Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Allah: Rabb yang Harus Ditaati


Topswara.com -- Sobat, pernahkah merasakan jantung berdebar-debar saat persidangan skripsi? Saat itu, rasanya jantung mau copot ketika ditanya dosen penguji. Itu baru persidangan skripsi, bagaimana ya persidangan Allah SWT? Persidangan ini bukan sekadar penentuan nilai tapi surga dan neraka. Ketika ditanya nanti, man Rabbuka? Dapatkah kita jawab? 

Nah sob, kalau pertanyaan ditanyakan saat ini, itu si gampang dijawab yaitu Allahu Rabbi adalah TuhanPencipta dan Pengatur kehidupan manusia. Tapi, jangan dibayangkan nanti di alam kuburakan ingat jawabannya, apabila dalam kehidupan kita tidak sungguh-sungguh menjadikan Allah SWT sebagai Rabb. Nah, ingin tahu siapa yang menjadi Rabb di hati kita? Coba tanyakan saja pada hati yang terdalam, siapa di dunia ini yang menjadi prioritas dan diperjuangkan, Allah SWT atau yang lain? 

Jika selama ini kita melakukan segala cara untuk mendapatkan nilai terbaik hingga menabrak semua rambu-rambu dari illahi,tentunya nilai donk yang jadi Rabb bukan Allah SWT. Apabila meninggalkan perintah Allah SWT karena kritikan orang lain berarti kritikan orang lain yang dijadikan Rabb bukan Allah SWT. 

Wajar sih, itu terjadi ditengah kondisi sekularisme seperti saat ini karena dituntut untuk lebih bisa mengerti dan memahami kondisi di tengah masyarakat yang berakibat terbawa arus sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga, manusia memprioritaskan dunianya daripada urusan akhirat. Akhirnya, manusia yang memprioritaskan Allah SWT juga sangat jarang sekali. 

Pada umumnya, orang berpendapat mereka rajin shalat, membaca Al-Qur’an bagus dan rajin puasa itu adalah sosok yang alim banget. Enggak salah sih, tapi sepenuhnya benar enggak juga, karena shalat, puasa serta zakat itu ibadah yang normal dilakukan oleh seorang Muslim. Apabila enggak dilakukan, malah itu abnormal. Tetapi ya sob, hal itu jadi sesuatu langka banget di sistem sekuler ini. Urusan agama itu nomor dua deh dibandingkan urusan dunia. Misalnya, untuk belajar matematika rela menghabiskan banyak uang, tetapi jika diajak untuk kajian Islam yang gratis, terasa berat. Benar enggak? 

Akan berbeda ceritanya,  jika kita menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya Rabb dihati kita. Pasti deh bakalan melakukan apapun atas pertimbangan itu perintah Allah SWT, yakni yang diridhai atau dimurkai Allah SWT, bukan lagi pertimbangan manusia ridha atau enggak. 

Sayangnya, manusia yang hidup di era kapitalis ini seringkali mengambil sesembahan selain Allah SWT karena menganggap hidup untuk meraih sebanyak-banyaknya materi seperti harta dan jabatan. Bahkan penilaian manusia merupakan hal penting dari pada penilaian Allah SWT. Inilahpotret kapitalis yang sangat jauh dari pemahaman Islam yang benar.

Disamping itu, dalam sistem pendidikan kapitalisme, pelajaran agama hanya dua jam perminggu di sekolah negeri. Jika ditingkat perkuliahan hanya 2 sks saja. Itupun materinya enggak bisa membentuk kepribadian Islam. Sebagaimana diketahuisaat ini, kurikulum pendidikan malah membuat peserta didik disibukkan dengan ilmu dunia. Akhirnya, banyak merasa tak butuh dan tak sempat belajar Islam secara kaffah. Ya bagaimana mau mengenal dan sadar Rabb yang benar kalau tak belajar Islam? 

Oleh karena itu, kita butuh banget belajar Islam secara kaffah bersama dengan guru yang siap membentuk kepribadian Islam. Islam dipelajari bukan hanya perkara shalat saja tetapi dari akidah hingga syariah. Sehingga, kita bisa menemukan keyakinan bahwa Allah SWT, satu-satunya Rabb yang harus ditaati.

Tidak hanya itu, hubungan kita dengan Allah SWT akan semakin terasa dekat, jika kita hidup dalam masyarakat yang islami. Masyarakat juga akan yang berlomba-lomba dalam beramal shalih dalam perkara akhirat, bukan perkara dunia. Tambahan pula, masyarakat aktif melakukan aktivitas amar makruf nahi mungkar untuk mengontrol individu di dalamya. 

Disamping itu, kita akan lebih gampang taatnya ketika negara turut serta dalam menerapkan seluruh peraturan Islam secara kaffah.Tanpa  aturan Islam kaffah, tidak mungkin terbentuk masyarakat yang islami sebab masyarakat sangat dipengaruhi sama aturan. Salah satunyanegara harus menerapkan sistem pendidikan Islam. Dengan diterapkan sistem pendidikan Islam, peserta didik diharapkan memiliki kecerdasan sains dan iptek serta mempunyai kepribadian Islam. 

Dengan demikian, kita butuh negara menerapkan Islam kaffah agar bisa taat secara totalitas dengan memprioritaskan Allah SWT dan satu-satunya Rabb yang harus ditaati dalam kehidupan sehari-hari. Dalam rentang kedigdayaan Islam selama 13 abad, masyarakat hidup dalam ketaatan sempurna sehingga lahirlah generasi tangguh yang mempunyai kepribadian Islam.[]

Oleh: Cutiyanti
Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar