Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ustazah Puspita: Pernikahan Itu Tak Selalu Romantis, tapi Romantika


Topswara.com-- Aktivis Muslimah, Ustazah Puspita Satyawati, menyebut pernikahan itu  tak selalu romantis, tapi bersifat romantika.

"Karena pernikahan itu romantika. Liku-liku atau seluk-beluk yang mengandung sedih dan gembira. Tak selalu romantis. Ada suka, lalu berubah duka. Ini biasa," tuturnya dalam kajian pekanan Ladies First "Suami Bukan Malaikat, Istri Bukan Bidadari," di Real Masjid, Sleman, DIY, Jumat (18/2/2022). 

Puspita yang juga mentor di Sekolah Online Muslimah Bahagia ini menjelaskan mengapa pernikahan berasa nano-nano, manis, asem, asin, ramai rasanya, karena ini pernikahan manusia. 

"Allah SWT telah menyampaikan dalam QS. Ar Ruum: 21, bahwa Allah ciptakan pasangan hidup dari jenismu sendiri. Artinya, manusia ya nikahnya sama manusia. Maka, suami itu bukan malaikat. Pun istri bukanlah bidadari," ujarnya.

Ia menyampaikan, selama berpredikat manusia, maka akan dikitari oleh hawa nafsu, ego, enggak sabar, suka mengeluh, lupa bersyukur, dan sebagainya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Manusia adalah tempatnya lupa dan salah." 

"Maka, kita mesti selalu pasang kuda-kuda. Karena pernikahan tak hanya bikin kita berkumpul dengan orang yang kita cintai. Namun, juga berpotensi mendekatkan diri dengan masalah dan ujian yang pasti mengitari. Siapapun, kita dan dia, mau orang awam, melarat, hingga pejabat, juga aktivis dakwah, bakal merasakan masa-masa itu," ungkapnya. 

Bahkan, siapa sangka, lanjutnya, jika rumah tangga Rasulullah SAW juga ada problematikanya. Ia sebut, dari cemburunya Bunda Aisyah ra. hingga masalah uang belanja mewarnai perjalanan rumah tangga yang mulia. 

"Namun mereka adalah sosok-sosok manusia terbaik. Di kala berbuat kesalahan dan diingatkan, mereka segera berlari menuju ampunan Allah. Sedangkan kita?" tanyanya. 

Terkait masalah nikah, Puspita mengatakan, 
bisa berasal dari berbagai arah. 

"Pertama, karena pribadi kita. Diriku bukanlah dirimu. Tumbuh sebagai paduan karakter, didikan keluarga, pola pergaulan, informasi media, dan lain-lain," bebernya.  

Kedua, menurutnya, karena pria dan wanita memiliki karakter khas, khususnya dalam gaya komunikasi. Sehingga perbedaan berpotensi menjadi ganjalan, terlebih jika telah saling menyalahkan.

"Ketiga, masalah ekonomi. Akhirnya hidup rumah tangga enggak cukup hanya dengan cinta. Beras harus dibayar dengan uang, bukan rayuan. Sekolah pakai uang. Berobat pakai uang. Terlebih kita tinggal di era kapitalisme dimana rakyat mesti berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya," jelasnya.

Keempat, ia menyebut asal masalah dari keluarga besar atau pasangan. Menurutnya, ada berbagai bentuk, dari intervensi mertua, kekurangharmonisan hubungan dengan keluarga pasangan, dan lain-lain. 

Adapun kelima, ia menyinggung, asal masalah dari arah lain-lain. 

"Sebagai ujian dari Allah SWT, atas kasih sayang-Nya kepada seorang hamba. Yang ini bentuknya bisa unik-unik. Tapi yakinlah rumus ujian orang beriman. Bahwa saat Allah kasih kesulitan, pasti Dia iringi dengan kemudahan. Seperti firman Allah SWT dalam QS. Al Insyirah: 5-6. Dalam satu kesulitan, Allah akan beri dua kemudahan. Bahkan bisa jadi lebih. Masya Allah," pungkasnya. [] Alfia Purwanti
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar