Topswara.com -- Kekerasan, kehancuran, dan kematian di Gaza membuat sejumlah anak merespons penderitaan yang luar biasa itu dengan diam.
Salah satunya adalah Adam. Sebelum perang terjadi, Adam adalah anak yang ceria dan banyak bicara. Namun saat usianya menginjak lima tahun, dia mendadak berhenti berinteraksi dengan dunia.
Sejak Oktober 2023, pasukan Israel dilaporkan telah membunuh lebih dari 20.000 anak di Gaza dan menyebabkan lebih dari 41.000 terluka, menurut UNICEF. Secara total, serangan-serangan Israel menewaskan lebih dari 72.000 orang yang mayoritas warga sipil, dan melukai lebih dari 172.000, menurut Kementerian Kesehatan Gaza (kompas.com, 30/5/2026).
Sungguh perih melihat kondisi ini. Saudara kita sesama Muslim di Palestina terus berduka entah sampai kapan. Tanah mereka dirampas oleh Zionis dan nyawa mereka pun dihabisi.
Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Lebih perih lagi saat kita menyadari bahwa genosida brutal ini terjadi akibat pengkhianatan saudara muslim mereka, yaitu para penguasa Muslim.
Derita sunyi yang dialami anak-anak Gaza hingga mereka kehilangan kemampuan bicara adalah dampak kejahatan entitas zionis yang terus menyerang, membunuh dan menghancurkan Gaza.
Skenario genosida rakyat Gaza sejatinya dilakukan untuk menghancurkan fisik dan mental mereka. Sungguh dunia tak mampu menghentikan kejahatan entitas Zionis ini, kecuali hanya dengan sedikit bantuan kemanusiaan. Ini semua terjadi karena umat Islam telah kehilangan perisai yang melindungi, yaitu khilafah Islam.
Semenjak runtuhnya khilafah, tidak ada lagi pengiriman militer untuk berjihad melindungi Palestina dari musuh. Tidak ada satu pun penguasa Muslim di lebih dari 50 negara yang menggelorakan jihad untuk menumpas penjajah Yahudi dan mengusirnya dari bumi Palestina.
Berbeda halnya seperti pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah menggelorakan jihad untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Romawi Timur (Bizantium) melalui perang Yarmuk yang dipimpin Pedang Allah yang Terhunus Khalid bin Walid ra. pada 636 M.
Fondasi jihad ke Baitulmaqdis telah diletakkan oleh Rasulullah saw. dengan pengiriman ekspedisi jihad Usamah bin Zaid pada 632 M ke wilayah Balqa (Yordania) yang dikuasai Bizantium.
Atau pada masa Kekhilafahan Umayah dan Abbasiyah senantiasa melindungi Palestina dengan memenuhi kebutuhan rakyatnya dan melakukan jihad berupa ribath (menjaga perbatasan) dari serangan tentara Salib.
Baitulmaqdis sempat jatuh dalam hegemoni dan penjajahan pasukan Salib pada 1099 M hingga umat Islam diusir dari wilayah tersebut. Lalu Shalahudin al-Ayubi melakukan jihad dengan mengepung Baitulmaqdis dan berhasil membebaskannya dari tentara Salib pada 1187 M.
Sungguh derita anak-anak Palestina harus segera diakhiri, tak sekedar diterapi, tapi negeri mereka harus dibebaskan dari penjajahan Israel. Kejahatan entitas zionis harus dilawan dengan jihad fii sabiilillah. Untuk itu dibutuhkan institusi khilafah yang akan mengirimkan tentaranya untuk membebaskan Palestina.
Maka penegakan khilafah ini hendaknya menjadi agenda global umat Islam. Umat harus mendukung upaya penegakan khilafah dengan dakwah pemikiran yang bersifat politik.
Tidak cukup hanya mendukung, umat Islam juga harus segera terjun dan bergerak dalam perjuangan penegakan khilafah bersama kelompok dakwah Islam ideologis. Inilah bukti keseriusan kita menolong Muslim Gaza dan Palestina. []
Oleh: Nita Nur Elipah
(Penulis Lepas)

0 Komentar