Topswara.com -- Kajian Islam sekaligus Halal Bihalal bersama Ustadzah Dina Marlisa, S.Pd., Pengasuh MT dan RQ Al-Mahmud mengangkat tema “Syawal, Istiqomah dalam Ketaatan Hakiki” di Masjid Al-Mahmud, Pengasinan, Depok. Rabu, 08/04/2026.
Dalam pembukaannya, Dina menjelaskan suasana keberkahan yang Allah turunkan selama Sepanjang bulan Ramadhan.
“Jalan ramai, lihat orang dagang laris. Walaupun harga melonjak, kenapa? Karena Allah turunkan rahmat dan keberkahan di siang bulan Ramadhan agar semua makhluk-Nya mendapatkan rezeki,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama Ramadhan bukan sekadar meningkatkan ibadah selama satu bulan. “Tujuan Ramadhan, tujuan shaum bukan melahirkan ketaatan pada saat Ramadhan saja, tapi menyemai ketakwaan sepanjang bulan. Jadi ketika keluar Ramadhan, kita tetap melakukan aktivitas seperti di bulan Ramadhan,” sampainya.
Namun, ia menyoroti fenomena yang terjadi di tengah masyarakat setelah Ramadhan. “Anak-anak libur ngajinya di rumah. Yang lebih ramai sekarang syawalan itu di tempat hiburan. Jamaahnya dari masjid pindah ke mall. Boleh, bukan tidak boleh, namun tidak melupakan yang lainnya,” katanya.
Menurutnya, perbedaan kondisi tersebut dipengaruhi oleh keadaan hati manusia. “Karena manusia itu punya tiga kondisi hati,” jelasnya.
Ia memaparkan, pertama adalah hati yang terkunci sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 12–16 tentang perilaku orang munafik. Kedua, hamba Ramadhan, yakni mereka yang beribadah maksimal hanya saat Ramadhan.
“Begitu selesai, kembali lagi dengan rutinitas biasa,” ujarnya. Ketiga, pecinta sejati yang mempersiapkan Ramadhan jauh-jauh hari. “Sekarang Syawal, kita persiapkan 11 bulan lagi untuk bertemu Ramadhan. Allahumma ballighna Ramadhan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dina mengingatkan pentingnya merawat keimanan setelah Ramadhan. Ia menekankan bahwa ketaatan membutuhkan kesabaran dan keyakinan terhadap pertolongan Allah.
Dalam sesi interaktif, ia mengajak jamaah mengikuti permainan sederhana yang berlawanan dengan instruksi. Dari situ ia memberikan perumpamaan. “Fitrahnya telinga ya telinga, hidung ya hidung. Tetapi karena nurut perintah, yang salah tetap dilakukan. Nah, itulah hidup hari ini. Kita lihat pergaulan salah, tetapi karena sudah biasa, jadi dianggap benar,” jelasnya.
Ia menilai kondisi tersebut berkaitan dengan pemahaman sekularisme dan moderasi beragama yang memisahkan agama dari kehidupan. “Agama itu hanya KTP. Tingkah laku tidak diatur. Agama sebatas ritual. Ramadhan masjid ramai, karena menganggap ibadah hanya di masjid,” tegasnya.
Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 2, ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah hudan (petunjuk) dan furqan (pembeda antara yang hak dan batil). “Ketika aturan tidak sesuai, kita tidak berani menentang, ikut saja. Itulah selemah-lemahnya iman,” katanya.
Lebih lanjut, ia menggambarkan konsep menjaga ketakwaan seperti menanam tanaman. “Dari bibit tumbuh akar, akar inilah tujuan. Yaitu akidah yang kokoh yang harus dirawat untuk meraih ridha Allah. Disiram dengan rasa takut dan harap. Kemudian tumbuhlah batang dan batang inilah Islam kaffah. Lalu cabang dan tunas adalah amal. Daunnya al-bara’, dan durinya adalah kesabaran,” paparnya.
Ia juga mengingatkan bahwa menjaga keistikamahan bukan perkara mudah. “Memegang Islam itu seperti memegang bara api. Ketika dipegang panas, ketika dilepas padam. Dunia ini tempat pengorbanan,” ujarnya.
Menurutnya, agar ketaatan dapat terus terjaga, diperlukan aturan yang sesuai dengan fitrah manusia. “Ketika aturan ini diterapkan secara individu, masyarakat, dan negara, maka semua akan selaras,” tegasnya.
Sebagai penutup, Dina mengajak jamaah untuk terus berpegang pada ajaran Islam dan memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. “Syawal bukan akhir ketaatan atau pembalasan setelah Ramadhan, tapi awal untuk menjaga ketaatan hingga bertemu Ramadhan berikutnya,” pungkasnya.[]Istiqomah

0 Komentar