Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

PPKM Darurat, Keselamatan Ekonomi atau Nyawa rakyat?


Topswara.com -- Lagi-lagi rakyat kembali bingung atas kebijakan pemerintah dalam menerapkan PPKM Darurat di berbagai daerah. Membatasi aktivitas masyarakat dengan dalil untuk memutuskan rantai penyebaran virus Covid-19 yang semakin meningkat. Akan tetapi, di saat yang sama pemerintah membiarkan TKA Cina masuk ke Indonesia. Bagaimana bisa dikatakan keseriusan pemerintah dalam menangani kasus virus Covid-19 yang semakin meningkat?

Pandemi Covid-19 masih melanda banyak negara di dunia termasuk Indonesia. Di tanah air, virus asal Wuhan. China itu pertama kali terdeteksi pada Maret 2019, artinya sudah satu tahun lebih negara ini terkungkung virus Covid-19 .(merdeka.com, 1/7/2021)

Lalu, data 30 Juni 2021 kemarin, kasus positif Covid-19 bertambah 21.807 orang, jika ditotal jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia sudah menjangkit 2.178.272 orang.

Selanjutnya, pemerintah menerapkan ragam kebijakan untuk mengatasi aktivitas masyarakat. Dengan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), namun istilah itu berubah menjadi PPKM skala mikro. Kebijakan ini, sedikit melonggarkan operasional sejumlah sektor, misalnya; dari kapasitas perkantoran menjadi 50 persen, operasional mall kembali dibuka dengan jumlah pengunjung dan jam dibatasi, bahkan dilokasi zona hijau Covid-19 belajar tatap muka diuji coba.

Namun, kebijakan-kebijakan tersebut tidak juga menjadi solusi dalam menangani Covid-19. Bahkan, korban semakin bertambah dengan terjangkit berbagai virus varian baru. Kini, kesulitan rakyat semakin bertambah di masa pandemi ini, dari sulitnya mencari nafkah, iuran pajak semakin meningkat dengan berbagai ragam kebijakan, yang terjangkit virus bertambah menderita dengan minimnya pelayanan sistem kesehatan kapitalis. Bahkan, kebijakan ini juga membatasi aktivitas kaum Muslim untuk beribadah di masjid.

Solusi-solusi yang diberikan bukan untuk keselamatan nyawa rakyat tetapi untuk menyelamatkan perekonomian. Rakyat ibarat anak yatim-piatu, kehilangan perisai untuk menghadapi berbagai problematika kehidupan. Padahal, penguasa adalah perisai untuk melindungi rakyatnya

Akan tetapi, banyak pakar menganggap PPKM Darurat bukan kebijakan yang efektif untuk antisipasi kegentingan dan ledakan Covid-19, hanya berubah istilah dari kebijakan sebelumnya yang tidak terbukti ampuh dan justru membingungkan masyarakat. Karena rezim kapitalis tidak akan membuat kebijakan yang mengorbankan keuntungan materi, namun justru untuk penyelamatan ekonomi, padahal mestinya pemerintah fokus pada penyelamatan nyawa.

Namun pemerintah tetap mengambil kebijakan  menerapkan PPKM di berbagai daerah, dan menghindari karantina wilayah, karena akan memperhambat pertumbuhan ekonomi di negeri ini

Demikianlah, sistem kapitalis yang memisahkan kehidupan manusia dengan Islam yang hanya mementingkan keuntungan ketimbang keselamatan rakyat. Untung-rugi adalah patokan bagi para pedagang ala kapitalis hingga tidak melihat halal-haramnya dari tindakan yang dilakukan. Berbeda dengan Islam, keselamatan nyawa rakyat adalah hal yang sangat penting untuk diutamakan. 

Di dalam Islam, penguasa berkewajiban atas berbagai urusan rakyatnya, termaksud dalam mengambil kebijakan untuk memutuskan rantai Covid-19. Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: sesungguhnya imam adalah laksana perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakang nya dan dia akan dijadikan sebagai pelindung. (H.r. Muslim, Abu Dawud, an-Nasa'i, Ahmad dari Abu Hurairah).

Bahkan, Islam sudah mencontohkan kebijakan apa yang akan di ambil untuk melindungi rakyatnya dari wabah. Yakni dengan karantina wilayah atau lockdown syar'i. Karena kebijakan lockdown syar'i adalah solusi yang tepat untuk mengatasi Covid-19. Warga yang sakit dan yang sehat dipisahkan, dengan isolasi bagi yang sakit dan yang sehat dikarantina artinya tidak bisa beraktivitas diluar wilayah tempat tinggalnya. 

Akan tetapi, wilayah yang di karantina kebutuhan rakyatnya dijamin oleh khalifah. Agar rakyat tidak khawatir lagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di masa pandemi. Lalu, khalifah akan menanamkan pemahaman Islam disetiap rakyatnya agar selalu bersabar menghadapi wabah dan berdoa kepada Allah SWT, agar segera berakhir wabah ini. 

Demikianlah, sistem Islam memberikan solusi yang tepat untuk menangani pandemi. Tetapi semua tidak akan terwujud jika khilafah belum tegak. Maka, tugas kita adalah mendakwahkan Islam ditengah-tengah umat. Karena, hanya dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah dibawah naungan khilafah Islamiyyah, negeri ini bisa melewati masa kritisnya.

Waulahu a'lam bishawab


Oleh: Fiani, S.Pd.
(Sahabat Topswara)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar