Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Karakter Penuntut Ilmu yang Menyedihkan


Topswara.com -- Founder Syameela Ustaz Oemar Mita blak-blakan karakter para penuntut ilmu yang menyedihkan.

"Yang menyedihkan kalau perilaku itu dilakukan oleh orang ahli ilmu. Orang yang notabene datang ke majelis ilmu, orang yang notabene mengikuti taklim," bebernya di Syameela Weekend Class: Passport to Jannah, di YouTube Oemar Mita Syameela, Ahad (27/08/2023).

Ia mengkhawatirkan jika karakter tersebut menghinggapi dirinya dan umat Islam yang sedang menuntut ilmu. Apa saja karakter yang disebutnya tanda hilang berkah ilmu tersebut.

"Jangan-jangan ketika kita mendapatkan ilmu, karakter kita sebagaimana Abdurahman bin Muljam atau karakternya babi, seperti yang disebutkan Imam Ibnul Qayyim. Ini yang mengatakan bukan saya, saya hanya membaca, karakter tersebut dikatakan oleh imam Ibnul Qayyim," ujar Abu Bassam sapaan akrabnya.

Karakter dari Abdurrahman bin Muljam, disampaikan olehnya, ada dalam sebuah kitab Al Ghulu Manadhiruhu Asbabuhu wa Ilajuhu ditulis oleh Muhammad Nasr Al Uraini. Sosok Abdurahman bin Muljam ini bukanlah sahabat biasa, namun sahabat lumayan besar kedudukannya karena ilmu. Bahkan ia pernah diberi gelar muqri yaitu orang yang dibacakan kepadanya ilmu.

"Di masa Umar bin Khattab, Abdurahman adalah orang yang taat dan memiliki ilmu. Sehingga Umar selalu menulis rekomendasi tentangnya ketika hendak mengutus Abdurahman pergi ke suatu tempat. Umar menulis, 'ini orang shalih, orang berilmu,'" ungkap Abu Bassam.

Namun, lanjut dia, seiring berjalannya waktu, proses belajar Abdurahman bin Muljam tidak berkah. Hal itu nampak ketika ia bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran ghulu yaitu berlebih-lebihan. Pemikiran tersebut membawa Abdurahman bin Muljam memiliki kesimpulan yang sangat kebablasan.

"Apa itu? Yaitu ketika dia meyakini ada beberapa sahabat yang telah kafir dari Islam, mereka adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Muawiyah dan Amru bin Ash. Tak hanya dikafirkan, semangat kebenciannya begitu besar sehingga Abdurahman bin Muljam bersama dua orang temannya bersepakat untuk membunuh Ali bin Abi Thalib, Muawiyah dan Amru bin Ash," paparnya.

Di antara mereka bertiga, menurut Ustaz, yang bertugas membunuh Sayidina Ali adalah Abdurahman bin Muljam. Abdurahman bin Muljam pun menyiapkan senjatanya, dibekali senjatanya agar tajam, diberi racun yang disebarkan di ujung mata pisau. Ketika waktu shalat digelar, Abdurahman bin Muljam shalat tetapi hatinya tidak untuk shalat, dia ingin membunuh Ali dan akhirnya terlaksana.

"Dia bunuh Ali bin Abi Thalib hingga Ali tersungkur kemudian Abdurahman ditangkap, dipukuli namun ternyata Abdurahman justru berzikir secara terus menerus dan ketika ditanya apakah dia menyesal telah membunuh Ali, ia menjawab tidak. Akhirnya, Abdurahman bin Muljam diqishas, nyawa dibalas nyawa," cerca dia.

Founder Syameela menyimpulkan ibrah dari kisah Abdurahman bin Muljam adalah ilmu merupakan passport to janah. Paspor itu tidak bisa didapatkan jika setiap prosedurnya tidak dilalui. Begitupun ilmu, ilmu hanya bisa didapatkan ketika pencari ilmu berinteraksi dengan ilmu tersebut. Betul-betul dikaji sesuai tuntunan pada ilmu tersebut.

"Fenomena Abdurahman bin Muljam hari ini masih tetap ada, orang-orang yang menuntut ilmu tetapi mudah melabeli orang lain telah sesat, gampang sekali mengeluarkan seseorang dari akidah ahlul sunah," ujarnya.

Maraknya penuntut ilmu berkarakter seperti Abdurahman bin Muljam, dinilai olehnya, tidak jarang menyikapi suatu masalah ijtihad dengan ijtihad yang diambil dari jalan yang menyimpang, tentunya tidak sesuai keridhaan Allah SWT.

Alhasil, Ustaz Oemar khawatir jika keberadaan majlis ilmu hanya menyuburkan perilaku sebagaimana perilaku Abdurahman bin Muljam. Ia mengaku tidak bisa membayangkan apa yang akan diwariskan umat Islam hari ini kepada anak cucunya jika karakter Abdurahman bin Muljam itu terus ada pada para penuntut ilmu.

"Kita tahu Abdurahman bin Muljam tidak lahir dari para peminum khamr, tidak lahir dari para pemain judi, tidak lahir dari keluarga pembunuh. Tetapi dia lahir dari orang yang berinteraksi dengan ilmu, mengajarkan Al Qur'an namun justru semua ilmu yang ia pelajari ujungnya sebelum ia mati, dia membunuh Ali bin Abi Thalib. Ngeri," tandasnya.

Ustaz Oemar menjelaskan bahwa Imam Ibnul Qayyim mengatakan, ada diantara manusia yang mereka menuntut ilmu itu karakternya seperti babi. Digambarkan karakter babi ketika melewati makanan segar babi enggak mau, tetapi ketika ada manusia yang muntah maka sesungguhnya babi langsung menghampiri dan memakan muntahan itu sampai habis.

"Begitupun manusia sebagai penuntut ilmu itu tanpa disadarinya sifatnya seperti babi yaitu kalau mendengar sesuatu yang baik dari saudaranya dia tidak mau mengingatnya, menyebutnya, menyebarkannya walaupun itu perbuatan baik. Tetapi sekalinya orang tersebut jatuh dalam kesalahan, dia begitu cepat untuk menyebarkan kesalahan itu supaya setiap orang itu menghina dan mencela orang itu," tegas ustaz.

Dia pun mengajak umat untuk melihat realita kondisi saat ini dengan menyesuaikan perkataan Imam Ibnul Qayyim yaitu para penuntut ilmu yang terjebak fanatik buta. Sehingga, jika mereka mendapati ustaz yang bukan ustaznya, mereka enggak mau menyebutkan kebaikan-kebaikan ustaz tersebut. Sekalipun ustaz tersebut mengajarkan iqra, mereka tidak tergerak untuk mendatangi majlisnya atau berbuat baik lainnya. Bahkan dia menyebut karakter penuntut ilmu seperti ini banyak dijumpainya.

Para penuntut ilmu yang memiliki karakter seperti babi sebagaimana disampaikan Imam Ibnul Qayyim, menurut dia, fanatik buta yang mendera pada hati mereka itu menghasung pikiran mereka sehingga mereka sama sekali tidak tergerak untuk mendatangi majlis ilmu yang bukan ustaznya, sama sekali dia tidak tergerak untuk menyebutkan kebaikan lainnya.

"Jadi, di satu sisi perilaku para penuntut ilmu sebagaimana Abdurahman bin Muljam di satu sisi banyak penuntut ilmu yang karakternya kayak babi," tuturnya. 

Maka, ia melanjutkan, bisa jadi di hadapan Allah dia berharap bahwasanya dia mendapatkan pahala surga dengan sepanjang ilmu yang ia pelajari. Tetapi ketika di pengadilan Allah SWT mereka bertanya, mana ilmu yang dulu saya pelajari ya Allah kok tidak terdapat di dalam Mizan?

"Bukankah ilmu yang kamu pelajari diiringi kesombongan dengan mengkafirkan orang, menyesatkan orang, merendahkan orang lain dan bisa jadi ilmu yang dia dapatkan pahalanya tidak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkannya. Itu bahaya," tandasnya.[] Heni
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar