Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Lingkungan Bersih Dipengaruhi Sistem yang Diterapkan


Topswara.com -- Indonesia merupakan negara terkaya karena penghasilan sumber daya alam yang melimpah. Namun sangat disayangkan, keadaan setiap wilayahnya masih ada saja sampah yang berserakan dimana-mana yang dapat mencemari lingkungan, mendatangkan berbagai penyakit sebab gaya hidup masyarakatnya yang terbilang konsumtif. 

Semua itu terjadi karena kurangnya tanggung jawab negara yang sampai saat ini tidak mampu mengatasi permasalahan sampah dan tidak mampu mencegah masyarakat hidup dengan konsumtif.

Setelah kaum Muslim di Indonesia bereuforia di hari raya yang lebih meriah ketimbang tahun sebelumnya, tetapi di hari yang sama, banyaknya sampah yang seharusnya dapat diantisipasi kini tidak bisa dicegah, sungguh sangat disayangkan. 

Kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, untuk menghalaukan tumpukan sampah, maka sebelum dan pasca lebaran, Pemkot Jabar akan mengerahkan seluruh petugas kebersihan untuk membersihkan tumpukan sampah. (republika.co.id, 02/05/2022).

Disisi lain, Pemkot Pontianak pernah memutar otaknya agar sampah yang menumpuk bisa dikelola dan dijadikan seperti bank sampah, lalu dipilih mana yang bisa didaur ulang dan mana yang tidak bisa. Sebab, sampah yang berserakan beratnya mencapai 400 ton per hari dan akhirnya Pemkot Pontianak mengadakan kerja sama dengan PT. Kusuma Agro untuk mengelola sampah tersebut. (kalbar.genpi.co, 16/05/2022).

Penanganan masalah sampah memang belum bisa ditangani secara baik oleh Presiden dan pejabat maupun elemen masyarakat yang mencoba mengajak masyarakat lain agar mengikuti gerakan seperti “Kurangi sampah plastik” atau mengajak masyarakat agar hidup “Minimalis” yang diharapkan agar bisa hidup dengan sederhana tidak mudah berfoya-foya sehingga sampah dari hasil yang dibelanjakan tidak banyak berserakan.

Mengapa tidak juga teratasi? Sebab, media sosial pun diberikan peluang agar bisa berperan aktif untuk menawarkan banyak produk yang membuat masyarakat ikutan konsumtif, sampai-sampai bisa membeli barang mewah dengan sesukanya, baik karena tuntutan kebutuhan atau sekadar keinginan, dan media turut memfasilitasi dengan memberikan kemudahan dalam bertransaksi.

Inilah paradigma kapitalis yang lebih mengutamakan keuntungan pihak korporasi ketimbang memakmurkan rakyat sendiri. Menjadikannya faktor atas kegagalan dalam melestarikan lingkungan. Padahal, sudah menjadi kewajiban penguasa untuk berperan aktif dalam mewujudkan kelestarian lingkungan agar aman dari tumpukan sampah dan memahamkan kepada masyarakat agar tidak lagi hidup konsumtif, karena sebagai seorang muslim, sudah harus pandai memilih mana kebutuhan mana dan yang hanya sekadar tuntutan hawa nafsu.

Dalam paradigma Islam, merawat dan menjaga lingkungan agar bersih dan asri adalah kewajiban yang akan ditangani oleh khalifah (pemimpin). Penguasa akan mengajak elemen masyarakat agar memahami betapa pentingnya melestarikan lingkungan dan segala hal yang berpotensi merusak lingkungan akan ditutup rapat. 

Sebagaimana firman Allah SWT. “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A’raf [7]: 56).

Bukan itu saja, pada masa Rasulullah SAW. hidup, para sahabat juga diajarkan agar bisa menjaga kebersihan, mengasrikan lingkungan agar aman dari sampah yang berserakan meskipun dalam keadaan berperang. 

Kaum Muslim lainnya yang berada di sana juga memahami apa saja akibat yang akan didapatkan ketika mencemari lingkungan. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41).

Selain itu, Islam akan mengajak masyarakat agar terbiasa menghindari sifat konsumtif dan hedonis, agar bisa memilih mana saja yang perlu dikonsumsi mana yang tidak, mana yang menjadi suatu kebutuhan dan bukan berdasarkan keinginan. 

Walau Islam tidak membatasi dalam memiliki barang yang mau dipakai, namun Islam mengajarkan hidup sederhana, karena hal ini merupakan cara terbaik yang dapat menghindarkan dari sifat setan yang suka jika umat Rasulullah hidup boros dan menghambur-hamburkan uang, karena ini bukanlah bagian dari sifat seorang muslim yang bertakwa.

Maka, kehidupan yang dijalani rakyat dalam naungan demokrasi-kapitalis saat ini, akan terus berbeda dari apa yang Islam pikirkan. Demokrasi akan senantiasa membiarkan masyarakatnya bebas memboros. Bahkan negara akan meninggalkan tanggung jawabnya dalam mengurusi umat. Seperti halnya persoalan sampah yang tidak mampu dituntaskan dengan baik.

Dengan demikian, hidup konsumerisme yang dilakukan masyarakat akan tetap terjadi ketika rakyat tidak segara beralih kepada sistem pemerintahan Islam kafah. Jangankan lingkungan yang dapat bersih dan asri, bahkan segala kebutuhan rakyat akan terjamin dan sifat boros yang dimiliki bisa dihindari ketika Islam memimpin negeri.

Wallahualam bissawab


Oleh: Muzaidah 
Aktivis Dakwah Remaja
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar