Mereka akan menyalahkan lingkungan, kerabat, teman dan pemerintah atas ketidak-berdayaannya mencari uang. Tipe laki-laki seperti ini tentu tidak bisa diandalkan untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga.

3. Peran Kebapakan

Menikah lalu punya anak, seharusnya mengasah naluri kebapakan seorang laki-laki. Nyatanya banyak yang tidak paham dengan fungsinya sebagai seorang ayah dalam rumah tangga. Yang dipahami, asalkan sudah menafkahi istri dan anak-anak, sudah selesai. Asalkan sudah membiayai sekolah anak-anak, maka ayah merasa sudah tidak punya tugas lagi.

Walhasil, saat ini marak istilah fatherless, yaitu ketiadaan peran keayahan dalam mendidik anak, di mana ayah ada tapi seolah-olah tiada. Ayah ada, tapi tidak ikut berkontribusi pada pendidikan anak-anaknya. Mungkin karena menyerahkan pengasuhan dan pendidikan anak pada istri, atau kurangnya ilmu dan wawasan dalam mendidik anak.

4. Peran Sahabat

Saat ini tak sedikit laki-laki yang sudah menikah, tidak cakap menjalankan peran sebagai suami. Peran apa itu? Yaitu menjadi sahabat terdekat istri, tempat bersandar dan mencurahkan segenap perasaannya. 

Sahabat terdekat yang paling terbuka, akrab dan intim, hingga  nyaman sebagai tempat berkeluh kesah. Sahabat yang peduli akan keadaan dan kebutuhannya. Menjalin keakraban, keterbukaan dan kemesraan dengan istrinya.

Nah, itulah beberapa bahan renungan untuk para laki-laki, khususnya para suami, agar dapat mewujudkan peran terbaiknya sesuai perintah Allah SWT. Semoga mampu menciptakan kebaikan bagi keluarga, masyarakat dan bangsa.


Oleh: Kholda Najiyah
Founder Salehah Institute
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar