Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Rela Mengorbankan Keluarga demi Memeluk Islam, Ini Harapan Carissa Grani


Topswara.com -- Carissa Grani. Sejak pandemi melanda negeri ini, profil dokter gigi mualaf ini ramai diperbincangkan publik. Keputusannya untuk bersyahadat di Mualaf Center Indonesia, Jakarta Barat, 15 Maret 2020 lalu itu, telah membuat publik terkagum-kagum. Betapa tidak, ketertarikannya pada Islam dan alasannya untuk menjadi Muslimah itu telah menunjukkan kepada publik akan kebenaran Islam dan bahwa syariat Islam relevan sepanjang zaman. 

Wanita yang akrab dipanggil Icha itu menuturkan, pertemuannya secara tidak sengaja dengan seorang Muslimah berniqab di awal pandemi telah menjadi awal ketertarikannya kepada Islam. Menurutnya, ajaran Islam relevan untuk menghadapi pandemi, yakni ketika masyarakat digalakkan agar selalu memakai masker, mencuci tangan, dan tidak berjabat tangan demi mencegah penularan virus Corona. Ia terheran, betapa Islam yang diajarkan Rasulullah SAW 14 abad yang lalu, relevan dengan kondisi saat ini. Saat itulah Icha merasa terbuka mata hatinya pada kebenaran Islam.

"Saya enggak sengaja bertemu dengan seorang Muslimah berniqab dan hari itu seperti Allah membukakan mata hati saya, bisa men-sinkronkan itu (ajaran Islam) dengan kondisi saat ini. Saya terheran-heran. Ini ajaran yang dibawa dari 14 abad lalu, kok, bisa inline dengan kondisi sekarang? Mungkin bisa dibilang itu awal tertariknya terhadap Islam" ujarnya kepada Topswara, Oktober 2021.

Walau begitu, menurut Icha, sebenarnya sejak kecil ia sering memiliki pertanyaan-pertanyaan tentang Islam, tetapi belum sampai tertarik mempelajarinya. Buku-buku tentang Islam dan Al-Qur'an pun ada di rumahnya, tapi ia tidak tertarik membukanya. "Baru setelah itu saya tertarik untuk mencari tahu tentang Islam. Tapi, masih lebih kepada manfaat-manfaat dari syariat Islam itu secara medis atau kesehatan, dari fadhilah atau keutamaannya," tutur Icha.

Sebelum mendapatkan hidayah, Icha cenderung skeptis dan cuek terhadap Islam.  "Agamamu, agamamu. Dan agamaku, agamaku, seperti itu. Ya, paling yang sekilas saya lihat itu, sempet, 'Kalau shalat, kok, harus di lantai?' seperti itu. Kemudian, dari pakaian juga, 'Wanitanya, kenapa harus besar-besar seperti itu?' gitu," ujar Icha.

Sampai kemudian ia bertemu dengan Ustazah Ir. Sri Fatimah Tirmizi, Pembina Mualaf Center Indonesia, Jakarta Barat. "Beliau, waktu saya datang ke sana, tidak menanyakan latar belakang, status saya, dan sebagainya. Tapi, langsung menjelaskan Rukun Iman, Rukun Islam, tanpa menjelekkan agama saya yang sebelumnya. Sampai akhirnya saya bisa mantap gitu untuk bersyahadat," tegasnya. 

Perjalanan hijrah Icha tidaklah mulus begitu saja. Ia mendapat tantangan besar karena keluarganya, terutama sang suami masih nom-Muslim. Keputusannya tetap berpegang teguh pada akidah Islam, membuatnya harus memilih untuk mengakhiri rumah tangganya.

"Kalau dibilang tantangan terbesar, itu mungkin pastinya ketika saya harus memutuskan tidak bisa melanjutkan rumah tangga dengan mantan suami yang masih non-Muslim. Pastinya itu akan berdampak besar terhadap anak-anak saya yang masih kecil," ujar Icha.

Namun demikian, bagi ibu tiga orang anak itu, pengorbanan yang telah ia lakukan masih tak sebanding dengan harga kebenaran yang telah ia temukan. Ia meyakini bahwa ketika seseorang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah pasti akan mengembalikannya dengan yang jauh lebih baik dari yang telah ia korbankan.

"Saya mendapat kekuatan dari Qur'an Surah Saba' ayat 37 di mana dikatakan, 'Sesungguhnya bukan hartamu dan anak-anakmu mendekatkan kamu kepada Kami. Tetapi orang-orang yang beriman dan yang melakukan kebajikan. Mereka yang akan mendapat balasan berlipat dan akan aman sentosa.' Gitu, ya, di tempat-tempat tinggi, yaitu dalam surga," ungkap Icha.

Dengan keyakinannya itu, Icha merasa lebih tenang dan semakin yakin dengan pilihannya. "Perasaan saya setelah berhijrah pastinya terasa lebih tenang, lebih yakin kalau saya sudah menyembah Allah yang benar," ujarnya.

Kini, hidupnya lebih ia orientasikan kepada akhirat. Segala aktivitasnya ia usahakan bernilai ibadah demi mengumpulkan sebaik-baik bekal untuk akhirat. Ia pun rajin mengikuti program-program di Mualaf Center, seperti ngaji bareng 1 juz sehari dan daily tracking lainnya. 

Menurutnya, jika seseorang disibukkan dengan yang hal-hal yang menambah ilmu, maka akan dijauhkan dari kebodohan. Karenanya, ia berusaha berada di lingkungan yang terus mengkaji Islam. Menurutnya, mengkaji Islam secara kontinyu sangat berpengaruh untuk menjadikannya istiqamah.

"Ya, karena memang, kan, dikatakan dalam hadis kalau kita dekat dengan penjual minyak wangi, walaupun kita tidak membeli minyak wanginya, minimal ada yang melekat ke kita dari wanginya. Sebaiknya, kalau kita dekat dengan pandai besi, sedikit banyak pasti percikan apinya akan kena kepada kita" ujarnya. 

Ia mengatakan, ketika disibukkan dengan kebaikan, ia yakin Allah akan jauhkan dari segala keburukan dan kemaksiatan. Begitu juga sebaliknya. "Janji Allah, ketika kita beriman itu, kita berkata bahwa Tuhan kita adalah Allah, maka Allah sendiri akan menjadi pelindung kita dan (memberikan) surga yang dijanjikan Allah itu. Dan kita tidak perlu takut, tidak perlu bersedih hati dalam menghadapi setiap ujian yang ada. Kita tahu, ujian yang datang itu sebenarnya hanya untuk membersihkan kita dan melayakkan kita untuk akhirnya bisa sampai ke jannah-Nya," ungkap Icha. 

Keteguhan hati Carissa dalam menjaga iman setelah hijrah memang luar biasa. Keteguhan hati dalam Islam itu pula yang ingin ia jaga hingga ia tak mengganti nama setelah hijrah. Menurutnya, kata Carissa bermakna keras, dalam hal ini berkonotasi positif yaitu tekun dan istiqamah. "Alhamdulillah, ga ganti nama karena ternyata kata pak ustaz, nama saya Carissa artinya sudah bagus: tekun, istiqamah," ujarnya.

Keyakinannya tentang tauhid, yaitu bahwa Allah satu-satunya yang harus disembah, telah menjadi kekuatan besar bagi Carissa untuk tetap bertahan dalam hijrah. Baginya, istiqamah di jalan Islam adalah rahmat Allah yang akan membuat seseorang istimewa.

"Istiqamah itu memang suatu rahmat Allah, ya. Mungkin kalau dengan kekuatan kita sendiri sebagai manusia, itu mudah lalai, mudah kufur, mudah bosan, dan sebagainya, ya, ujub, riya. Tapi kalau Allah merahmati kita, insya Allah, Allah akan memberikan keistimewaan kepada kita," kata Icha.

Karena itu, ia berharap Allah memberikan keistiqamahan sampai akhir hayat. Ia juga berharap menjadi pilihan Allah untuk bisa berada di jalan dakwah agar makin banyak orang yang kembali ke fitrah ya sebagai hamba Allah.

"Perjalanan saya masih panjang. Saya belum dua tahun kembali ke fitrah, semoga Allah memberikan keistiqamahan kepada saya, mewafatkan saya dalam keadaan Muslim dan Allah berkenan juga untuk memakai saya di jalan dakwah agar makin banyak orang juga yang bisa kembali ke fitrah. Itu harapan saya,"

Di samping itu, ia pun berharap dimudahkan oleh Allah ke surga. "Pastinya harapan kita semua agar kita diizinkan Allah, dimudahkan Allah untuk bisa bersama-sama dengan Allah di surga dan bertemu juga dengan Rasulullah dan para sahabat lain. Aamiin aamiin ya robbal 'alamin," pungkasnya.[] Saptaningtyas
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar