Topswara.com -- Malam ini suasananya agak berbeda. Di kanan-kiri jalan berdiri gagah umbul-umbul merah putih. Lampu hias mulai dipasang. Gapura dicat ulang. Depan resto pun tak mau kalah pasang dekorasi nuansa merah putih. Jadi ingat, "O iya bulan depan sudah Agustus."
Agustus memang selalu menghadirkan rasa haru. Tetapi di tengah semarak itu, muncul satu pertanyaan yang menggelitik.
Benarkah kita sudah merdeka? Sobat Nabila, kalau yang dimaksud merdeka dari penjajahan fisik, tentu iya. Kita bersyukur kepada Allah atas nikmat itu.
Namun jika yang dimaksud adalah merdeka dalam cara berpikir, sistem kehidupan, dan arah kebijakan negara, jawabannya layak direnungkan kembali.
Karena penjajahan zaman sekarang tidak selalu datang dengan kapal perang atau suara meriam. Kadang datang dengan jas rapi, kontrak investasi, kurikulum pendidikan, aplikasi digital, utang luar negeri, budaya hiburan, hingga slogan-slogan yang terdengar indah. Pelan-pelan, tanpa terasa. Betul tidak?
Penjajahan Sistem Sekuler
Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya agama dianggap cukup di masjid, sementara politik, ekonomi, pendidikan, hukum, hingga media berjalan tanpa bimbingan syariat. Lahir generasi yang hafal tren media sosial tetapi gagap memahami Islam sebagai aturan hidup.
Korupsi dianggap pelanggaran administratif, bukan pengkhianatan terhadap amanah Allah. Kejujuran menjadi pilihan, bukan kewajiban. Agama dipersempit menjadi urusan ibadah pribadi, padahal Islam turun untuk mengatur seluruh aspek kehidupan.
Penjajahan Sistem Liberal
Liberalisme menawarkan slogan kebebasan. Bebas berpikir. Bebas bergaul. Bebas memilih gaya hidup selama tidak mengganggu orang lain, bebas.
Sekilas terdengar indah. Namun ketika kebebasan dijadikan standar kebenaran, batas halal-haram mulai kabur. Pergaulan bebas meningkat. Pornografi mudah diakses.
Perselingkuhan dianggap urusan pribadi. Perceraian meningkat. Anak-anak kehilangan figur orang tua. Keluarga rapuh. Muncul individu egois ,"Yang penting aku bahagia, tak peduli yang lainnya", meski sebagian masyarakat ikut menanggung akibat dari perbuatannya.
Padahal dalam Islam, kebebasan manusia dibatasi oleh hukum Allah agar tidak saling menzalimi.
Penjajahan Sistem Kapitalisme
Kapitalisme mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan adalah keuntungan.
Segala sesuatu bisa diperjualbelikan.
Dampaknya, pendidikan menjadi mahal. Kesehatan menjadi bisnis. Air, listrik, tambang, bahkan sumber daya alam yang semestinya menjadi milik umat bisa dikelola demi keuntungan segelintir pihak.
Akibatnya, negeri yang kaya justru masih memiliki rakyat yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Yang kaya makin kaya. Yang miskin diminta lebih sabar.
Penjajahan Politik
Penjajahan hari ini tidak selalu berupa pendudukan militer. Intervensi kebijakan bisa hadir melalui tekanan ekonomi, utang, perjanjian internasional, maupun kepentingan geopolitik.
Di sisi lain, pengelolaan sumber daya alam strategis sering kali melibatkan perusahaan besar, termasuk perusahaan asing, sehingga manfaat ekonominya tidak selalu dirasakan secara optimal oleh seluruh rakyat. Berbagai keputusan nasional juga dapat dipengaruhi oleh dinamika politik dan ekonomi global.
Sementara itu, tantangan lain terus bermunculan. Kejahatan siber semakin canggih. Judi online. Pinjaman online ilegal. Penipuan digital. Narkoba. Perdagangan manusia. Teknologi berkembang pesat, tetapi kerusakan moral juga ikut berlari.
Jadi, Merdeka Itu Apa?
Kalau masih diperbudak hawa nafsu. Kalau masih takut kepada manusia melebihi takut kepada Allah. Kalau hukum Allah disisihkan sementara aturan buatan manusia dijadikan standar mutlak. Apakah itu benar-benar merdeka?
Syaikh Taqiyyudin An-Nabhani menjelaskan bahwa Islam adalah sebuah mabda' (ideologi), yaitu akidah yang melahirkan seperangkat aturan kehidupan. Menurut beliau, manusia tidak akan memperoleh ketenteraman dengan sistem buatan manusia karena manusia memiliki keterbatasan ilmu dan dipengaruhi kepentingan. Hanya syariat yang berasal dari Allah Yang Maha Tahu yang mampu menjadi pedoman yang adil bagi seluruh manusia.
Keadilan adalah tujuan syariat. Allah menolong negara yang menegakkan keadilan. Seluruh syariat dibangun di atas hikmah, keadilan, rahmat, dan kemaslahatan. Segala sesuatu yang keluar dari nilai-nilai tersebut bukanlah bagian dari syariat.
Karena itu, kemerdekaan hakiki dalam Islam bukan berarti bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan hakiki adalah ketika manusia hanya tunduk kepada Allah. Bukan kepada hawa nafsu. Bukan kepada uang. Bukan kepada jabatan. Bukan kepada korporasi. Bukan kepada tekanan negara lain.
Ketika manusia tunduk kepada Allah, justru di situlah ia terbebas dari penghambaan kepada sesama manusia.
Maka menjelang peringatan kemerdekaan, mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah, "Sudah berapa tahun negeri ini merdeka secara fisik?"
Melainkan, "Sudahkah hidup kita benar-benar merdeka di bawah aturan Allah, atau hanya berganti penjajah dengan wajah yang lebih rapi?" []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar