Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Gaza Kembali Diserang, Dunia Diam Seribu Bahasa


Topswara.com -- Lagi dan lagi, kita saksikan betapa kejam perilaku kaum Zionis Israel terhadap penduduk Gaza. Seolah nyawa tak berarti bagi para Zionis Israel, hingga dengan mudahnya mereka menyerang penduduk Gaza secara membabi-buta. 

Ledakan Bom atau Rudal bukan lagi hal biasa bagi Israel bahkan senjata satu ini sudah seperti mainannya, sebab sering mereka gunakan untuk menyerang Muslim Palestine.

Zionis Israel mengklaim membombardir Gaza untuk upaya pencegahan, namun AWG (Aqsa Working Group) mengataka bahwa itu hannyalah alasan para Zionis Israel yang mengada-ada. 

Diperkirakan ada 13 nyawa yang syahid akibat bom yang di luncurkan Israel ke Gaza, ada anak gadis yang masih kecil sekitar 5 tahun juga ikut menjadi korban kezaliman Zionis Israel. Oleh karena itu AWG mengatakan sangat mengecam keras perbuatan Zionis Israel terhadap Gaza, bahkan WAG menyerukan kepada negara-negara Muslim lainnya untuk tidak hanya mengecam perbuatan Zionis Israel yang pada kenyataannya justru masih bergandengan tangan dengan para Zionis serta melakukan kerja sama kepada mereka. (Republika.co.id, 07/08/2022)

Selain itu, dilansir dari voa-Islam.com. mengabarkan bahwa zionis Israel melakukan penyerangan ke kota Gaza pada hari Jum’at tanggal 05 Agustus 2022. Tidak jelas apa tujuan dan target Israel melakukan penyerangan di jalur Gaza, yang pasti Zionis Israel juga telah menutup jalan di sekitar Gaza. 

Oleh karena itu, ketika Israel melakukan aksi untuk membebaskan keluarga mereka, kelompok Hamas mengambil kesempatan untuk menuntut Israel juga lewat mediator Mesir untuk membebaskan para militan dan tahanan lain serta membuka blokade di jalur Gaza, dan meminta agar menghentikan serangan Israel di Tepi Barat namun hal itu ternyata tidak di respond oleh zionis Israel. (05/08/2022)

Beginilah adanya kala sistem demokrasi yang berkuasa, maka kekejaman yang terjadi kepada negara Muslim hanya akan mendapat kecaman semata dari negara Muslim lainnya tanpa ada perlawanan atau bantuan untuk menghentikan kezaliman yang di lakukan negara Zionis Israel kepada negara Palestina.

Serangan-serangan Zionis Israel di Palestina dan sekitarnya tidaklah begitu asing bagi kita semua. Sebab ini bukan kali pertama negara Zionis Israel menyerang Palestina dan bagian Kota Gaza, bahkan sudah terhitung 4 kali pertempuran besar dan 15 belas kali penyerangan kecil yang berakibat banyak warga Palestina syahid, bahkan luka-luka hingga ada yang mengalami kecacatan seumur hidup.

Sungguh miris, sebab dunia yang notabenenya diduduki oleh banyak pemimpin-pemimpin negara Muslim, seperti Arab Saudi, Turki, Indonesia, dan Negara lainnya seolah diam tak bergeming melihat kezaliman Israel terhadap Palestina.Yang mereka lakukan hanyalah mengecam semata tanpa memberikan bala bantuan kepada Palestina.

Lain halnya dengan sistem Islam, di mana hukum yang digunakan adalah hukum yang dibuat langsung oleh sang pencipta Alam Semesta. Di dalam Islam, kita semua telah mengetahui bersama bahwa umat Islam itu bagaikan satu tubuh, ketika tubuh yang lain ter-sakiti maka tubuh yang lainnya pun akan merasakan sakitnya. Oleh karena itu, Islam menegaskan bahwa kita semua bersaudara dan kewajiban saudara adalah melindungi saudaranya yang  lain.

Dalam sistem Islam akan diangkat seorang pemimpin yang taat dan hanya takut kepada Allah bukan kepada musuh Allah. Hingga dalam kepemimpinannya ia akan sangat berhati-hati dalam menyelesaikan segala problematika yang ada. 

Selain itu, pemimpin dalam Islam selalu sigap dalam menyikapi kezaliman yang terjadi di atas bumi Allah.

Sebagaimana dalam kisah seorang Khalifah yang bernama Muhammad bin Harun Ar-Rasyid yang di kenal sebagai Khalifah Al Mu’tashim. Beliau salah satu khalifah dari Bani Abbasiyah yang menjabat setelah menggantikan saudaranya, Al Makmun.

Dikisahkan bahwa dalam kepemimpinannya ada seorang budak wanita Muslimah dari keturunan Bani Hasyim yang di lecehkan oleh orang Romawi ketika ia hendak berbelanja di pasar, baju terusan wanita tersebut di kaitkan ke paku hingga tersingkaplah auratnya saat ia hendak berdiri.

Oleh karena itu, Muslimah itu kemudian berteriak memanggil nama sang khalifah, “Waa Mu’tashimaah!”, yang artinya “Di manakah engkau wahai Mu’tashim (Tolonglah aku)”.

Berita itu kemudian terdengar di telinga sang Khalifah. Kemudian Khalifah Mu’tashim langsung mengerahkan puluhan ribu pasukannya untuk menyerbu Ammuriah (yang berada di wilayah Turki saat ini), ketika itu Ammuriah masih dalam kuasa Romawi. Jumlah  Al Mu’tashim sangat banyak, sehingga diriwayatkan bahwa tentaranya berbaris dengan sangat panjang hingga barisan itu tidak putus dari gerbang istana khalifah di Baghdad menuju Ammuriah (Turki), dan akhirnya pasukan sang Khalifah mengepung Ammuriah selama lima bulan hingga Kota Ammuriah takluk di tangan Khalifah Mu’tashim pada bulan Agustus.

Akibat pertempuran itu, maka Kota Ammuriah akhirnya bebas dari genggaman Romawi bahkan tercatat ada tiga puluh ribu tentara Romawi terbunuh dan tiga puluh ribu lainnya jadi tawanan. Setelah berhasil menaklukkan Kota Ammuriah, sang khalifah menuju ke rumah si budak Muslimah tersebut dan berkata kepadanya “Wahai Saudariku, apakah aku telah memenuhi seruanmu atasku?”. 

Sang Muslimah mengangguk dan terharu. 
Kemudian sang khalifah memutuskan untuk memerdekakan budak Muslimah itu dan dengan wewenangnya pula maka orang Romawi yang telah melecehkan si Muslimah akhirnya dijadikan budak untuk si Muslimah itu.

Kisah di atas hanya mengisahkan pelecehan untuk satu Muslimah sahaja. Tetapi sang khalifah (pemimpin kaum Muslim) langsung menggerakkan pasukannya tak tanggung-tanggung untuk memerangi negara Ammuriah yang di kuasai oleh Romawi pada saat itu. 

Jika satu orang saja yang dilecehkan membuat sang khalifah marah dan mengerahkan pasukannya untuk memerangi negara yang orangnya zalim terhadap satu Muslimah apatah lagi penindasan kaum muslim di satu negara, sudah pasti membuat sang khalifah akan mengerahkan seluruh pasukannya pula untuk membebaskan tanah yang di jajah oleh para Zionis.

Namun, itu suatu kemustahilan dalam kapitalisme, sebab para pemimpin Muslim yang ada dalam sistem kapitalisme lebih cenderung tunduk pada negara adidaya (Amerika) sebab rasa takut mereka kehilangan kekuasaan lebih besar daripada rasa cinta mereka terhadap saudara semuslimnya. 

Oleh karena itu, jika menginginkan pemimpin seperti Khalifah Mu’tashim maka kita harus menegakkan Daulah Islam yang sistemnya menganut hukum yang di buat langsung oleh sang Khalik yaitu Allah Azza Wajalla. Wallahu’alam bissawab.


Oleh: Rismawati S.Pd. 
(Pegiat Literasi)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar