Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Diskresi PTM dan Nasib Generasi


Topswara.com -- "... Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Mujadalah ayat 11).

Pandemi Covid-19 belum berakhir, Tim Satuan Tugas atau Satgas Penanganan Covid-19 masih terus melaporkan adanya penambahan kasus positif, sembuh dan meninggal dunia akibat virus Corona. 

Berdasarkan data yang disampaikan hingga hari Kamis (11/8) ada penambahan 5.532 yang terkonfirmasi positif, akumulasinya menjadi 6.267.137 jiwa. Kasus sembuh sebanyak 4.824, totalnya menjadi 6.057.237 orang. Pasien meninggal ada 22, sehingga jumlah total di Indonesia menjadi 157.171 orang. (Liputan6.com, 11/8/2022)

Menimbang adanya peningkatan jumlah kasus Covid-19 inilah, pemerintah mengeluarkan aturan baru menyangkut pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah. Aturan baru ini berupa Diskresi SKB 4 Menteri. 

Diskresi ini sudah disepakati antara Kementerian Koordinasi Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kemendikbud Ristek, Kementerian Agama, Kesehatan dan  Dalam Negeri. Ketetapan ini diedarkan ke semua warga sekolah melalui SE Mendikbud Ristek No. 7 Tahun 2022. 

Isinya berupa aturan jika ada siswa yang terkonfirmasi Covid-19, PTM akan  dihentikan minimal lima hari dan selama itu proses belajar akan dilakukan lewat daring. Kemudian Pemda melakukan penelusuran, penetapan klaster dan pengawasannya. (Kompas.com, 30/7/2022)

Sesuai Pasal 1 angka 9 UU No.30 tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, pengertian diskresi adalah keputusan atau tindakan yang ditetapkan dan dilakukan oleh pejabat pemerintah untuk mengatasi persoalan konkret yang dihadapi dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam hal peraturan perundangan-undangan yang memberikan pilihan, tidak mengatur, tidak lengkap atau tidak jelas, dan/atau adanya stagnasi pemerintahan. 

Dari sekian banyak bidang kehidupan kenapa pendidikan menjadi target diskresi? Sudah terlalu lama pembelajaran online sejak dari masa awal pandemi, sekarang keluar diskresi untuk belajar online lagi.

Menurut Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, peningkatan kasus Covid yang terjadi di Indonesia belakangan ini karena beberapa faktor, bukan karena satu faktor yang dominan seperti tahun lalu. Situasinya sekarang semakin kompleks tapi tetap bisa diprediksi faktor penyebabnya yaitu. 

Pertama, telah terjadi penurunan proteksi diri di masyarakat seolah Covid dianggap tidak ada. Kedua, cakupan vaksinasi booster di Indonesia masih sedikit terutama di kelompok rentan seperti lansia. Ketiga, ada kemungkinan muncul subvarian yang lebih efektif bersirkulasi di tengah populasinya. 

Karena itu, Dicky mengingatkan masyarakat harus tetap taat protokol kesehatan. Sementara pemerintah juga harus mengejar cakupan vaksinasi Covid baik lengkap ataupun booster (detikHealth, 9/6/2022). Adanya diskresi ini jangan sampai menghapus tanggung jawab pemerintah untuk mengendalikan laju sebaran Covid-19.

Sejak awal pandemi, pemerintah menganggap enteng, lambat bahkan gelagapan dalam menangani pandemi. Solusi yang disarankan para ahli pun diabaikan. Pemerintah lebih berpihak pada sektor ekonomi dan para kapital daripada serius mengatasi pandemi. 

Angka korban terus naik, yang ditutup hanya sekolah dan tempat ibadah sementara pasar dan pusat-pusat perekonomian tetap dibuka. Seolah tidak terpikirkan bagaimana nasib generasi penerus bangsa ini ke depannya. Itulah watak asli sistem kapitalisme yang dianut negara ini. Pemikirannya hanya untuk saat ini alias jangka pendek tidak jauh ke depan.

Ada hal penting yang harusnya menjadi perhatian pemerintah dalam bidang pendidikan selama pandemi yaitu learning loss. Dalam bahasa Indonesianya kehilangan pembelajaran, yaitu suatu kondisi di mana berkurangnya pengetahuan dan keterampilan secara akademis. 

Keadaan ini ditunjukkan dengan siswa kehilangan pembelajaran atau siswa belajar tapi kurang bahkan tidak belajar sama sekali. Setidaknya learning loss ini sudah terlihat dampaknya yaitu kemampuan akademis siswa berkurang. 

Dengan PTM 100 persen saja belum nampak hasil yang signifikan sebagaimana sebelum pandemi, apa lagi jika PTM berkurang. Itu dari sisi akademis dan aspek kognitif, belum dari segi output pendidikan pada diri siswa berupa pola pikir dan pola sikap.

Di tengah arus informasi yang deras, tsaqafah asing, gaya hidup bebas, serba permisif dan hedonis menyerang generasi. Melalui gadget yang harus dipakai saat pembelajaran jarak jauh, generasi muda teracuni tsaqafah asing langsung di ruang privat mereka. 

Bagaimana bisa mengharapkan generasi yang berkarakter kuat dengan kondisi luar biasa seperti pandemi saat ini. Hal ini karena sistem sekuler kapitalis yang diterapkan negara menjauhkan agama dari kehidupan. 

Di sistem ini, konsep sebagus apapun jika itu datangnya dari agama (Islam) akan ditolak. Padahal rakyatnya mayoritas muslim, pemimpin dan para pejabatnya juga banyak yang muslim. Mereka seolah terbelenggu tidak bebas mengimplementasikan konsep Islam.

Padahal pendidikan adalah hak setiap warga dan kewajiban negara untuk memenuhinya apa pun kondisinya. Di saat pandemi ataupun bukan pendidikan harus tetap diselenggarakan penguasa. 

Dalam penyelenggaraan sistem pendidikan tidak boleh ala kadarnya, negara harus maksimal memfasilitasinya. Motivasi yang dibangun dalam pengambilan kebijakan harus berlandaskan amal terbaik demi tunainya kewajiban negara dalam melayani kebutuhan rakyat. 

Sistem pendidikan yang diselenggarakan juga harus menjamin terjadinya transfer ilmu yang dibarengi keimanan dan daya juang untuk mengisi peradaban. Hal ini karena semangat menuntut ilmu adalah atas dorongan iman dan ilmu harus diamalkan.

Hanya saja fakta tersebut hanya akan bisa terjadi di negara yang menerapkan sistem Islam. Penguasanya bebas mengimplementasikan apa yang diyakininya dalam konsep Islam, dan mengikuti teladan terbaik sepanjang zaman yaitu Rasul SAW. 

Sungguh akan berjaya siapa pun orangnya mau penguasa atau rakyat jelata jika dia berpegang teguh pada konsep Islam dan meneladani Rasul SAW. dalam segala keputusan yang diambilnya. 

Ini bukan isapan jempol belaka, sejarah telah mencatat kegemilangan peradaban Islam dalam bidang pendidikan. Hanya di sistem Islam muncul ilmuan-ilmuan polymat yang menjadi pionir dalam banyak bidang kehidupan. 

Sebut saja Al-Khawarizmi penemu angka nol yang berguna dalam teknologi komputer saat ini. Kemudian ada Ibnu Sina bapak kedokteran dunia, Ibnu Al-Haitsam bapak optik, Jabir bin Hayyan bapak ilmu kimia dan masih banyak lagi.

Sistem kehidupan yang dijalankan negara akan menentukan nasib generasi mudanya. Pandemi yang melanda dunia tidak akan mempengaruhi sistem pendidikan, andai penguasa menyadari betapa pentingnya pendidikan demi masa depan bangsa. Semoga semakin banyak muslim yang memahami bagusnya sistem Islam dan memperjuangkannya.

Wallahu a'lam bishawab.


Oleh: Ooy Sumini
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar