Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Bullying Subur di Sistem Sekularisme


Topswara.com -- Dunia pendidikan hingga saat ini menjadi sorotan publik karena kasus bullying atau perundungan. Bukannya menurun, aksi yang dilakukan tambah marak kian hari makin sadis bahkan hingga memakan korban jiwa. 

Dilansir dari Bedanews.com (16/10/2023), Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bandung, Maulana Fahmi, mengatakan, masih banyak PR yang harus dibenahi antara Pemerintah Kabupaten Bandung dan Dinas pendidikan terutama komunikasi antara orangtua dan sekolah. Sehingga perlu adanya solusi berupa mitigasi bullying sebagai langkah perbaikan dalam bentuk pencegahan, dan hal apa saja yang harus dilakukan ketika terjadi kasus.

Bullying atau perundungan adalah perilaku agresif yang dilakukan secara berulang-ulang dan sengaja terhadap seseorang yang memiliki kekuatan yang lebih rendah secara fisik, emosional, atau sosial oleh satu individu atau sekelompok orang. 

Perilaku ini bisa terjadi di berbagai tempat, seperti sekolah, tempat kerja, di dunia maya. Bullying dapat terjadi secara verbal, fisik, dan emosional, termasuk di dalamnya cyber bullying yang terjadi melalui platform media sosial. 

Menghadapi fenomena bullying tidak cukup dengan upaya mitigasi. Mitigasi digunakan untuk menghadapi sebuah bencana untuk meminimalisasi korban. Perundungan dapat dicegah dan dihilangkan karena faktor-faktor pencetusnya diketahui dan dapat diintervensi. 

Pakar Psikologi Anak UNESA, Riza Noviana Khoirunnisa, menyatakan bahwa dengan adanya upaya sinergi antara sekolah dan orang tua, maka perilaku ini dapat diatasi.

Melihat faktor-faktor di atas, kita bisa lihat sesungguhnya yang menjadi akar permasalahan makin masifnya kasus perundungan adalah pemahaman sekuler liberal yang tertancap sangat kuat di segala sektor. 

Melalui paham ini lahirlah individu yang menjadikan agama bukan pedoman hidup melainkan sekadar pajangan yang bisa dipakai atau dibuang sesuai kehendaknya. Hawa nafsu yang mendominasi Perilakunya. Inilah liberalisme, yaitu pemahaman yang menjadikan seseorang bebas berbuat semaunya tanpa memandang nilai-nilai agama.

Bullying merupakan perilaku jahiliyyah. Rasulullah SAW. pernah menegur Abu Dzar Al-Ghifari yang menghinan Bilal bin Rabbah dengan sebutan “anak budak hitam”. Rasulullah berkata kepada Abu Dzar Al-Ghifari: “Wahai Abu Dzar, benarkah kamu telah menghina Bilal dan ibunya? Ucapanmu itu seperti orang Jahiliyah. Perhatikan (wahai Abu Dzar)! Sungguh kamu tidak lebih baik (di sisi Allah) dari mereka yang berkulit merah atau berkulit hitam kecuali bila kamu melebihi mereka dalam ketakwaan,” (HR. Ahmad).

Perundungan tumbuh subur dalam sistem kehidupan sekularisme kapitalisme. Berikut solusi komprehensif Islam atas fenomena ini: 

Pertama, berlaku baik kepada sesama adalah ajaran Islam yang dicontohkan Rasulullah saw. Sebagai suri teladan umat muslim dengan kesempurnaan akhlaknya. Inilah yang akan mengilhami perbuatan seseorang. Ia akan mengontrol dirinya agar tidak mencelakai orang, sebaliknya ia akan menjadi sebaik-baik manusia, yaitu yang bermanfaat bagi manusia lainnya. 

Rasulullah SAW. bersabda: 
“Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Zat Yang Maha Penyayang. Karenanya, sayangilah siapa pun yang ada di muka bumi, niscaya akan disayang oleh yang di langit.” (HR. Abu Dawud).

Kedua, menjadikan akidah Islam sebagai pondasi dalam keluarga akan terbentuk keluarga sakinah mawadah warahmah. Rumah akan menjelma menjadi baiti jannati (rumahku surgaku), tempat para penghuninya saling menguatkan keimanan. 

Ibu akan menjadi madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anak mereka, mencurahkan kasih sayangnya dan menancapkan ilmu agama bagi anak-anak mereka. Begitu pun ayah, akan selalu ada untuk bisa menjadi teladan bagi anak dan istrinya. Inilah yang akan melahirkan individu yang lemah lembut dan penuh dengan kasih sayang.

“Dari sahabat Jabir bin Samurah ra. Rasulullah saw. bersabda, ‘Pengajaran seseorang pada anaknya lebih baik dari (ibadah/pahala) sedekah satu sha.” (HR. At-Tirmidzi).

Ketiga, menjadikan akidah Islam sebagai landasan dalam sistem pendidikan akan fokus pada pembentukan kepribadian anak didik. Sehingga terbentuk pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan Islam. Dari sini lahirlah interaksi antara siswa yang senantiasa diliputi dengan kebaikan akhlak mereka. Tidak akan terjadi perundungan tapi berlomba saling membatu.

Keempat, dukungan negara sebagai bentuk penjagaan ketakwaan masyarakat. Melakukan seleksi media apa pun, jika menjadi wasilah terbentuknya karakter perundung, akan cepat dihilangkan sekalipun dipandang menguntungkan negara (secara ekonomi). 

Sanksi keras akan diberikan kepada pelaku, baik penyebar konten kekerasan ataupun pelaku perundungan sebab keduanya telah melanggar syariat. 

Rasulullah SAW. bersabda: 
Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai (yang orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan kekuasaannya.” (HR. Muttafaqun Alaih).

Perundungan di kalangan pelajar adalah suatu gejala penyakit sosial masyarakat yang disebabkan oleh kehidupan yang jauh dari ajaran Islam. Sendi-sendi kehidupan telah diisi oleh sekularisme dan liberalisme yang melahirkan generasi tidak memahami adab. 

Institusi keluarga dan pendidikan pun dihancurkan dengan masuknya berbagai macam ide dan gagasan kufur. Solusinya adalah perubahan paradigma masyarakat secara total. Hal ini tentu memerlukan peran negara yang mau dan mampu menerapkan ajaran Islam yang menyeluruh (kaffah). 

Wallahu a'lam bishawab.


Oleh: Novi Widiastuti
Pemerhati Masalah Sosial
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar