Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Vaksin Booster Menekan Penyebaran Varian Baru, Benarkah Begitu?


Topswara.com -- Publik kembali dikejutkan dengan adanya dugaan temuan varian baru virus Corona. Ilmuwan Siprus mengklaim adanya varian baru gabungan Delta dengan Omicron (Deltacron). Kabar ini tentu sangat menghawatirkan mengingat saat ini banyak negara diserang lonjakan kasus Omicron.

Seperti dilansir dari detikhealth (14/1/22), kasus Omicron semakin meluas, termasuk di Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat, per 14/1/2022 kemarin, pasien Corona varian baru mencapai 572 kasus. Dalam satu hari, penambahan kasus ini ada 66, 33 kasus berasal dari perjalanan luar negeri dan sisanya transmisi lokal.

Menyikapi hal ini pemerintah akhirnya mengambil kebijakan untuk memberikan vaksin booster pada beberapa golongan, utamanya pada lansia dan anak di atas 18 tahun. Vaksin ini akan diberikan setelah masyarakat mendapatkan vaksin kedua. Namun yang menjadi pertanyaan apakah pemberian booster ini bisa menekan penyebaran varian baru virus Corona?

Vaksin merupakan antigen (mikroorganisma) yang dilemahkan. Apabila diberikan kepada orang yang sehat bisa menimbulkan antibodi spesifik terhadap mikroorganisma tersebut, sehingga bila kemudian terpapar, penerima vaksin akan kebal, karena dalam tubuhnya telah terbentuk antibodi. 

Namun orang-orang yang telah divaksin tetap memiliki kemungkinan terinfeksi dan bisa menularkannya kepada orang lain.
Jadi memberikan booster untuk menekan penyebaran varian baru agaknya kurang efektif, mengingat terbentuknya antibodi memerlukan waktu, sementara proses penyebaran virus terjadi karena interaksi yang terjadi di masyarakat.
Bisa jadi ada masyarakat yang sudah menerima booster namun antibodi belum terbentuk dengan sempurna, sementara yang bersangkutan berinteraksi dengan carier (pembawa virus) maka akan berpotensi untuk tertular.

Salah satu cara efektif untuk menekan penyebaran varian baru adalah dengan menutup rapat pintu penyebaran secara total. Sebagaimana yang kita ketahui, pintu utama masuknya virus ini melalui pelaku perjalanan luar negeri. Mengingat awal munculnya virus ini berada di Wuhan, Cina. Namun karena tidak ada penguncian wilayah (lockdown) dengan alasan ekonomi, maka virus menyebar dengan cepat ke seluruh dunia.

Solusi Islam Mengatasi Pandemi

Islam sebagai agama sekaligus ideologi memiliki peraturan yang jelas untuk menyelesaikan setiap masalah, termasuk pandemi.

Sebagaimana yang pernah terjadi pada masa khalifah Umar bin Khattab, ketika terjadi wabah Thaun. Khalifah Umar mengambil kebijakan dengan cara mengunci wilayah yang terkena wabah. Masyarakat dari daerah terjangkit tidak diperbolehkan keluar, namun semua kebutuhan pokoknya ditanggung oleh negara. Orang yang sakit mendapatkan perawatan terbaik sampai sembuh, mereka di rawat di tempat khusus sehingga tidak bisa berinteraksi dengan orang yang sehat. 

Orang yang wilayah yang tidak terkena wabah juga tidak diijinkan masuk ke daerah terjangkit. Mereka tetap bisa fokus menjalankan aktivitas sehari-hari, sehingga roda perekonomian terap stabil dan bisa menyokong daerah 
Dengan begitu rantai penularan akan terputus dan pandemi bisa diatasi. 

Penelitian untuk menemukan obat, vaksin maupun cara pengobatan tetap dilakukan bahkan didukung penuh baik dari segi fasilitas maupun dana. Namun hal itu masuk dalam rencana jangka panjang. 

Jika kita berharap pada sistem yang saat ini berlaku ibarat panggang jauh dari api. Karena sistem kapitalis selalu menitikberatkan pada keuntungan secara materi, sehingga roda perekonomian akan menjadi prioritas utama dibandingkan dengan penyelesaian pandemi secara tuntas.

Bukankah sudah selayaknya kita memilih solusi alternatif yang telah terbukti mampu menyelesaikan pandemi dengan cepat dan tepat?

Wallahu a'lam bishawab.

Oleh: Sri Purwanti, Amd.K.L.
(Analis Mutiara Umat)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar