Topswara.com -- Presiden RI, Prabowo Subianto, mengadakan reshuffle kabinet pada tanggal 27 April 2026. Ini merupakan reshuffle yang kelima kalinya sejak beliau menjabat menjadi presiden RI selama satu setengah tahun.
Dalam reshuffle tersebut beliau melantik enam pejabat menteri dan pejabat setingkat menteri di Istana Negara Jakarta. Dasar hukum pelantikannya yaitu Keputusan Presiden No. 50, 51, 52 dan 53 tahun 2026. CNBC Indonesia, (Senin, 27-4-2026).
Reshuffle hendaknya bukan sekedar pergantian personil tetapi bahwa negara mendengar keresahan masyarakat dan menjawab dengan respon pembaharuan agar dapat mengatasi seluruh persoalan publik yang muncul saat ini.
Namun yang terjadi tampaknya kontradiksi. Bukan koreksi tepat sasaran yang dilakukan, melainkan memberikan kursi kekuasaan pada sejumlah figur -figur lama yang tidak kompatibel di pusaran pemerintahan.
Reshuffle kabinet yang tepat sasaran akan memiliki tujuan antara lain yaitu meningkatkan efektifitas pemerintahan, menumbuhkan kepercayaan masyarakat kepada negara serta dapat meningkatkan kepercayaan investor asing untuk menanamkan modal di tanah air.
Namun apa daya kabinet Merah Putih tersebut tidak dibentuk secara efektif, efisien, profesional dan proporsional karena ada kepentingan internal di dalamnya. Unsur bagi-bagi kekuasaan sangat terlihat jelas di dalamnya.
Begitulah di dalam sistem demokrasi kapitalis. Para partai pemenang berkoalisi dalam menentukan isi kabinet pemerintahan. Masing-masing partai politik meminta untuk duduk pada bagian strategis di pemerintahan. Dan pejabat yang terpilih mewakili partai akan berintegritas pada partainya bukan pada masyarakat.
Sehingga yang terjadi saat ini personil-personil yang mendapatkan kursi kekuasaan adalah mereka yang tidak cukup handal dalam mengatur negara serta tidak mampu memecahkan masalah ekonomi yang terjadi di masyarakat.
Alhasil para pejabat yang terpilih tersebut tidak dapat mengatasi berbagai persoalan yang terjadi saat ini antara lain seperti:
tekanan ekonomi rumah tangga karena adanya gejolak harga bahan pangan seperti beras, minyak goreng, ikan, ayam dan lain-lain.
Belum lagi kenaikan BBM non subsidi yang mulai diberlakukan pada tanggal 18 April 2026 yang lalu. Sehingga kenaikan BBM industri menjadikan kenaikan ongkos pada distribusi. Akibatnya pedagang menyesuaikan harga jual komoditas. Dan pada akhirnya konsumen yang menanggung beban kenaikan harga-harga tersebut.
Pelemahan nilai mata uang Rupiah juga terjadi saat ini. Nilai Rupiah menurun pada kisaran Rp. 17.200 - Rp. 17.300 per Dollar AS sepanjang bulan April 2026. Hal ini berdampak nyata pada usaha impor bahan baku, komponen industri, pupuk dan obat-obatan.
Hal-hal tersebut di atas merupakan keniscayaan terjadi di dalam sistem demokrasi kapitalis. Negara tidak benar-benar hadir di tengah-tengah umat. Negara hanya hadir sebagai regulator bukan periayah umat.
Berbeda dengan sistem Islam. Negara dalam sistem Islam akan memilih personil-personil yang handal dan kompeten dalam meriayah umat. Karena mereka akan dipilih melalui fit and proper test.
Hal ini pernah dikisahkan di zaman Rasulullah Saw ketika sahabat Abu Dzar Al Ghifari meminta jabatan kepada Rasulullah Saw untuk menjadi seorang gubernur maka Rasulullah Saw menolaknya sambil menepuk pundak Abu Dzar dan mengatakan kepada sahabatnya tersebut, "kamu adalah orang yang lemah dalam memimpin. Jabatan adalah amanah dan pada hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajibannya dengan benar ." Kisah tersebut tercantum dalam hadis riwayat Imam Muslim.
Di dalam sistem Islam tidak akan terjadi inflasi pejabat seperti saat ini karena personil yang dipilih oleh khalifah adalah mereka yang ahli pada bidangnya masing-masing (the right man on the right place). Sehingga mereka dapat mencegah masalah sebelum masalah itu terjadi.
Di dalam sistem Islam tidak akan ada koalisi. Karena khalifah akan memilih pembantu-pembantunya berdasarkan ketakwaannya kepada Allah SWT.
Sehingga para pejabat-pejabat tersebut akan menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Karena menyadari bahwa mereka diberikan amanah dan pada hari kiamat amanah tersebut akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.
Hanya sistem Islam yang ideal dan mampu mengatasi dan menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan.
Wallahu a'lam bishawab.
Oleh: Ardiana
Aktivis Muslimah

0 Komentar