Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hutan yang Makin Terpinggirkan


Topswara.com -- Diskusi tentang peranan hutan sering dilakukan oleh para pemerhati lingkungan hidup, khususnya para pecinta hutan. Baik kalangan akademisi, intelektual, pecinta lingkungan hidup, dan masyarakat secara umum. 

Seperti yang dikutip dari SINDOnews.com (04/07/26)_Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat memberikan Kuliah Umum dan Diskusi Ilmiah dengan akademisi dan civil society organizations (CSO) di Universitas Harkat Negeri, Kampus Mataram, Kota Tegal, Jumat (3/7/2026). Dalam kesempatan itu, dia berharap ada moratorium penebangan hutan atau moratorium deforestasi. 

Hal itu dikatakan Jumhur menanggapi pertanyaan dari seorang peserta diskusi soal penebangan hutan untuk diganti dengan tanaman sawit dengan tujuan menciptakan bio energi seperti bio etanol. Jumhur menjelaskan, bukan hanya tanaman sawit yang bisa dijadikan bio energi seperti bio etanol, tapi juga jagung dan tebu. 

Diskusi ini sangat menarik audiens untuk bertanya seberapa pentingnya pengalihan fungsi hutan kepada tanaman sawit untuk menciptakan bio energi.

Sebenarnya apasih peranan bio energi. Kebermanfaatannya sebesar apa bagi kehidupan sehari-hari. Kita perlu mengetahui. Sehingga kita tidak salah paham dalam bersikap dan bertindak. 

Hutan semestinya sudah dia pahami oleh kita semua. Sedari kecil sampai duduk di bangku perkuliahan. Apalagi mahasiswa yang mengambil jurusan ilmu alam. 

Pastilah tahu betapa hutan menjadi kebutuhan bagi keberlangsungan makhluk hidup di muka bumi. Apalagi ketika belajar biologi, dikatakan bahwa efek dari penebangan hutan besar-besaran adalah salah satunya pemanasan global atau efek rumah kaca. 

Tetapi anehnya, dalam kehidupan nyata hutan malah terus berkurang jumlahnya. Diambil dan dieksploitasi tanpa henti hingga menimbulkan banyak bencana alam. Bahkan hilangnya habitat bagi makhluk hidup yang bergantung pada hutan. 

Jadi antara ilmu pengetahuan dan penelitian tidak berjalan lurus dengan penerapan sehari-hari. Seolah-olah menjaga kelestarian hutan hanyalah khayalan belaka dan sulit diterapkan dengan alasan meningkatkan ekonomi masyarakat, memenuhi kebutuhan pasar industri, memenuhi kebutuhan pangan. 

Padahal, jika dilihat ketika hutan ditebang bukan meningkat kesejahteraan masyarakat, bahkan kehidupan semakin sulit. Kemiskinan tetap ada, bahkan banyak bencana yang semakin menambah derita warga. 

Hutan makin terpinggirkan dipengaruhi oleh pandangan manusia mengenai standar kebahagiaan di dunia. Begitu pula, dipengaruhi oleh sistem yang berlaku di dalam mengatur kehidupan ini. 

Pandangan manusia tentang standar kebahagiaan adalah materi. Manusia yang memiliki sifat tidk pernah cukup, akhirnya ketika memiliki kekuasaan, kekayaan akhirnya terus menerus menambah kekayaan. 

Apalagi tidak ada standar halal dan haram, termasuk merusak hutan jika akhirnya bisa mendapatkan keuntungan yang sangat besar maka akan dilakukan. 

Sistem yang berlaku berasal dari manusia, seperti sistem kapitalisme yang hari ini banyak berlaku. Tidak ada aturan yang tetap. Tergantung siapa yang berkuasa. Ketika aturan yang diberlakukan membolehkan memiliki dan mengelola hutan secara besar-besaran, maka ini menjadi kesempatan yang tidak diabaikan oleh pemilik modal yang terus menambah pundi-pundi uang. 

Oleh karena itu, diperlukan individu yang memahami arti kebahagiaan hakiki. Bukan sekedar apa yang diinginkan bisa terwujud dengan banyaknya uang atau materi. Tetapi standar kebahagiaan haruslah benar, tidak merusak kebahagiaan orang lain, merusak lingkungan, dan merusak kehidupan makhluk hidup lain. 

Seperti halnya pandangan islam yang mengartikan arti kebahagiaan adalah apa yang diridhoi oleh Allah SWT. Sehingga ketika ingin menambah pundi kekayaan harus dengan standar halal dan haram. 

Sistem islam juga mengatur bahwa hutan adalah kepemilikan umum. Tidak boleh dirusak, apalagi posisinya hutan lindung. Kalaupun dimanfaatkan, maka tidak sampai merusak dan diambil secukupnya sesuai kebutuhan. 

Seperti kayu, makanan, obat-obatan dan manfaat hutan yang lain. Jika untuk kebutuhan produksi maka harus hutan khusus produksi, tidak asal sembarangan tebang. Apalagi secara besar-besaran. 

Islam menetapkan konsep hutan yang tidak boleh dirusak disebut hima. Kawasan hima dapat berupa padang rumput, lembah, sumber air, maupun wilayah vegetasi alami yang memiliki fungsi ekologis penting bagi masyarakat. 

Sehingga hutan bisa menjaga ekosistem yang ada didalamnya. Manusia pun bisa terhindar dari bencana alam. Sabda nabi Muhammad SAW,  “Tidak ada hima kecuali milik Allah dan Rasul-Nya (HR. Bukhari)".


Oleh: Eni Yulika
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar