Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Perlahan tapi Pasti: 'Sindrom Katak Direbus' di Tubuh Masyarakat


Topswara.com -- Beberapa waktu lalu lewat di beranda medsos suatu postingan yang intinya menyampaikan pesan kenapa sesuatu yang dulu dianggap tabu kini menjadi hal biasa. Membaca postingan itu dalam hati membenarkan. Mengapa hal ini sekarang bisa terjadi? Ada apa dengan masyarakat kita?

Hal tabu itu misalnya permasalahan dalam rumah tangga, entah perselingkuhan, KDRT, ekonomi semua bisa dikonsumsi publik lewat media sosial. Atau aktivitas pribadi seseorang, bisa diikuti lewat status akun media sosialnya.

Dan yang paling miris adalah perilaku dosa menjadi hal yang lumrah dilakukan. Seperti beberapa waktu lalu ramai diperbincangkan adalah perilaku kejahatan seksual. Kasus itu bergulir tanpa jeda, banyak kasus terjadi. Bahkan kejadian bukan di tempat kriminal tapi di ruang pendidikan, dan keagamaan. 

Masyarakat Sakit

Jika dicermati kondisi masyarakat kita hari ini tidak sehat, alias sakit. Dan tidak semua individu dari masyarakat menyadari jika ia tengah sakit. Buktinya ia menganggap biasa pada sesuatu yang dulu tabu. 

Pernah mendengar sindrom katak direbus? Bisa jadi sindrom ini serupa dengan kondisi masyarakat kita. Coba perhatikan fakta katak yang direbus. 

Kalau seekor katak dilempar di air yang mendidih, dia akan langsung melompat menyelamatkan diri. Tapi, kalau katak itu dimasukkan ke air dingin, lalu apinya dinyalakan kecil sekali secara perlahan, katak itu tidak akan sadar bahwa ia sedang direbus sampai akhirnya mati kepanasan. Sudah bisa difahami sampai disini?

Dalam teori Sosiologi, kondisi ini dinamakan 'Cultural Drift'. Yaitu fenomena terjadinya pergeseran budaya secara halus. Sesuatu yang awalnya dianggap tabu, rusak, maksiat, perlahan-lahan diterima sebagai hal yang 'biasa'. Karena lingkungan sekitar membiarkannya terus-menerus terjadi tanpa pengingat.

Masyarakat mengalami 'desensitisasi moral', yaitu hilangnya kepekaan rasa bersalah karena semua orang melakukannya.

Bisa jadi sindrom ini serupa dengan kondisi masyarakat kita hari ini. Suatu perkara maksiat dianggap biasa karena sudah terlalu sering fakta itu terjadi. Perlahan tapi pasti banyak yang sudah melakukan kemaksiatan. Sehingga tanpa disadari kita menganggap normal, maka muncul istilah 'normalisasi'.

Kemaksiatan merajalela, awalnya tabu tapi kejadian itu terus berulang tanpa pengingat tanpa sanksi keras, akhirnya semua menganggap dosa besar perzinaan, pembunuhan dianggap biasa saja, na'udzubillahi min dzaliik. Itulah masyarakat kita hari ini. 

Peringatan Al Qur'an 

Sebelum teori sosiologi atau teori-teori lain tentang pergeseran masyarakat itu muncul, Al Qur'an telah memperingatkan polanya dengan sangat presisi. 

Bahwa Allah tidak hanya melarang tentang akhir dosanya, tapi melarang 'langkah-langkah' awalnya.

Allah Ta'ala berfirman, "Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh nyata bagimu" (QS. Al-Baqarah: 168).

Dari ayat ini kita belajar bahwa 'langkah-langkah setan' adalah proses kemaksiatan itu terjadi. Dan setan tidak akan menghancurkan suatu bangsa melalui hantaman badai besar secara mendadak atau instan, melainkan lewat bisikan kompromi kecil yang konsisten. 

Allah Ta'ala pun telah menggambarkan kisah kemaksiatan yang perlahan dilakukan dalam QS. al-A'raf: 163-165. Allah Ta'ala mengabadikan dalam ayat ini tentang kisah sebuah bangsa di kota pesisir (Ashabus Sabt) yang hancur karena membiarkan pelanggaran kecil atas aturan di hari Sabtu.

Kondisi perlahan rusak ketika masyarakat telah terbagi menjadi tiga kelompok. Yang pertama, pelaku pelanggaran (yang berkompromi dengan dosa). Kedua, kelompok diam (yang cuek dan membiarkan karena itu bukan urusan mereka). Ketiga, kelompok penyeru kebaikan (yang aktif mengingatkan agar tatanan moral tidak bergeser). 
Sebagai individu masyarakat, kita ingin termasuk yang mana?

Jaga Moralitas: Tanggung Jawab Bersama

Menjaga Moralitas suatu masyarakat tidak terbatas pada menjaga kesalehan individu. Melainkan butuh penjagaan secara sistemis. Karena pelakunya bukan hanya satu dua orang, tapi sudah berbanyak kasus terjadi. Berarti ini bukan kesalahan individu.

Maka jangan biarkan diri kita terbiasa memaklumi hal-hal kecil yang melanggar syariat di sekitar kita. Bangun kembali kepekaan kita terhadap pergeseran yang terjadi, serta tumbuhkan kontrol sosial di masyarakat.

Ketika kompromi-kompromi kecil itu terasa biasa saja, saat itulah air di dalam panci sudah mulai mendidih. Berarti kita siap menuju kebinasaan. Na'udzubillahi min dzaliik. []


Oleh: Sari Diah Hastuti
(Aktivis Muslimah)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar