Topswara.com -- Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang pesat dan menjanjikan kemudahan dalam berbagai bidang kehidupan. Namun, di balik kecanggihannya, tersimpan ancaman yang tidak boleh diabaikan.
Para peneliti AI, termasuk Geoffrey Hinton yang dikenal sebagai salah satu pelopor AI modern, kembali memperingatkan pemerintah agar bersiap menghadapi kemungkinan ledakan kecerdasan buatan.
AI dapat membawa manfaat bagi dunia medis dan teknologi, tetapi juga berpotensi memicu ancaman biologis dan serangan siber, hilangnya kendali manusia, hingga perlombaan teknologi yang memperbesar risiko konflik antarnegara.
AI memang mampu membantu manusia menganalisis data, mempercepat penelitian, meningkatkan layanan kesehatan, dan menyelesaikan pekerjaan secara efisien. Namun, teknologi yang sama dapat dimanfaatkan untuk membuat informasi palsu, memanipulasi opini publik, mencuri identitas, hingga melancarkan serangan siber.
Metro TV dalam pemberitaan tentang ancaman manipulasi informasi oleh AI pada 21 April 2026 menyoroti risiko deepfake dan penyebaran konten palsu yang sulit dibedakan dari kenyataan. Detikinet pada 1 Oktober 2026 mengulas kekhawatiran pakar mengenai kemampuan agen-agen AI dalam mengeksploitasi kelemahan keamanan digital.
Di sinilah persoalan mendasarnya. Kemajuan teknologi tidak otomatis berbanding lurus dengan kemajuan moral manusia. Ketika keuntungan, kekuasaan, dan dominasi menjadi orientasi utama, AI dapat dijadikan alat untuk memperluas kejahatan dan persaingan tanpa batas.
Bahkan, jika pengembangan AI hanya berorientasi pada kepentingan ekonomi dan politik, keselamatan manusia berisiko dikorbankan. Tanpa kendali nilai dan hukum yang kuat, kecanggihan AI justru dapat memperbesar kerusakan yang sebelumnya dilakukan manusia.
Pengawasan teknis saja tidak cukup. Diperlukan landasan nilai yang menentukan batas benar dan salah serta tujuan pemanfaatan teknologi.
Islam memandang akal sebagai karunia Allah yang memuliakan manusia sekaligus menjadi bekal untuk memahami kekuasaan-Nya dan menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi. Akal dan ilmu bukan untuk menciptakan kerusakan, melainkan untuk menghadirkan kemaslahatan sesuai petunjuk Allah.
Dalam perspektif Islam, perlu dibedakan antara teknologi sebagai sarana dan nilai atau ideologi yang mengarahkan penggunaannya. Teknologi pada dirinya dapat menjadi alat, tetapi keputusan tentang tujuan, desain, penggunaan, dan dampaknya tidak pernah sepenuhnya terlepas dari pilihan manusia.
AI perlu dikembangkan dan digunakan berdasarkan akidah Islam serta tunduk pada syariat. Informasi yang diproses AI tidak otomatis benar, adil, atau sesuai dengan nilai Islam.
Sistem dibangun berdasarkan data, tujuan, dan keputusan manusia yang dapat mengandung bias maupun kepentingan tertentu. Muslim yang beriman dan terikat pada syariat dituntut memastikan teknologi digunakan untuk kebaikan, menjaga kehormatan manusia, serta mencegah kemudaratan.
Sebaliknya, siapa pun yang menggunakannya tanpa tanggung jawab moral berpotensi menjadikan AI sebagai sarana kezaliman dan kerusakan.
Keselamatan manusia tidak cukup disandarkan pada kecanggihan teknologi atau kebijakan yang terus tertinggal dari perkembangannya. Islam menuntut pengaturan kehidupan berdasarkan syariat, termasuk dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi.
Negara harus hadir menetapkan aturan yang tegas, mengawasi penerapannya, dan mencegah AI digunakan untuk kejahatan maupun kepentingan yang merugikan masyarakat.
Kecanggihan AI semestinya menjadi sarana memakmurkan kehidupan, bukan membuka jalan menuju kehancuran. Teknologi boleh terus berkembang, tetapi manusia tidak boleh kehilangan arah hidup dan ketundukan kepada Allah.
Oleh: Wahyuni Mu
Aliansi Penulis Rindu Islam

0 Komentar