Topswara.com -- Masa kecil atau masa anak-anak adalah masa yang dianggap oleh banyak orang sebagai masa paling menyenangkan dan membahagiakan. Karena, di setiap fase tumbuh-kembang anak, selalu dirindukan ketika kelak sudah menjadi kenangan.
Banyak yang menganggap dunia mereka adalah dunia yang pernuh warna, karena mereka bisa bersenang-senang tanpa memikirkan beban masalah kehidupan. Sehingga, pada masa mereka dianggap menjadi salah satu masa yang paling berkesan di antara fase kehidupan manusia.
Namun, bagaimana kondisinya jika masa kecil yang seharusnya dipenuhi oleh tawa kebahagiaan, direnggut dan diubah menjadi penuh dengan tangisan yang menyayat hati? Bukan perasaan bahagia yang diberikan, namun luka yang terus menganga.
Tidak ada hari yang bisa mereka rayakan kebahagiannya dengan teman-teman sebayanya. Karena di setiap detik, nyawa mereka selalu diburu oleh dentuman bom yang menggenosida. Tubuh-tubuh kecil yang tidak bersalah harus menjadi korban. Inilah yang dirasakan oleh anak-anak di Palestina akibat kezaliman Zionis.
Sebagaimana pernyataan yang dilaporkan oleh Komisi Penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa ribuan anak-anak Palestina syahid akibat target serangan Zionis yang sengaja ditujukan kepada anak-anak tak bersalah sejak bulan Oktober 2023 lalu hingga mengakibatkan ratusan ribu anak Palestina mengalami penderitaan fisik maupun psikis.
Menanggapi fakta tersebut, Komisi Penyelidik PBB memberikan kesimpulan bahwa Zionis sengaja mentargetkan serangannya kepada anak-anak untuk merusak masa depan rakyat Palestina. (Bbc.com 24/06/2026)
Bahkan, jika dihitung rata-rata, maka satu anak syahid pada setiap harinya. Zionis terus melakukan penyerangan tiada henti bahkan di masa gencatan senjata. Menurut UNICEF perjanjian gencatan senjata yang digaungkan oleh Zionis hanyalah ilusi perdamaian. Gencatan senjata hanyalah topeng untuk menyembunyikan kekejaman yang Zionis lakukan. (Aljazeera.com 19/06/2026)
Sejak puluhan tahun lalu, tepatnya pada tahun 1948, Muslim Palestina sengaja dijadikan target pemusnahan massal oleh Zionis. Dimana Palestina saat itu membantu untuk menampung mereka ke negerinya di saat dunia menolaknya. Namun, dibalik wajah memelas Zionis ada rencana kejam yang akan mengguncang kedamaian rakyat Palestina yang telah menolongnya.
Zionis merancang berbagai cara demi mengikuti ambisinya untuk menguasai tanah Palestina dan membentuk Israel raya. Salah satunya adalah dengan menggenosida generasi mudanya yaitu anak-anak Palestina. Mulai dari bayi dalam kandungan ibunya, bayi baru lahir, bayi yang umurnya masih beberapa bulan, anak balita hingga yang usianya dia atas itu diburu nyawanya.
Zionis tak peduli dengan perjanjian gencatan senjata yang sejatinya justru strategi mereka untuk membunuh lebih banyak lagi anak-anak. Perjanjian apapun yang mereka gaungkan selalu mereka langgar. Inilah watak Zionis Yahudi Israel yang sesungguhnya.
Genosida terus mereka lakukan tanpa memandang sedikitpun rasa kemanusiaan, bahkan tidak peduli dengan kecaman dari lembaga perdamaian dunia, yaitu PBB.
Lebih mirisnya, di saat dunia menggaungkan perlindungan kepada anak-anak, namun nyatanya nyawa anak-anak Palestina hingga detik ini terus terancan keselamatannya. Tidak tampak aksi nyata yang diberikan untuk melindungi tubuh-tubuh kecil mereka.
Janji perlindungan itu ternyata hanyalah ilusi untuk meredakan kekhawatiran masyarakat dunia yang nyatanya tidak mampu memberikan perdamaian dunia. Begitupun juga para pemimpin negeri-negeri Muslim tidak mampu memberikan perlindungan kepada kaum Muslim karena mereka lebih mementingkan eksistensinya di hadapan dunia, bukan di hadapan Sang Pencipta.
Menyadari hal itu, harapan umat seluruh dunia tidak bisa ditujukan kepada Zionis agar melunak, seperti pergantian pemimpin atau perdana menteri. Juga tidak bisa digantungkan pada lembaga perdamaian dunia PBB yang terbukti gagal mewujudkan perdamaian dunia walaupun telah membuat puluhan resolusi.
Apalagi pada pemimpin negeri-negeri Muslim, demi merealisasikan paham nasionalisme dan politik kapitalisme, justru dengan teganya semakin mempererat hubungannya dengan pendukung sekaligus pelaku utama genosida terhadap rakyat Palestina, yaitu AS dan Zionis.
Tidak ada harapan lain yang mampu memberikan kebebasan untul Palestina selain hanya pada khilafah. Dimana khilafah adalah satu-satunya institusi politik Islam yang mengikuti jalan nabi dalam mengatur urusan umat, salah satunya dengan memberikan hal perlindungan kepada umat.
Institusi khilafah akan membebaskan setiap wilayah Muslim yang dijajah atau diganggu kedamaiannya oleh penjajah dengan melakukan aktivitas jihad fii sabilillah untuk mengalahkan musuh Islam sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT. Dengan begitu, kebebasan rakyat Palestina akan kembali dan mereka tidak perlu takut lagi nyawanya terancam.
Sebagiamana dalam Islam, jaminan perlindungan yang diberikan oleh Khilafah kepada setiap warganya termasuk anak-anak, tidak hanya jaminan perlindungan terhadap jiwa mereka, tetapi juga terhadap kesehatan mereka baik fisik maupun mental, kesejahteraan hidup, pendidikan, hingga seluruh aspek yang mendukung masa depan mereka.
Oleh karena itu, keberadaan khilafah adalah perkara penting untuk diwujudkan. Karena hanya dengan khilafah, semua hukum-hukum Allah bisa diterapkan secara sempurna, termasuk kewajiban jihad fi sabilillah untuk mengusir penjajah di atas muka bumi ini.
Khilafah adalah qadhiyah mashiriyah umat yang butuh perjuangan untuk menegakkannya. Dan hari ini, misi perjuangan itu seharusnya diemban oleh setiap Muslim.
Maka, setiap Muslim yang mengaku beriman seharusnya mengemban seruan dari Sang Pencipta ini untuk mengembalikan lagi kehidupan umat. Agar kebebasan rakyat Palestina dan setiap umat di seluruh penjuru dunia bisa diwujudkan.
Wallahu a'lam bish-shawwab.
Oleh: Zahra K.R
Aliansi Penulis Rindu Surga

0 Komentar