Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Politik Tidak Dapat Dipisahkan dari Islam, Titik!


Topswara.com -- Ungkapan Menag akhir-akhir ini secara tidak sadar telah menyesatkan umat dan membahayakan kehidupan umat, hal ini disebabkan agama dituduh sebagai alat politik. Seperti yang diberitakan oleh kemenag.go.id bahwa jelang tahun politik 2024, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengimbau masyarakat agar tidak memilih pemimpin yang memecah belah umat. (Ahad, 3/9/2023).

Ia juga meminta agar masyarakat tidak memilih calon pemimpin yang menggunakan agama sebagai alat politik untuk memperoleh kekuasaan. Karenanya, pemimpin yang ideal harus mampu menjadi rahmat bagi semua golongan. Oleh sebab itu, bangsa Indonesia akan memperoleh pemimpin yang amanah dan dapat mengemban tanggung jawab kemajuan negeri ini.

Secara langsung pandangan ini menguatkan bahwa negeri ini memang berlandaskan sekuler, yakni memisahkan agama dengan politik. Padahal jelas setiap menjelang pemilu secara tidak langsung para calon memanfaatkan kaum agamawan untuk meraup suara yang lebih besar. Para politikus selalu melakukan segala daya upaya menyentuh hati rakyat agar terpilih, sehingga bukan Agama yang dijadikan alat politik justru politik lah memeralat Agama. Agama dalam pengertian hari ini hanya sebatas lingkungan masjid, gereja, pura, vihara dan kuil.

Berbeda sekali dalam Islam, politik tak dapat dipisahkan dari Agama. Sebab Agama harus menjadi landasan dalam menentukan arah politik negara. Agama dalam Islam adalah 'aturan' atau 'din' yakni yang mengatur dari bagun tidur hingga bagun negara. Sehingga Agama dan politik bagaikan kembar siam yang saling melengkapi. Ada aturan Islam yang mengatur segala persoalan mengenai politik. Karena segala yang dikerjakan akan dipertanggungjawabkan kelak di AkhiratNya, termasuk aktivitas politik.

Selain sekularisme bibit-bibit Islamofobia juga turut menyumbang aktivitas kampanye, sebab yang disorot hanya citra akhlak para calon didepan kamera. Bagaimana dengan pratik Islam yang lain seperti sistem politik Islam mereka tolak mentah-mentah. Imam Al-Qurtubi berkata: "Makna mereka tidak henti-hentinya menimbulkan mudharat kepada kalian adalah mereka tidak akan lelah dalam upaya merusak kalian."

Artinya meskipun mereka tidak memerangi umat Islam akan tetapi tetap melakukan makar dan tipu daya. Dalam ayat lain Allah Swt menyebutkan orang yang membuat kedustaan sebagai orang yang hendak memadamkan cahaya Allah (QS. Ash-Shaf :8).

Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya maksud ayat tersebut adalah mereka berupaya menolak perkara yang hak dengan yang batil. Perumpamaan mereka dalam hal ini sama dengan seseorang yang ingin memadamkan sinar mentari dengan mulutnya.

Selain membongkar skenario jahat orang kafir umat pun harus di sadarkan bahwa penyelesaian Islamofobia akan tuntas ketika syariat kaffah sudah di terapkan secara praktis oleh negara. Oleh karena itu umat harus mengambil langkah perjuangan mengembalikan penerapan syariah kaffah dalam bingkai negara. Sebab saat itulah manusia akan menyaksikan keadilan dan kesejahteraan yang nyata di hadapan mereka.

Fitnah dan tuduhan keji terkait Islam dengan sendirinya akan terbantahkan dengan realitas yang disuguhkan oleh Khilafah. Rahmat dan kebaikan yang di janjikan Islam akan tersebar ke seluruh penjuru dunia bahkan bisa menarik kerinduan bagi siapa pun untuk hidup dalam naungan Khilafah. Pengakuan tulus di berikan oleh Nasrani Syam pada 13 H mereka menulis surat kepada Abu 'Ubaidah bin Al-Jarrah yang isinya: "Wahai kaum muslim, kalian lebih kami cintai dari pada Romawi, mereka seagama dengan kami. Kalian lebih menepati janji kepada kami, lebih lembut kepada kami dan tidak mendzalimi kami. Kalian lebih baik dalam mengurusi kami. Romawi hanya ingin mendominasi segala urusan kami dan menguasai rumah-rumah kami." (Al- Baladzuri, Futuh al- Buldan, 139).

Hanya Khilafah yang mampu menghentikan Islamofobia dengan nyata. Kebijakan yang di tetapkan negara akan memberantas tuntas para penyebar opini buruk tentang Islam. Mereka akan di kenakan sanksi yang tegas jika tidak menghentikan makarnya. Sehingga politik dan Agama khususnya Agama Islam adalah sebuah satu kesatuan yang sempurna seperti era Khilafah dulu, betapa bahagia dan tentramnya umat tanpa adanya pencitraan.[]

Triani Agustina
Aktivis Muslimah 

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar