Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Bicara Akhir yang Baik, Gus Tuhu: Bukan Kematian yang Ditakuti, Tetapi...


Topswara.com-- Pengasuh Majelis Taklim Al-Mustanir Probolinggo Gus Tuhu menyikapi tentang persiapan menuju akhir yang baik, bukan kematian yang ditakuti namun bekal apa yang disiapkan.

“Bukan kematian yang ditakuti, akan tetapi bekal apa yang sudah disiapkan melewati kematian menuju kehidupan kedua di akhirat kelak,” jelasnya dalam acara Kajian Islam Tematik Edisi ke-57: Menyiapkan Akhir Yang Baik, Senin ( 2/8/2021) di kanal YouTube Bromo Bermartabat.

Ia menjelaskan, hanya ada dua kondisi akhir hidup manusia yaitu  akhir yang baik (حسن الخاتمة) atau akhir yang buruk (سوء الخاتمة).

Sementara kondisi akhir inilah, dinilainya yang menentukan posisi manusia di akhirat kelak. Ia menjelaskan, siapa yang akhir hidupnya baik akan menuju surga. Sebaliknya, yang akhir hidupnya buruk akan menuju neraka. 

Ia memaparkan, bekal yang harus dipersiapkan menuju akhir yang baik, pertama, banyak mengingat mati dan akhirat. “Orang yang banyak mengingat kematian tentu akan selalu berusaha mempersiapkan dan memantaskan diri untuk menghadapinya," katanya.

Sebaliknya, ia jelaskan, mereka yang lalai dari mengingat kematian dan akhirat akan tenggelam dalam keadaan mencintai dunia dan kehidupan. "Akibatnya yang mereka siapkan hanya sebatas kehidupan dunia,” jelasnya.

Ia mengutip sebuan hadis, Nabi Muhammad SAW menyebut orang beriman yang banyak mengingat mati sebagai orang mukmin yang cerdas, sebagaimana sabda beliau:
عن ابن عمر رضي الله عنهما أنه قال : كنت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فجاءه رجل من الأنصار فسلم على النبي صلى الله عليه وسلم ثم قال : يا رسول الله أي المؤمنين أفضل؟ قال : «أحسنهم خُلُقاً، قال: فأي المؤمنين أكيس قال : «أكثرهم للموت ذكرا وأحسنهم لما بعده استعدادا أولئك الأكياس  » [ حسن، أخرجه ابن ماجه: كتاب الزهد (4259)[

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata: Aku pernah bersama Rasūlullāh SAW, lalu seorang Anshār mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya:“Wahai Rasūlullāh, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda: “Yang paling baik akhlaknya.” “Wahai Rasūlullāh, mukmin manakah yang paling cerdas?” Ia kembali bertanya. Beliau bersabda: “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Mājah no. 4259),” jelasnya.

Kedua, menjaga iman, jangan syirik dan murtad. “Istiqamah dalam iman dan tidak berlaku syirik serta tidak murtad adalah penyiapan yang bersifat wajib bagi siapa saja yang ingin berakhir dengan baik dan mendapat jaminan surga Allah SWT,” lanjutnya.

Ketiga, mendawamkan amal shalih dan menjauhi maksiat. Gus Tuhu menambahkan, termasuk wujud nyata dari persiapan akhir yang baik adalah berusaha terus menerus melakukan amal shalih dan menjauhi maksiat pada Allah SWT. 

“Amal shalih jumlahnya banyak sekali. Ada amal yang berupa kegiatan sehari-hari mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali," ujarnya

"Ada yang berbentuk ritual atau muamalah individual dan sosial masyarakat. Ada yang berujud pengorbanan tenaga, harta atau pikiran bahkan jiwa; ada yang berstatus wajib atau sunnah dan amal dhahir maupun bathin lainnya,” bebernya.

Keempat, berdoa agar diberi husnul khatimah, yang tidak boleh diabaikan dalam penyiapan akhir yang baik adalah berdoa.

Ia mengajak, agar sebagai umat Islam yang mendambakan husnul khatimah bermunajat terus menerus pada Allah. "Agar selalu diberi petunjuk, ketetapan hati di jalan iman dan berdoa agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah adalah sikap serius mengharap akhir yang baik,” jelasnya.

Ia menjelaskan, kematian sebagai pintu gerbang kehidupan kedua. Yaitu, batas akhir yang bisa menjadi penyesalan tiada berguna bagi mereka yang berakhir dengan buruk. "Namun, tidak dengan seorang mukmin yang telah memahami hakikat hidup, mati, surga dan neraka,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar