Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Akselerasi Pemuda dalam Literasi Keuangan dan Digital Syariah


Topswara.com -- Kemajuan teknologi di era globalisasi seperti saat ini, menjadikan segala urusan kehidupan manusia di dunia berada dalam genggaman. Akses komunikasi, bisnis, transaksi ekonomi, dapat dilakukan tanpa batas waktu dan tempat. Semua dipermudah dengan adanya digitalisasi. 

Namun hal ini perlu didukung dengan kemampuan literasi keuangan dan digital. Akselerasi pemuda yang lahir di abad ini pun menjadi tumpuan dalam meningkatkan kemampuan tersebut. Para pemuda ini diharapkan mampu menjadi bagian dalam persaingan ekonomi global. 

Terkait hal ini, dikutip dari laman kumparan.com, (25/11/2022) Indonesia memiliki visi masterplan ekonomi syariah tahun 2019-2024 yakni ‘Indonesia yang mandiri, makmur, madani, dan menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah terkemuka di dunia’. Visi ini sejalan dengan kondisi Indonesia yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia. 

Untuk mewujudkan perencanaan tersebut pemerintah berupaya dengan berbagai strategi. Mulai dari penguatan regulasi dan tata kelola, peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, pengembangan kapasitas riset, sampai peningkatan kesadaran literasi publik. 

Sejalan dengan upaya tersebut, Menko bidang perekonomian, Airlangga Hartanto mendorong mahasiswa dan pemuda agar menjadi ujung tombak dalam meningkatkan kemampuan literasi keuangan dan digital syariah. 

Hal ini ia sampaikan dalam seminar nasional program Ekon Goes to Campus yang bertajuk ‘Menuju Indonesia sebagai Pusat Ekonomi Syariah Terkemuka di Dunia’. Acara tersebut terselenggara di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas dan kuantitas SDM serta literasi publik. 

Peningkatan literasi keuangan dan digital para pemuda memang penting. Apalagi  dalam jumlah yang besar, maka pemuda dapat menjadi sebuah kekuatan. Namun jika kekuatan ini hanya diarahkan untuk kepentingan ekonomi semata, sungguh disayangkan. Sebab hal tersebut hanya akan mengeksploitasi peran pemuda untuk memenuhi kepentingan para kapitalis (pemilik modal). 

Kapitalisme Membajak Potensi Pemuda

Meski upaya optimalisasi potensi pemuda ini dibingkai dalam label syariah, tetapi pada kenyataannya akan menjauhkan mereka dari peran utamanya. Padahal mereka memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam perubahan kondisi umat. Pemuda saat ini adalah calon-calon pemimpin di masa yang akan datang.

Eksploitasi potensi pemuda ini tak ubahnya seperti pembajakan terhadap peran pemuda sebagai agen dalam perubahan kebangkitan umat. Pemuda diperas pemikiran dan tenaganya demi kepentingan ekonomi. Semua ini sebagai akibat penerapan sistem kapitalisme sekuler yang kini diterapkan. 

Dalam sistem ini, negara hanya berperan sebagai regulator yang mengatur kebijakan sesuai dengan kepentingan para kapitalis. Hal ini tampak dari berbagai upaya pemerintah dalam penguatan berbagai regulasi hanya menguntungkan pihak-pihak penanam modal. 

Begitu pula dengan dorongan terhadap pemuda agar menjadi bagian dalam mewujudkan masterplan ekonomi syariah terkemuka di dunia. Pada hakikatnya menggiring peran pemuda sebagai ujung tombak kemajuan ekonomi semata.

Sejatinya landasan dari sistem kapitalisme sekular ialah memisahkan aturan agama dari kehidupan. Namun istilah "syariah" hanyalah labelisasi yang pada hakikatnya secara asas bertolak belakang dari aturan Islam. Istilah ini digunakan lebih berdasarkan asas manfaat. Mengingat penduduk Indonesia mayoritas Muslim serta kesadaran terhadap syariah sudah semakin berkembang. Sehingga tidak heran jika berbagai istilah ekonomi dilabeli dengan istilah "syariah". 

Sesungguhnya labelisasi syariah telah menggiring pemuda Muslim agar mengoptimalkan potensinya demi keuntungan para kapitalis. Hal ini berbeda dengan Islam yang mengoptimalkan peran pemuda ke arah kebangkitan umat.

Peran Pemuda dalam Islam

Pemuda memiliki sejumlah potensi yang besar dalam rangka membangkitkan peradaban umat yang gemilang. Pada masa Rasulullah SAW. dikenal seorang sahabat yang bernama Mushab bin Umair. 

Dalam usianya yang masih muda ia diamanahi untuk mendakwahi penduduk Madinah. Sehingga dalam waktu yang relatif singkat, kurang lebih satu tahun, hampir seluruh penduduk Madinah masuk Islam. Sehingga dengan penuh suka cita penduduk Madinah menyambut hijrah Rasulullah saw. sebagai pemimpin yang menerapkan aturan-aturan Allah SWT.. 

Prestasi gemilang juga ditorehkan seorang pemuda pada masa pemerintahan Islam. Ia dikenal dengan nama Muhamad Al-Fatih. Di usianya yang terbilang muda mampu  memimpin pasukan dalam rangka menaklukkan kota Konstantinopel. 

Semua ini menunjukkan bahwa dalam diri pemuda terdapat potensi besar untuk kebangkitan umat yang hakiki. Mereka memiliki pemikiran yang cemerlang, sumber daya unggul dan kuat, serta semangat yang membara dalam perjuangan kebangkitan.

Kebangkitan umat yang hakiki sejatinya akan dapat diwujudkan manakala aturan Ilahi menjadi sandaran dalam seluruh permasalahan manusia. Tentu saja semua ini hanya akan terealisasi dalam penerapan aturan Islam yang sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. 

Sehingga pemuda dan mahasiswa saat ini sejatinya perlu disadarkan terhadap perannya sebagai agen-agen perubahan. Pemuda Islam mesti menyadari terhadap masalah besar saat ini khususnya terkait kondisi kaum muslimin. Kini umat Islam tengah dicengkeram oleh kekuatan global Kapitalisme yang mengeksploitasi potensi pemuda demi kepentingan ekonomi kapitalis. Padahal dari kalangan pemuda-lah gelombang perubahan akan muncul.

Potensi besar para pemuda akan optimal sesuai tanggung jawabnya jika dibina dengan ideologi Islam. Dimana ia tegak di atas akidah yang lurus serta melahirkan sistem hidup yang shahih (benar) sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. 

Ideologi Islam mampu menjadi tuntunan sekaligus kaidah berpikir yang mampu mengarahkan umat untuk maju dan membangun sebuah peradaban cemerlang di masa mendatang. Sebab umat Islam merupakan umat terbaik yang dilahirkan oleh Allah Swt. untuk manusia. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Q.S. Ali-Imran: 110)

Inilah arah peningkatan potensi pemuda yang hakiki. Islam mengarahkan mereka memiliki kemampuan literasi tidak terbatas pada keuangan dan digital. Namun lebih dari itu mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki untuk kemuliaan syariah Islam dan kaum muslimin. 

Memperjuangkan tegaknya aturan Islam secara kafah dengan dakwah berdasarkan keimanan. Sehingga mampu mewujudkan peradaban yang gemilang. Syariah bukan hanya labelisasi, namun Aturan Allah SWT. secara nyata diterapkan mulai dari landasannya sampai menghukumi seluruh aspek kehidupan. 

Wallahu a’lam bishshawab.


Oleh: Ummi Nisa
Penulis dan Member Komunitas Muslimah Rindu Surga
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar