Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Jadikan Mereka Insan yang Beradab


Topswara.com -- Ketika menulis bab ini, saya teringat dialog dengan seorang guru tahfidz Al-Qur'an di sebuah sekolah Islam.

Ustaz Muda yang dikaruniai hafalan 30 juz ini membandingkan dengan lingkungan pesantren tempat yang dulu menuntut ilmu. Para santri begitu patuh pada Ustaz. Ihtiram. berjalan membungkuk ketika melintas di depan guru dan mencium tangan mereka dengan penuh hormat. Tutur katanya pun halus kepada guru dan tamu-tamu.

Saya pun beberapa kali diizinkan Allah berkunjung ke sekolah-sekolah Islam. Apa yang diceritakan Ustaz tadi ada benarnya. Banyak murid-murid di sekolah Islam yang seperti kehilangan adab. sedikit sekali di sekolah Islam yang para muridnya mau duduk diam dan khusyuk selama ceramah berlangsung. Rata-rata mereka terbiasa dengan celetukan-celetukan yang tidak bermanfaat.

Memprihatinkan lagi anak-anak dan para remaja di sekolah-sekolah itu minim ihtiram kepada pelajar ataupun tamu. Mereka tidak terbiasa mencium tangan orang tua meski itu adalah penceramah atau pengajar. Padahal sebagian sekolah-sekolah itu sekolah Islam terpadu dan pastinya berbiaya mahal. Ini menandakan ada paradigma yang belum pas dalam dunia sekolah Islam di tanah air.

Sesungguhnya pendidikan adalah proses pembentukan kepribadian seorang anak. Membentuk pola pikir dan pola sikap. Dahulu, para guru saya mengatakan bahwa membentuk pola pikir jauh lebih mudah ketimbang membentuk pola sikap dan pola pikir (aqliyah) nama cepat diisi dengan memasukkan berbagai tsaqofah Islamiyyah, termasuk berbagai hafalan ayat Al-Qur'an, hadis, atau teori-teori lainnya.

Namun pola sikap (nafsiyah) lebih berat karena harus dibentuk dengan menanamkan pemahaman dulu, alias membentuk pola pikir yang islami, baru kemudian menciptakan bi'ah islamiyah (kebiasaan/lingkungan/habit Islami) kepada seorang Muslim. Tanpa bi'ah maka sulit membentuk pola sikap Islam meski seorang muslim telah hafal ratusan atau ribuan ayat dan hadis, dan menamatkan berbagai kitab-kitab tsaqofah islamiyah.

Sayangnya, dan sekarang ada fenomena yang terbalik dalam dunia pendidikan umat Islam, termasuk dalam ruang lingkup keluarga. Banyak orang tua lebih menekankan dan mendahulukan aspek hafalan dan pemikiran atau kognitif ketimbang pola sikap.

Orang tua merasa bangga bisa membuat anaknya hafal juz 'amma, berbagai macam doa agama, dan sebagainya. Tapi kurang memperhatikan bi'ah islamiyah pada anak-anak mereka. Bagaimana mengajarkan anak sopan santun, baik dalam pergaulan, mengalah pada sesama kawan, sayang saudara dan hormat pada orang tua.

Padahal nafsiyah islamiyah tidak otomatis terbentuk pada anak walau mereka sudah hafal Al-Qur'an atau hadis atau kalimat-kalimat hikmah. Kenyataannya hafalan hanyalah hafalan dan tidak serta merta membentuk pola sikap pada seorang anak bila tidak dibentuk oleh lingkungan.

Pendidikan adab yang terlalaikan akhirnya menghasilkan generasi yang krisis kepribadian. Akal mereka sarat dengan ilmu pengetahuan, termasuk tsaqofah islamiyah, tapi jiwa mereka tidak tunduk pada hukum-hukum Allah. Mereka menjadi kaum terdidik yang arogan hilang sopan santun, dan tidak amanah.

Bukankah para koruptor hari ini adalah orang-orang yang berpendidikan dan justru pandai luar biasa? Tapi akhlak mereka terpuruk.

Atau bagaimana anak-anak sekolah kita begitu berprestasi tapi kemudian tidak memiliki iffah (penjaga kehormatan diri). Mereka terbiasa dengan ikhtilat/campur baur pria wanita, berkhalwat, melakukan perbuatan asusila kehilangan sopan santun dan lain-lain.

Sementara itu adab-adab kepada orang yang lebih tua pun menjadi hilang. Guru diremehkan orang tua dilawan, bahkan diancam. Pernahkah terjadi di tanah air anak yang menggugat orang tuanya ke pengadilan karena soal warisan padahal orang tua yang di gugat sudah lanjut usia.

Sesungguhnya agama ini telah memiliki thariqah pendidikan yang khas. Hanya saja aku sakit Allah yang tidak paham atau lalai dalam menjalankan thariqah ini. Di dalam Al-Qur'an terdapat petunjuk bahwa pendidikan itu dimulai dari penguatan akidah lalu kemudian akhlak. Simaklah dalam surat Luqman:

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan kami perintahkan/kepada manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulan keduanya di dunia dengan baik,... sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (TQS. Luqman: 13-19)

Setelah Allah SWT mengutip nasihat Luqman pada anaknya agar tidak mempersekutukan Allah, nasihat berikutnya adalah adab/husnul khuluq seperti berbakti pada orang tua, muraqabah/pengawasan diri, tidak sombong dan menjaga tutur kata dan nada suara.

Hal inilah yang dilakukan generasi terdahulu dalam dunia pendidikan. Setelah menanamkan dan menguatkan akidah anak-anak, para ulama salafus shalih menanamkan akidah pada anak-anak mereka. Ada kejadian menarik yang ditulis K.H. Cholis Moenawar dalam bukunya Biografi Empat Serangkai Imam Madzhab, yaitu mengenai Imam Syafi'i rahimahullah ibunda sang alim ini pernah tidak ridha kepadanya karena berlaku kurang adat, sekalipun sang Imam telah memiliki ilmu yang luhur dan terpandang.

Bersambung...

Ditulis kembali oleh: Munamah

Disadur dari buku: DNA Generasi Pejuang (bagian pengantar penulis), Bogor, Cetakan ke-1, Maret 2017.
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar